Penjualan Melemah pada Kuartal I/2026, SIDO Masih Optimistis Potensi Industri Herbal
Penjualan SIDO melemah di Kuartal I/2026, namun tetap optimistis industri herbal tetap positif berkat tren kesehatan.
(Bisnis.Com) 11/05/26 23:09 218390
Bisnis.com, JAKARTA — PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) mencatat pelemahan kinerja pada kuartal I/2026, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih. Meski demikian, perseroan menilai prospek industri herbal nasional tahun ini masih tetap positif seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan konsumsi produk herbal.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan hingga 31 Maret 2026, pendapatan SIDO tercatat sebesar Rp640,5 miliar, melemah hingga 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp789,105 miliar.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk SIDO juga menyusut dari Rp232,94 miliar pada kuartal I/2025 menjadi Rp147,213 miliar per kuartal I/2026.
Direktur Utama SIDO David Hidayat menjelaskan pelemahan kinerja pada awal tahun ini terutama dipengaruhi proses normalisasi persediaan di tingkat distributor agar lebih sehat dan sesuai dengan permintaan riil konsumen.
“Selain faktor tersebut, kinerja perseroan juga terdampak normalisasi harga essential oil yang sebelumnya berada pada level tinggi tahun lalu. Pembatasan logistik selama periode lebaran yang berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya juga turut memengaruhi distribusi produk,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (11/5/2026).
Meski demikian, perseroan memastikan permintaan terhadap produk-produk herbal Sido Muncul masih tetap kuat. Produk Tolak Angin bahkan disebut masih memimpin pasar herbal nasional dengan pangsa pasar sekitar 72%.
Di tengah tekanan jangka pendek tersebut, Sido Muncul tetap optimistis terhadap prospek industri herbal sepanjang 2026. Perseroan menilai tren konsumsi herbal di Indonesia masih akan terus berkembang.
“Prospek industri herbal tetap positif. Katalis utamanya adalah meningkatnya kesadaran kesehatan, perubahan cuaca, mobilitas masyarakat, dan kuatnya budaya konsumsi herbal di Indonesia,” lanjutnya.
Namun demikian, sejumlah tantangan masih membayangi industri herbal tahun ini. Mulai dari daya beli masyarakat yang lebih selektif hingga kenaikan biaya operasional seperti kenaikan biaya kemasan, energi, logistik, serta volatilitas global.
Untuk memperkuat kinerja pada tahun ini, Sido Muncul menyiapkan sejumlah strategi. Perseroan akan memperkuat pasar domestik melalui peluncuran platform edukasi herbal bernama Sido HerbalPedia.
Platform tersebut dirancang untuk meningkatkan kesadaran, kepercayaan, dan keterlibatan konsumen terhadap manfaat herbal Indonesia. Selain itu, perusahaan juga terus memperkuat riset ilmiah terhadap produk-produknya.
Tidak hanya fokus di pasar domestik, Sido Muncul juga membidik ekspansi internasional, khususnya di kawasan Asean dan Afrika yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan pasar herbal cukup besar.
Di sisi efisiensi, perusahaan akan melakukan optimalisasi di berbagai lini, mulai dari produksi, kemasan, pengelolaan pemasok, iklan promosi, hingga rantai pasok.
Senada pemilik herbal merek Kutus-Kutus Fazli Hasniel Sugiharto menilai tren wellness berbasis herbal mulai berkembang melalui komunitas keluarga dan ibu muda. Menurutnya pengembangan bisnis herbal sangat bergantung pada relasi personal dan pendekatan komunitas.
Dengan perkembangan komunitas wellness berbasis herbal tersebut dinilai menjadi salah satu sinyal meningkatnya minat masyarakat terhadap produk herbal lokal.
“Dengan dukungan kekayaan biodiversitas Indonesia dan tren hidup sehat yang terus berkembang, industri herbal nasional diproyeksikan memiliki potensi pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun mendatang,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri kimia, farmasi, dan obat tradisional termasuk herbal tumbuh 8,35% sepanjang 2025. Selain itu, ekspor tanaman obat, aromatik, dan rempah Indonesia juga mengalami peningkatan dari sekitar US$222,8 juta pada 2012 menjadi US$291,8 juta pada 2023.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar sebelumnya menyebut peluang pengembangan industri herbal nasional masih sangat besar. Dia mengatakan pasar obat asli Indonesia berpotensi mencapai Rp350 triliun per tahun.
Namun, hingga 2025 realisasi nilai ekonomi industri tersebut baru mendekati Rp2 triliun. Kondisi itu menunjukkan ruang pertumbuhan industri herbal dan wellness domestik masih terbuka lebar, baik dari sisi konsumsi maupun ekspor.
#penjualan-melemah #kuartal-i-2026 #sido-optimistis #industri-herbal #prospek-herbal #kesadaran-kesehatan #konsumsi-herbal #pasar-herbal-nasional #produk-tolak-angin #tren-konsumsi-herbal #tantangan-in