Alarm Hantavirus di Tengah Rapuhnya Sanitasi: PR Lama Kesehatan Lingkungan Indonesia

Alarm Hantavirus di Tengah Rapuhnya Sanitasi: PR Lama Kesehatan Lingkungan Indonesia

Indonesia menghadapi ancaman hantavirus di tengah sanitasi buruk. Pemerintah memperketat pengawasan dan mitigasi, namun masalah utama adalah lingkungan dan populasi tikus.

(Bisnis.Com) 15/05/26 12:00 221694

Bisnis.com, JAKARTA – Ketika dunia belum sepenuhnya pulih dari trauma pandemi Covid-19, Indonesia kembali dihadapkan pada alarm penyakit menular baru.

Kasus hantavirus tipe hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang terdeteksi pada kapal pesiar MV Hondius langsung memicu kewaspadaan pemerintah karena varian tersebut memiliki tingkat fatalitas global hingga 60%.

Kementerian Kesehatan mulai memperketat pengawasan pelaku perjalanan internasional, memperkuat kapasitas laboratorium, hingga mengaktifkan kembali sistem mitigasi berbasis pengalaman pandemi.

Namun di balik langkah-langkah teknis tersebut, para epidemiolog mengingatkan bahwa ancaman terbesar justru masih bersumber dari persoalan lama yang belum pernah benar-benar selesai: sanitasi lingkungan yang buruk, populasi tikus yang tidak terkendali, dan lemahnya budaya kesehatan publik di Indonesia.

Kasus hantavirus yang terdeteksi pada kapal pesiar MV Hondius menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit zoonosis belum berhenti meski pandemi Covid-19 telah berlalu. Pemerintah kini bergerak cepat menyiapkan langkah mitigasi untuk memastikan kasus tersebut tidak berkembang menjadi wabah yang lebih luas.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni menegaskan pemerintah berharap kasus hantavirus tetap terbatas di lingkungan kapal dan tidak berkembang menjadi pandemi global.

“Kita harap bahwa itu tidak menjadi pandemi dan cukup di klaster MV Hondius tersebut,” ujar Andi usai konferensi pers di Auditorium Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).

Pernyataan itu mencerminkan kehati-hatian pemerintah dalam membaca potensi ancaman penyakit menular baru. Terlebih, pengalaman pandemi Covid-19 masih membekas kuat dalam memori publik maupun birokrasi kesehatan nasional.

Namun berbeda dengan Covid-19 yang menyebar melalui transmisi antarmanusia secara masif, hantavirus memiliki pola penularan yang lebih spesifik. Virus ini umumnya ditularkan melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Meski begitu, varian hantavirus pulmonary syndrome (HPS) dikenal memiliki tingkat fatalitas yang jauh lebih tinggi dibanding tipe lain.

Menurut Andi, tipe HPS yang ditemukan pada kasus MV Hondius memiliki fatalitas global sekitar 60%.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding tipe hantavirus hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang selama ini lebih umum ditemukan di Indonesia dengan fatalitas sekitar 5% hingga 15%.

Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat memang menunjukkan hantavirus pulmonary syndrome termasuk penyakit dengan tingkat kematian tinggi. Penyakit ini pertama kali menarik perhatian global setelah wabah di wilayah Four Corners, Amerika Serikat, pada awal 1990-an.

Gejala awal HPS biasanya menyerupai flu biasa seperti demam, nyeri otot, dan kelelahan. Namun dalam beberapa hari, kondisi pasien dapat memburuk drastis akibat gangguan pernapasan akut karena cairan memenuhi paru-paru.

Karena belum ada pengobatan spesifik maupun vaksin efektif untuk HPS, deteksi dini dan pencegahan menjadi faktor paling penting.

Menyadari risiko tersebut, Kementerian Kesehatan mulai memperkuat sistem mitigasi nasional. Salah satu fokus utama pemerintah adalah penguatan kapasitas laboratorium untuk mendeteksi infeksi hantavirus secara cepat.

