Harga Minyak Naik Imbas Konflik di Timur Tengah, EV Kian Laku
Krisis geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia mulai mengubah peta industri otomotif global.
(Kompas.com) 21/05/26 11:11 227418
JAKARTA, KOMPAS.com - Krisis geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia mulai mengubah peta industri otomotif global.
Di tengah kenaikan harga bahan bakar dan kekhawatiran terhadap keamanan energi, penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) justru menunjukkan akselerasi.
Laporan terbaru International Energy Agency (IEA) memperkirakan hampir 30 persen mobil yang terjual secara global pada 2026 akan berupa kendaraan listrik.
SHUTTERSTOCK/JEERASAK BANDITRAM Ilustrasi kendaraan listrikProyeksi itu muncul di tengah gejolak energi akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah naik tajam.
Dalam laporan Global EV Outlook 2026 yang dikutip pada Kamis (21/5/2026), IEA menyebut penjualan mobil listrik global diproyeksikan mencapai 23 juta unit tahun ini. Angka tersebut setara sekitar 28 persen dari total penjualan mobil dunia.
IEA mencatat penjualan kendaraan listrik sepanjang 2025 sudah tumbuh lebih dari 20 persen secara tahunan menjadi sekitar 21 juta unit.
Dengan kata lain, satu dari empat mobil yang terjual tahun lalu sudah merupakan kendaraan listrik.
Kondisi itu terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan di pasar energi global setelah konflik Iran dan ketegangan di kawasan Timur Tengah mengganggu pasokan minyak dunia.
Reuters melaporkan harga minyak sempat menembus lebih dari 100 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1,76 juta per barrel (asumsi kurs Rp 17.660 per dollar AS).
Ketergantungan minyak kembali jadi sorotan
SHUTTERSTOCK/SVEN HANSCHE Ilustrasi kapal tanker.IEA menilai krisis energi akibat konflik di Timur Tengah kembali memperlihatkan tingginya ketergantungan banyak negara terhadap impor minyak.
Lembaga tersebut mencatat sektor transportasi jalan raya saat ini menyumbang hampir separuh permintaan minyak global. Karena itu, respons kebijakan terhadap krisis energi kali ini diperkirakan akan memengaruhi arah pasar otomotif dunia dalam jangka panjang.
IEA menyinggung krisis minyak pada 1970-an yang mendorong lahirnya standar efisiensi bahan bakar kendaraan.
Kebijakan tersebut kemudian membuat efisiensi konsumsi bahan bakar mobil konvensional hampir dua kali lebih baik dibandingkan periode 1975.
Sementara itu, saat pandemi Covid-19, banyak negara mulai memberikan subsidi kendaraan listrik untuk mendorong pemulihan ekonomi sekaligus mempercepat adopsi EV.
Dalam laporan tersebut, IEA menyebut armada kendaraan listrik global pada 2025 berhasil mengurangi konsumsi minyak sekitar 1,7 juta barrel per hari (bph).
Pengurangan konsumsi minyak itu terutama terjadi di negara-negara yang telah menerapkan standar efisiensi bahan bakar dan emisi karbon seperti China dan Uni Eropa.
Beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Vietnam sebagai pasar EV terbesar di kawasan, juga mulai memperluas insentif pajak kendaraan listrik sebagai bagian dari respons terhadap krisis energi saat ini.
Harga bensin naik, EV dinilai lebih hemat
IEA menilai lingkungan harga minyak yang tinggi membuat konsumen mulai memperhatikan manfaat ekonomi kendaraan listrik.
Mobil listrik dinilai memiliki biaya operasional yang lebih rendah dibanding kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE), terutama karena efisiensi energinya lebih tinggi.
PIXABAY/ANDREAS160578 Ilustrasi mobil listrik.Kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah juga memperbesar potensi penghematan penggunaan kendaraan listrik.
IEA mencatat berdasarkan rata-rata harga minyak pada April 2026, penghematan biaya bahan bakar tahunan pengguna EV di Uni Eropa meningkat 35 persen dibanding penghematan pada 2025.
Untuk armada kendaraan perusahaan yang menempuh jarak jauh, potensi penghematan biaya operasional bahkan disebut bisa beberapa kali lebih besar dibanding konsumen biasa.
“Tanda-tanda awal menunjukkan penjualan kendaraan listrik meningkat di negara-negara yang menghadapi masalah pasokan, atau di mana kenaikan harga bahan bakar sangat tajam,” tulis IEA dalam laporannya.
Meski demikian, IEA menyebut dampak penuh dari krisis energi terhadap pasar kendaraan masih membutuhkan waktu untuk terlihat, salah satunya karena adanya jeda antara pemesanan dan pengiriman kendaraan.
Penjualan EV mulai meningkat di sejumlah negara
Sejumlah indikator awal mulai menunjukkan kenaikan minat terhadap kendaraan listrik di negara-negara yang mengalami lonjakan harga bahan bakar.
Reuters mencatat registrasi kendaraan listrik di Eropa naik 34 persen secara tahunan pada April 2026. Kenaikan tersebut menjadi periode pertama yang sepenuhnya mencerminkan dampak perang Iran terhadap pasar energi global.
