Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Komisi XI DPR Minta Pertanggungjawaban Pimpinan BI
Komisi XI DPR menyoroti pelemahan rupiah dan anjloknya IHSG sepanjang 2026.
(Republika) 18/05/26 14:43 223703
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi XI DPR RI mencecar pimpinan Bank Indonesia (BI) mengenai tren pelemahan nilai tukar rupiah yang tajam. Terdepresiasinya Mata Uang Garuda hingga menyentuh Rp 17.600 per dolar AS, terlemah sepanjang sejarah, dinilai sangat serius.
Bahkan, politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Primus Yustisio mengawali kritikannya dengan menyinggung pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang tumbuh cukup tinggi, yakni 5,61 persen (year on year/yoy). Namun, ia mempertanyakan nilai tukar rupiah yang justru jeblok hingga mencapai rekor level terendah terhadap dolar AS.
Ia juga mengungkapkan kondisi rupiah tidak hanya melemah terhadap dolar AS, tetapi juga terkoreksi terhadap sejumlah mata uang negara lainnya. “Faktanya dan ironisnya, pelemahan rupiah terjadi terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, riyal Arab Saudi, dolar Hong Kong, dan euro Uni Eropa. Ini kan harus kita lihat dengan realita, kita tidak bisa berdiam diri. Apa yang terjadi saat ini menurut saya pribadi, Bank Indonesia sudah menghilangkan trust. Bank Indonesia sudah menyampingkan kredibilitasnya,” ungkap Primus dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI dengan Gubernur BI di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Primus juga menyinggung anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah sekitar 20 persen sejak awal 2026. Sementara di sisi lain, sejak perang Iran melawan AS-Israel pecah pada 28 Februari 2026, indeks di sejumlah negara lain saat ini sudah rebound, bahkan mencatat penguatan.
Dalam momen tersebut, Primus meminta pimpinan BI menyikapi kondisi saat ini secara gentleman. Ia mencontohkan sikap gentleman yang dimaksud, di antaranya adalah pengunduran diri. “Pak Perry yang saya hormati, kadang Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Kalau selanjutnya terserah Bapak tentu saja, tapi ini bukan sikap penghinaan,” ujar Primus.
Ia menyebut, jika Perry Warjiyo mundur dari jabatannya sebagai Gubernur BI, sikap itu justru akan lebih dihormati, seperti momen pengunduran diri pejabat di Korea atau Jepang. “Kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik, tidak ada salahnya (mundur),” tegasnya.
Primus kemudian mengutip sebuah hadits untuk menyinggung posisi Perry Warjiyo saat ini sebagai pucuk pimpinan bank sentral di Indonesia. Hadits tersebut diriwayatkan Imam Bukhari. “Karena Anda ini adalah template-nya orang yang saleh, hadits ini sangat familiar, yang artinya ‘apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya’,” tutup Primus.
#nilai-tukar-rupiah #bank-indonesia #pelemahan-mata-uang #pertumbuhan-ekonomi #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #intervensi-pasar #cadangan-devisa #geopolitik-global #dolar-as #suku-bunga