“Untuk laboratorium tentunya kapasitas laboratorium, PCR maupun ELISA itu kita lengkapi,” kata Andi.

PCR dan ELISA merupakan dua metode pemeriksaan utama yang digunakan dalam identifikasi penyakit menular berbasis virus. PCR digunakan untuk mendeteksi materi genetik virus, sementara ELISA berfungsi mengidentifikasi antibodi dalam tubuh pasien.

Andi mengatakan pengalaman pandemi Covid-19 menjadi modal penting dalam membangun kesiapan sistem respons penyakit menular di Indonesia.

Selama pandemi Covid-19, Indonesia memang melakukan ekspansi besar-besaran terhadap kapasitas laboratorium molekuler nasional. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah laboratorium PCR di Indonesia meningkat tajam selama pandemi, dari hanya puluhan laboratorium menjadi ratusan fasilitas yang tersebar di berbagai daerah.

Alarm Hantavirus di Tengah Rapuhnya Sanitasi: PR Lama Kesehatan Lingkungan Indonesia

Ancaman yang Berasal dari Tikus dan Sanitasi Buruk

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan sendiri mengakui bahwa penyakit menular seperti hantavirus sangat berkaitan erat dengan kondisi lingkungan.

Oleh karena itu pemerintah mengimbau masyarakat meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menjaga kebersihan rumah dan kawasan permukiman untuk mencegah berkembangnya populasi tikus.

Selain masyarakat umum, pekerja yang beraktivitas di lingkungan berisiko tinggi juga diminta meningkatkan kewaspadaan.

“Penggunaan masker, boot, kemudian juga handscoon atau glove itu harus,” kata Andi.

Kelompok pekerja seperti petugas kebersihan, pengelola sampah, pekerja saluran air, hingga pekerja pelabuhan memang termasuk kategori berisiko tinggi terpapar penyakit zoonosis berbasis rodent.

Selain penguatan mitigasi domestik, pemerintah juga mulai memperketat pengawasan pelaku perjalanan internasional.

Andi mengatakan perhatian khusus diberikan kepada penumpang dari kawasan Amerika Selatan, termasuk Argentina, yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi terkait kasus hantavirus.

Pengawasan dilakukan melalui sistem digital kesehatan All Indonesia yang digunakan pelaku perjalanan internasional saat masuk ke Indonesia.

Penggunaan sistem digital kesehatan ini merupakan salah satu warisan transformasi sistem pengawasan pascapandemi Covid-19. Pemerintah kini memiliki sistem pencatatan perjalanan yang lebih terintegrasi dibanding era sebelum pandemi.

Selain itu, pemerintah juga masih memanfaatkan thermal scanner di pintu masuk internasional untuk mendeteksi penumpang dengan gejala demam atau gangguan pernapasan.

Menurutnya, apabila ditemukan indikasi penyakit menular tertentu, penumpang dapat langsung dirujuk ke rumah sakit rujukan pemerintah.

Andi juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) yang tersebar di berbagai pintu masuk internasional.

Lembaga yang sebelumnya dikenal sebagai Kantor Karantina Kesehatan itu memiliki tugas utama mencegah masuknya penyakit menular dari luar negeri.

Namun para epidemiolog mengingatkan bahwa kesiapan laboratorium bukan satu-satunya faktor penting dalam menghadapi ancaman hantavirus.

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono menilai fokus utama seharusnya bukan sekadar pemeriksaan laboratorium, melainkan pencegahan di level lingkungan.

“Yang paling penting itu bukan laboratorium, bukan rumah sakit, bukan puskesmas. Yang paling penting itu pencegahan,” ujar Pandu.

Menurutnya, sumber persoalan utama justru berada pada populasi tikus yang masih tersebar luas di lingkungan permukiman, pasar, kantor, restoran, hingga pusat perbelanjaan.

“Tikus sebagai pembawa atau rodent itu ada di mana-mana. Ada di pasar, ada di kantor, ada di rumah, ada di mal, ada di restoran, ada di dapur,” katanya.

Pandu mengingatkan bahwa selama populasi tikus tidak dikendalikan, ancaman penyakit zoonosis akan terus muncul sewaktu-waktu.

