Produsen Cat Avian (AVIA) Bersiap Hadapi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Produsen Cat Avian (AVIA) Bersiap Hadapi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Produsen cat AVIA menghadapi pelemahan rupiah dengan mitigasi biaya bahan baku, penyesuaian harga, dan kerja sama pemasok.

(Bisnis.Com) 13/05/26 14:10 220186

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah mulai memberi tekanan terhadap industri cat nasional. Meskipun dampaknya belum terasa signifikan, pelaku usaha di sektor ini berupaya melakukan mitigasi.

Head of Investor RelationPT Avia Avian Tbk. (AVIA)Andreas Timothy Hadikrisno mengatakan pelemahan rupiah tentu akan memengaruhi biaya bahan baku perseroan, meski efeknya baru akan terlihat sekitar satu kuartal mendatang.

“Dampak pastinya akan berpengaruh ke biaya bahan baku Avia, tetapi akan berdampaknya lagging sekitar satu kuartal ke belakang karena inventory raw material days kami sekitar dua sampai tiga bulan,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (14/5/2026).

Andreas menjelaskan margin kotor konsolidasi perseroan selama ini relatif stabil di kisaran 40% hingga 44%, termasuk pada periode lonjakan harga minyak saat pandemi Covid-19. Stabilitas itu ditopang oleh penyesuaian harga jual secara bertahap, buffer persediaan, hingga efisiensi operasional dan kemampuan internal pengadaan bahan baku.

Kendati demikian, ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz hadir memperburuk kondisi rantai pasok global. Gangguan pasokan dan kenaikan harga terjadi di sejumlah bahan baku utama, diperparah oleh pelemahan rupiah terhadap dolar AS maupun yuan China.

Sebagai langkah mitigasi di tengah situasi ini, perseroan mengamankan pasokan melalui kerja sama jangka panjang dengan pemasok, meningkatkan level persediaan, serta mengatur prioritas pengiriman bahan baku. Saat ini, ketersediaan bahan baku disebut telah aman hingga Juni 2026.

Avia juga melakukan pembelian dolar AS secara rutin setiap pekan sebagai persiapan pembayaran bahan baku impor. Selain itu, perseroan melakukan penyesuaian harga jual secara bertahap kepada konsumen.

Andreas mengungkapkan perusahaan telah dua kali menaikkan harga produk sepanjang tahun ini.

“Kenaikan pertama dilakukan pada 6 April sebesar 7% sampai 10%, lalu kenaikan kedua pada 11 Mei sebesar 5%,” katanya.

Seiring upaya mitigasi, industri cat juga berharap adanya dukungan kebijakan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional, termasuk pengendalian inflasi.

Dia mengatakan kebijakan yang mendorong sektor properti akan berdampak positif terhadap permintaan cat dan bahan bangunan. Salah satu program yang dinilai potensial ialah target pembangunan 3 juta rumah.

“Program ini berpotensi mendorong pertumbuhan sektor properti yang pada akhirnya akan meningkatkan permintaan produk cat dan bahan bangunan lainnya,” sebut Andreas.

Perseroan memandang program tersebut sebagai peluang strategis untuk meningkatkan permintaan pada segmen cat dekoratif dan pelapis, baik untuk pembangunan maupun renovasi hunian. Dalam jangka panjang, implementasi program perumahan juga diyakini dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional dan industri turunannya.

“Oleh karena itu, perseroan berharap program tersebut dapat terealisasi dengan baik dan berjalan secara berkelanjutan,” tutur Andreas.

Nilai tukar rupiah sendiri diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (13/5/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup melemah hingga menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.

Mengutip data RTI Infokom, rupiah ditutup melemah 0,66% atau 115 poin ke level Rp17.529 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026). Adapun pada saat bersamaan, indeks dolar AS terpantau menguat 0,31% ke posisi 98,25.

#produsen-cat #nilai-tukar-rupiah #industri-cat-nasional #biaya-bahan-baku #avia-avian #harga-jual-cat #ketegangan-geopolitik #rantai-pasok-global #pasokan-bahan-baku #harga-bahan-baku #pembelian-dolar

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260513/257/1973501/produsen-cat-avian-avia-bersiap-hadapi-pelemahan-nilai-tukar-rupiah