Beberapa produsen otomotif besar seperti Volkswagen, Stellantis, Volvo, Renault, hingga SEAT/Cupra dilaporkan mengalami peningkatan pesanan kendaraan listrik.
PIXABAY/MENNO DE JONG Ilustrasi mobil listrik.Renault bahkan menyebut terjadi perubahan minat konsumen secara signifikan di Inggris setelah harga bahan bakar naik tajam.
Reuters juga melaporkan platform jual beli kendaraan seperti Carwow dan OLX mengalami lonjakan pencarian kendaraan listrik, termasuk untuk merek asal China seperti BYD, Leapmotor, dan Xpeng.
Fenomena serupa mulai terlihat di negara-negara Eropa Selatan yang sebelumnya relatif lambat mengadopsi kendaraan listrik.
Konsumen mulai memandang EV sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil di tengah ketidakpastian geopolitik.
Asia Tenggara dan India dorong kendaraan roda dua listrik
Di negara berkembang dengan tingkat kepemilikan kendaraan yang masih rendah dan sensitivitas tinggi terhadap harga bahan bakar, kendaraan listrik roda dua dan roda tiga dinilai menjadi pilihan yang semakin menarik.
IEA mencatat penjualan kendaraan listrik roda dua dan roda tiga di Asia Tenggara meningkat lebih dari dua kali lipat secara tahunan pada kuartal I-2026.
Sementara di India, penjualan kendaraan listrik jenis tersebut tumbuh lebih dari 30 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan dampak kenaikan harga energi tidak hanya mendorong pertumbuhan mobil listrik, tetapi juga mempercepat adopsi kendaraan listrik berbiaya lebih rendah di negara berkembang.
China manfaatkan EV untuk tekan impor minyak
Bagi negara-negara yang masih bergantung pada impor minyak, peningkatan penggunaan kendaraan listrik juga mulai dipandang sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
China yang merupakan importir minyak terbesar dunia saat ini juga menjadi negara dengan populasi kendaraan listrik terbesar.
Shutterstock Ilustrasi harga minyak mentah dunia.IEA mencatat kendaraan listrik di China berhasil mengurangi permintaan minyak sekitar 1 juta bph pada 2025. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 2,7 juta bph pada 2030.
Secara global, pengurangan konsumsi minyak akibat penggunaan kendaraan listrik diperkirakan meningkat tiga kali lipat menjadi sekitar 5 juta bph pada 2030.
IEA juga menyebut peningkatan penggunaan truk listrik, yang merupakan moda transportasi dengan konsumsi minyak terbesar kedua setelah kendaraan penumpang, berpotensi mengurangi konsumsi minyak sekitar 1 juta bph pada 2035 berdasarkan kebijakan saat ini.
Dominasi China di pasar EV global
Di tengah meningkatnya permintaan global, China tetap menjadi pemain dominan dalam industri kendaraan listrik dunia.
Financial Times melaporkan China memproduksi hampir 75 persen kendaraan listrik dunia pada 2025. Persaingan harga yang ketat di pasar domestik membuat produsen China agresif memperluas ekspor ke berbagai negara.
IEA sebelumnya mencatat penjualan mobil listrik di China sudah melampaui 11 juta unit pada 2024. Jumlah tersebut bahkan lebih besar dibanding total penjualan EV global dua tahun sebelumnya.
Dominasi China ikut menekan harga kendaraan listrik global. Dengan produksi massal dan biaya baterai yang semakin murah, harga EV menjadi semakin kompetitif dibanding mobil berbahan bakar bensin.
Financial Times melaporkan lebih dari 30 persen kendaraan listrik di Eropa pada 2025 sudah dijual dengan harga lebih murah dibanding kendaraan berbahan bakar bensin.
IEA memperkirakan Asia Tenggara juga akan menjadi pasar penting kendaraan listrik dalam satu dekade mendatang. Pangsa EV di kawasan tersebut diproyeksikan meningkat dari sekitar 20 persen pada 2025 menjadi 60 persen pada 2035.
(Dok. Shutterstock/ Smile Fight) Ilustrasi kendaraan listrikAmerika Serikat alami perlambatan
Meski pasar global tumbuh pesat, perkembangan kendaraan listrik di Amerika Serikat justru menunjukkan perlambatan.
Axios melaporkan penjualan EV di AS mulai melambat setelah insentif pajak kendaraan listrik dihapus dalam kebijakan anggaran 2025.
Namun demikian, kenaikan harga bensin akibat konflik Timur Tengah dinilai tetap dapat mendorong sebagian konsumen kembali mempertimbangkan kendaraan listrik.
IEA memperkirakan tren pertumbuhan kendaraan listrik masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Dalam skenario kebijakan saat ini, penjualan kendaraan listrik diproyeksikan melampaui 40 persen dari total penjualan mobil global pada 2030.
Lembaga tersebut menilai kombinasi harga bahan bakar yang tinggi, biaya baterai yang semakin murah, serta dorongan negara-negara untuk memperkuat ketahanan energi menjadi faktor utama pertumbuhan pasar kendaraan listrik global.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#krisis-energi #mobil-listrik #kendaraan-listrik #harga-minyak-dunia #penjualan-mobil-listrik #indepth