Pernyataan tersebut menyoroti persoalan mendasar kesehatan lingkungan Indonesia yang selama ini belum terselesaikan. Data World Bank menunjukkan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sanitasi dan sampah perkotaan.

Kementerian PUPR sebelumnya mencatat akses sanitasi aman di Indonesia masih belum merata, terutama di kawasan padat penduduk dan daerah tertinggal. Sementara pengelolaan sampah di banyak kota besar juga masih menghadapi persoalan serius, mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga perilaku masyarakat.

Dalam konteks itulah Pandu menilai pemerintah seharusnya mengarahkan energi lebih besar pada pengendalian lingkungan dibanding sekadar menenangkan publik melalui langkah-langkah administratif.

Ia menilai pengawasan kesehatan lingkungan di fasilitas publik seperti restoran, hotel, pusat perbelanjaan, dan apartemen harus diperketat.

Menurut Pandu, Dinas Kesehatan harus lebih aktif memantau sanitasi dapur dan kebersihan tempat umum.

Pandangan Pandu memperlihatkan bahwa ancaman hantavirus sesungguhnya bukan sekadar persoalan virus baru, melainkan refleksi dari lemahnya tata kelola kesehatan lingkungan perkotaan Indonesia.

Pandu Riono bahkan secara terang-terangan mengkritik kecenderungan pemerintah yang terlalu fokus pada langkah-langkah simbolik.

Menurut Pandu, pengendalian populasi tikus dan sanitasi lingkungan seharusnya menjadi prioritas utama.

Meski demikian, sejumlah ahli menilai kesiapan Indonesia masih menghadapi banyak pekerjaan rumah, terutama di daerah.

Alarm Hantavirus di Tengah Rapuhnya Sanitasi: PR Lama Kesehatan Lingkungan Indonesia

Pelajaran Covid-19 dan Sistem Kesehatan yang Masih Pincang

Ketua Umum Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia Trubus Rahardiansah mengatakan sistem antisipasi penyakit menular Indonesia memang mengalami kemajuan dibanding masa awal pandemi Covid-19, tetapi belum sepenuhnya optimal.

Menurutnya, pola respons pemerintah masih cenderung reaktif.

Trubus mengakui koordinasi pusat dan daerah saat ini lebih baik dibanding masa pandemi Covid-19 awal. Namun ia menilai kapasitas respons antarwilayah masih timpang.

“Mungkin untuk Jakarta dan kota-kota besar agak lebih siap. Tapi kalau provinsi-provinsi atau daerah kategori 3T belum,” ujarnya.

Persoalan geografis Indonesia menjadi tantangan besar dalam membangun sistem surveillance kesehatan nasional yang benar-benar merata.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan tingkat akses layanan kesehatan yang sangat bervariasi antarwilayah.

Karena itu, meski sistem digital kesehatan nasional berkembang pesat pascapandemi, efektivitas implementasi di lapangan masih sangat dipengaruhi kesiapan infrastruktur daerah.

Trubus menilai reformasi kesehatan pascapandemi memang menghasilkan kemajuan tertentu.

“Sekarang lebih terintegrasi karena pemerintah juga sudah menggontorkan anggaran cukup besar terkait deteksi dini,” katanya.

Namun ia menegaskan tantangan terbesar justru berada pada aspek sosial dan budaya masyarakat. Menurut Trubus, kesadaran kesehatan masyarakat Indonesia masih sangat beragam.

Karena itu ia menilai pemerintah perlu membangun komunikasi risiko yang lebih luas melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas sosial.

#hantavirus #sanitasi-buruk #kesehatan-lingkungan #hantavirus-pulmonary-syndrome #kasus-hantavirus #tikus-pembawa-virus #penyakit-zoonosis #pengawasan-kesehatan #deteksi-dini-hantavirus #fatalitas-hant

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260515/106/1973704/alarm-hantavirus-di-tengah-rapuhnya-sanitasi-pr-lama-kesehatan-lingkungan-indonesia