Ekonomi Instan dan Tren Kurban Online di Indonesia

Ekonomi Instan dan Tren Kurban Online di Indonesia

Hanya dengan membuka aplikasi, memilih paket, lalu melakukan pembayaran, ibadah kurban dapat selesai dalam hitungan menit.

(Kompas.com) 28/05/26 15:45 234094

JAKARTA, KOMPAS.com - Dulu, berkurban di Hari Raya Idul Adha identik dengan datang langsung ke kandang ternak, memilih hewan, menyaksikan proses penyembelihan, hingga membagikan daging kepada masyarakat sekitar.

Kini, pengalaman itu perlahan berubah. Hanya dengan membuka aplikasi, memilih paket, lalu melakukan pembayaran, ibadah kurban dapat selesai dalam hitungan menit.

Transformasi tersebut menjadi bagian dari perubahan pola konsumsi masyarakat di era digital. Aktivitas yang sebelumnya melibatkan interaksi fisik kini bergeser menjadi transaksi berbasis platform, termasuk dalam pelaksanaan ibadah.

KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah Ilustrasi hewan kurban - Sejumlah hewan kurban di salah satu peternakan di Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/5/2026).

Ekonom Senior Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Afandiq Mahfud menilai fenomena kurban online tidak bisa dilepaskan dari perkembangan transaksi digital yang semakin masif di masyarakat.

“Transaksi digital adalah sebuah fenomena yang kita hadapi saat ini di tengah teknologi yang cukup canggih dan tentunya ini akan merambah kepada ibadah, termasuk ibadah muasyarah ataupun ibadah muamalah antara manusia,” ujar Ahmad dalam program Sharia Insight INDEF, Selasa (26/5/2026).

Menurut dia, kurban merupakan ibadah yang tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Tuhan, tetapi juga melibatkan relasi sosial antarmanusia.

Karena itu, digitalisasi kurban tidak sekadar dipahami sebagai perubahan metode pembayaran.

“Nah, ibadah kurban itu adalah ibadah yang tidak hanya diniatkan secara khusus kepada Allah, tapi juga ada unsur keterlibatan antar manusia,” katanya.

Kurban dan budaya serba instan

KOMPAS.com/Nugraha Perdana Ilustrasi hewan kurban. Syarat hewan kurban.

Kemunculan platform kurban online terjadi bersamaan dengan perubahan perilaku masyarakat yang semakin terbiasa dengan layanan serba cepat dan praktis. Mulai dari pembelian tiket, pemesanan hotel, hingga layanan keuangan kini dilakukan secara digital.

Hal serupa mulai terlihat dalam praktik ibadah kurban.

“Pembelian tiket online, pemesanan hotel online dan seterusnya yang serba digital itu pasti memotong keterlibatan berbagai pihak,” kata Ahmad.

Kemudahan menjadi daya tarik utama. Masyarakat tidak lagi harus mendatangi peternak atau lokasi penyembelihan secara langsung.

Platform digital juga menawarkan pilihan harga, jenis hewan, hingga lokasi distribusi daging kurban.

Namun, Ahmad mengingatkan, kemudahan tidak serta-merta membuat substansi ibadah tetap utuh.

“Yang harus kita kritisi di sini adalah kalau dalam pengurbanan itu harus merasakan langsung, ketemu langsung dengan orangnya. Jadi bukan soal sah tidaknya, tapi bagaimana pengurbanan itu bisa dirasakan secara langsung,” ujar dia.

Menurut Ahmad, praktik kurban secara langsung memungkinkan seseorang mengalami proses pengorbanan dari awal hingga akhir, mulai dari memilih hewan, menyaksikan penyembelihan, hingga melihat distribusi daging kepada masyarakat.

“Nah, tentunya ini berbeda kalau kita ketemu in person. Pengurbanan langsung kita bisa menyaksikan hewannya, memilih hewannya, lalu ikut menyembelihnya dan seterusnya sehingga kita bisa merasakan proses dari awal sampai akhir itu,” katanya.

Digitalisasi sebagai solusi sekaligus tantangan

Di sisi lain, Ahmad mengakui platform digital juga menghadirkan solusi bagi masyarakat dengan keterbatasan tertentu. Misalnya karena faktor kesehatan, usia, atau lokasi geografis yang jauh dari tempat pelaksanaan kurban.

Pexels/Alwi Hafizh Al Mumtaz Ilustrasi hewan kurban.

“Contoh misalnya karena sakit atau karena kondisi tertentu yang jauh secara geografis sehingga tidak bisa langsung ke tempatnya,” ujar dia.

Menurut Ahmad, dalam kondisi seperti itu, teknologi justru membuka akses agar masyarakat tetap dapat menjalankan ibadah kurban.

“Dengan adanya digital tentunya harapan bagi orang yang tidak punya kelengkapan tadi atau ada kekurangan tadi itu bisa dikurangi dengan adanya kemudahan ini,” kata Ahmad.

Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar dari kurban online adalah menjaga agar kemudahan tidak menghilangkan makna pengorbanan dalam ibadah tersebut.

“Ini yang menjadi satu tantangan tersendiri dengan adanya teknologi ini,” ujarnya.

Ahmad mengatakan, kurban bukan sekadar aktivitas pembayaran untuk membeli hewan, melainkan bentuk pengorbanan yang seharusnya turut dirasakan oleh orang yang berkurban.

“Karena ibadah kurban yang namanya kurban itu adalah bentuk pengorbanan yang harus bisa disaksikan atau dirasakan walaupun itu melalui digital,” katanya.

