Bisnis.com, JAKARTA — Munculnya kasus hantavirus yang kembali menjadi sorotan internasional belakangan ini mengingatkan bahwa virus tersebut sebenarnya bukan ancaman baru. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat jejak paparan hantavirus di Indonesia sudah ada sejak puluhan tahun lalu dengan risiko terhadap publik yang relatif rendah.
Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga, dr Dominicus Husada, mengatakan masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Menurut dia, hantavirus memang perlu diwaspadai, tetapi risikonya terhadap publik secara umum relatif rendah.
“Gambar yang beredar di media sosial menurut saya terlalu menakutkan. Kita tidak setakut itu terhadap hanta, tetapi tentu jangan sampai lengah,” ujarnya dalam pemaparan, Jumat (8/5/2026).
Menurut Dominicus, hantavirus bukan virus baru. Virus ini telah lama dikenal dalam dunia medis dan umumnya ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus.
Penularan paling sering terjadi lewat partikel virus dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terhirup manusia. Risiko paparan biasanya meningkat di ruang tertutup, terutama bila ada kontaminasi dari hewan pengerat yang membawa virus.
“Hampir semua hantavirus berkaitan dengan tikus. Pada hewan itu, virus bisa menetap lama tanpa gejala, tetapi tetap dapat menular,” jelasnya.
Secara global, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan kasus hantavirus sempat cukup tinggi sebelum pandemi COVID-19. Tren tertinggi tercatat pada 2017 dengan 4.362 kasus, disusul 2019 sebanyak 4.194 kasus.
Setelah itu, jumlah kasus turun tajam. Pada 2021 hanya tercatat 67 kasus, lalu 116 kasus pada 2022, 100 kasus pada 2023, 72 kasus pada 2024, dan 328 kasus sepanjang 2025.
Sampai minggu ke-16 tahun 2026, jumlah kasus global tercatat 59 kasus. Secara kumulatif untuk periode 2025 hingga 2026 minggu ke-16, tercatat 387 kasus terkonfirmasi di 10 negara.
Negara-negara tersebut meliputi Argentina, Chile, Bolivia, Brazil, Panama, Paraguay, Uruguay, Amerika Serikat, Taiwan, dan Indonesia. Faktor risiko utama yang terus dicatat tetap sama, yakni kontak dengan rodensia yang terinfeksi.
Di tengah sorotan global itu, Dominicus menegaskan Indonesia sebenarnya telah lama mencatat keberadaan hantavirus. Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus hantavirus sejak 2015 yang tersebar di sembilan provinsi.
Kasus terbanyak ditemukan di Jakarta dan Yogyakarta, masing-masing enam kasus. Sisanya tersebar di Jawa Barat, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.
“Artinya, hantavirus bukan barang baru di Indonesia. Kita sudah pernah mencatat kasusnya, tetapi memang tidak menyebar luas,” tegasnya.
Data penelitian AFIRE pada 2013–2016 juga menunjukkan paparan hantavirus sudah ditemukan di berbagai kota besar di Indonesia. Dari 327 sampel yang diuji, terdapat 38 kasus positif dengan tingkat positivitas 11,6 persen.
Prevalensi tertinggi tercatat di Denpasar sebesar 16,3 persen. Setelah itu, Surabaya 13,6 persen, Makassar 13,5 persen, dan Semarang 13,4 persen.
Sementara itu, prevalensi di Jakarta tercatat 11,1 persen, Bandung 6,7 persen, dan yang terendah di Yogyakarta sebesar 3,2 persen.
Penelitian yang sama juga menunjukkan paparan lebih banyak ditemukan pada orang dewasa dibanding anak-anak. Pada kelompok dewasa, tingkat positivitas mencapai 13,5 persen, sedangkan anak-anak 6 persen.
Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki tercatat memiliki angka paparan lebih tinggi. Tingkat positivitas pada laki-laki mencapai 15,6 persen, sedangkan perempuan 6,9 persen.
Menurut Dominicus, temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa hantavirus di Indonesia bersifat sporadis. Meski kasusnya ada, penyebarannya tidak masif seperti penyakit pernapasan menular lain.
“Risiko terhadap publik relatif rendah. Ini bukan Covid, bukan influenza. Kalau tidak kontak erat atau tidak terpapar sumber infeksinya, kemungkinan tertular juga kecil,” pungkasnya.
IDAI mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir ataupun panik berlebihan menyikapi kasus hantavirus. Kewaspadaan tetap diperlukan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan hewan pengerat.
“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir atau panik berlebihan. Tetap waspada, jaga kebersihan lingkungan, hindari kontak dengan tikus atau kotorannya, dan bila ada keluhan setelah terpapar faktor risiko segera periksa ke fasilitas kesehatan,” tutupnya.