OJK Bicara Potensi Pasar Modal RI Turun ke Frontier Market Selepas Rebalancing MSCI
OJK menyoroti potensi pasar modal Indonesia turun ke frontier market usai rebalancing MSCI. Reformasi transparansi diharapkan menjaga pengakuan MSCI.
(Bisnis.Com) 13/05/26 16:10 220371
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara mengenai potensi pasar modal Indonesia turun kelas menjadi frontier market selepas tinjauan yang dilakukan oleh penyedia indeks global MSCI Inc.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menegaskan regulator berharap MSCI terus memberikan pengakuan terhadap langkah reformasi transparansi yang dilakukan otoritas pasar modal Indonesia.
Menurutnya, salah satu poin penting yang selama ini menjadi perhatian penyedia indeks global adalah kecukupan informasi mengenai struktur kepemilikan saham, termasuk terkait free float hingga konsentrasi kepemilikan saham atau high shareholding concentration (HSC).
“Sebetulnya yang terpenting bagi para index provider, mereka harus memiliki kecukupan informasi untuk memastikan dan menghitung bagian saham-saham yang akan mereka libatkan dalam perhitungan indeksnya,” ujarnya.
Hasan menjelaskan bahwa keterbukaan data terkait kepemilikan saham, tipe investor, hingga konsentrasi kepemilikan kini telah disediakan oleh regulator dan self-regulatory organization (SRO).
Dengan langkah tersebut, OJK berharap MSCI melanjutkan pengakuan terhadap reformasi yang dilakukan Indonesia dan pada akhirnya kembali memperlakukan pasar modal domestik setara dengan negara lain dalam proses penilaian indeks global.
“Pada saatnya tentu kita berharap terjadi pemulihan. Artinya tentu pada saatnya kita diperlakukan sama seperti yang lain. Tentu tidak ada lagi upaya freeze tadi atau pembekuan [saham],” katanya.
Dia menambahkan, reformasi transparansi dan integritas pasar modal yang dilakukan saat ini bukan semata-mata respons jangka pendek terhadap evaluasi MSCI, melainkan bagian dari agenda reformasi pasar modal yang akan terus dijalankan ke depan.
Dengan begitu, saham-saham yang masuk ke indeks global juga diharapkan merupakan emiten dengan tingkat transparansi dan kredibilitas yang tinggi.
“Jadi kita tidak akan surut. Kalaupun nanti masuk, yang masuk itu adalah yang sudah dinilai kredibel dan terbukti kepemilikannya diakui,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menilai kondisi saat ini merupakan konsekuensi jangka pendek dari reformasi yang tengah dijalankan regulator dan pelaku pasar modal domestik.
Adapun, sebelumnya MSCI menyoroti isu transparansi dan aksesibilitas pasar modal Indonesia, termasuk terkait kepemilikan saham yang terkonsentrasi, yang dinilai memengaruhi efektivitas perhitungan free float sejumlah saham di pasar domestik.
Diberitakan sebelumnya, rebalancing indeks MSCI Inc. hari ini telah membuat IHSG ambles 1,81%. Dalam pengumumannya, terdapat total 18 saham RI yang dikeluarkan dari indeks MSCI hari ini.
Berdasarkan MSCI May 2026 Index Review, tidak ada tambahan saham Indonesia baru dalam MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, MSCI menghapus enam saham Indonesia dari indeks tersebut, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.
Namun, MSCI memasukkan saham AMRT ke dalam MSCI Small Cap Index setelah sebelumnya saham tersebut dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index.
Di sisi lain, terdapat 13 saham Indonesia yang dicoret dari MSCI Small Cap Index. Saham-saham tersebut meliputi ANTM, AALI, BANK, dan BSDE.
Kemudian, MSCI juga menghapus DSNG, SIDO, MIDI, serta MIKA dari MSCI Small Cap Index.
Selanjutnya, saham MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG juga keluar dari indeks tersebut.
#ojk-pasar-modal #frontier-market #rebalancing-msci #indeks-global-msci #transparansi-pasar-modal #kepemilikan-saham #free-float-saham #konsentrasi-kepemilikan-saham #reformasi-pasar-modal #pengakuan-m