Ketika ibadah mulai dikemas seperti produk

Perubahan pola konsumsi masyarakat juga terlihat dari cara platform menawarkan layanan kurban. Berbagai aplikasi kini menyediakan pilihan paket berdasarkan jenis hewan, lokasi distribusi, hingga program tertentu.

Fenomena itu dinilai Ahmad memiliki kemiripan dengan model bisnis umrah yang menawarkan paket layanan berbeda-beda.

“Nah, ini sama kayak umrah. Umrah itu ada paket premium, bronze, silver,” ujar dia.

SHUTTERSTOCK/UNTUNGSUBAGYO Ilustrasi hewan kurban.

Menurut Ahmad, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena ibadah berpotensi dipersepsikan sebagai komoditas layanan.

“Seolah-olah ibadah itu dibuat komoditas sedemikian rupa,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada keberadaan paket layanan, melainkan bagaimana masyarakat memahami substansi ibadah itu sendiri.

“Sama kurban pun sama. Substansinya adalah sama, kurban enggak ada yang lain,” ujar Ahmad.

Ia mengatakan, ukuran utama dalam kurban tetap berada pada nilai pengorbanannya, bukan pada bentuk layanan yang digunakan.

“Kurban yang terbaik itu yang mengorbankan semua yang kita cintai,” katanya.

Perbedaan pengalaman berkurban

Ahmad juga menyoroti perbedaan pengalaman spiritual antara masyarakat yang harus menabung lama untuk berkurban dengan mereka yang mampu melakukannya secara instan.

“Bayangkan orang yang kaya dengan orang yang miskin berkurban sama enggak? Sama, tapi prosesnya beda,” ujar dia.

Menurut Ahmad, ada masyarakat yang harus menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit agar dapat membeli hewan kurban. Sementara sebagian lain cukup melakukan transfer melalui aplikasi.

“Orang yang enggak punya uang dia nyicil, nabung. Kalau orang yang punya tinggal klik aja selesai,” kata Ahmad.

Perbedaan proses itu, menurut dia, menjadi bagian dari makna pengorbanan yang melekat dalam ibadah kurban.

“Proses itu yang membuat total submission, menyerahkan diri sepenuhnya. Pengurbanan itu hanya Allah yang membalas,” ujarnya.

KOMPAS.com/ PUTU AYU PRATAMA SUGIYO Ilustrasi hewan kurban di salah satu peternak Kota Malang, Jawa Timur jelang Lebaran Idul Adha 2026.

Risiko hilangnya interaksi sosial

Selain mengubah pengalaman individu, digitalisasi kurban juga dinilai memengaruhi dimensi sosial dalam pelaksanaan ibadah.

Dalam praktik konvensional, kurban identik dengan gotong royong warga, mulai dari penyembelihan, pembagian daging, hingga makan bersama.

“Kalau yang ideal atau tanpa teknologi, kitanya terlibat langsung sehingga ada interaksi antara kita dan masyarakat. Sama-sama menyembelih, sama-sama membagikan daging kurban,” kata Ahmad.

Menurut dia, interaksi tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman sosial dan spiritual masyarakat saat Idul Adha.

“Tapi kalau digital kan mungkin enggak sampai ke sana,” ujarnya.

Meski demikian, Ahmad tetap melihat teknologi sebagai instrumen yang dapat membantu masyarakat dalam kondisi tertentu, termasuk untuk distribusi kurban ke wilayah yang sulit dijangkau.

“Contoh misalnya saya mau kurban untuk yang di Gaza kan enggak mungkin bisa pergi ke sana,” kata dia.

Karena itu, Ahmad menilai teknologi pada dasarnya dapat menjadi alat untuk mempermudah ibadah, selama tidak menghilangkan substansi pengorbanan dan tanggung jawab dalam pelaksanaannya.

“Sah belum tentu ideal”

Dalam pandangan Ahmad, status sah secara fikih tidak selalu berarti ideal secara spiritual.

“Sah itu belum tentu ideal juga,” ujarnya.

Freepik/topntp26 Ilustrasi hewan kurban. Menjelang Idul Adha, penting memilih hewan kurban yang sehat, tidak cacat, dan cukup umur untuk menjamin ibadah sah dan daging aman dikonsumsi.

Ia mencontohkan bahwa praktik kurban digital memang dapat dibolehkan, tetapi tetap ada dimensi pengorbanan yang berpotensi berkurang dibanding pelaksanaan secara langsung.

“Yang ideal itu adalah kita merasakan pengorbanan,” kata Ahmad.

Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan kisah Nabi Ibrahim yang menjadi dasar filosofis ibadah kurban.

“Nabi Ibrahim sendiri yang melakukannya semua dari A sampai Z. Jadi ini yang ideal,” ujar dia.

Menurut Ahmad, perkembangan teknologi dan era disrupsi membuat masyarakat perlu terus mencari titik keseimbangan antara kemudahan dan nilai spiritual dalam beribadah.

“Bukan berarti kita harus menolak teknologi. Tapi di situlah pengorbanan itu akan tergerus nilainya seiring waktu apalagi dengan adanya teknologi,” katanya.

Karena itu, ia menilai masyarakat tetap perlu menjaga esensi pengorbanan di tengah budaya serba instan yang berkembang dalam kehidupan modern.

“Yang penting niat kita betul-betul pengurbanan dan tetap mencari yang ideal semaksimal mungkin,” ujar Ahmad.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#indef #transaksi-digital #kurban-online #ibadah-kurban #kurban

https://money.kompas.com/read/2026/05/28/154500726/ekonomi-instan-dan-tren-kurban-online-di-indonesia