Kala Tekanan Daya Beli Bayangi Pembiayaan UMKM Oleh Multifinance

Kala Tekanan Daya Beli Bayangi Pembiayaan UMKM Oleh Multifinance

Pembiayaan UMKM oleh multifinance mencapai Rp160,60 triliun pada Maret 2026, namun tantangan daya beli dan risiko kredit menghambat pertumbuhan.

(Bisnis.Com) 04/06/26 11:15 239671

Bisnis.com, JAKARTA — Segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi salah satu motor pertumbuhan industri pembiayaan atau multifinance. Meskipun begiti, tekanan daya beli masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi industri.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan oleh industri multifinance kepada UMKM pada Maret 2026 mencapai Rp160,60 triliun. Nilai itu hampir setara 30% dari total piutang pembiayaan industri.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK Agusman menuturkan nilai itu setara dengan 29,54% dari total piutang pembiayaan industri.

“Dalam penyalurannya masih terdapat sejumlah tantangan, antara lain terkait penguatan kualitas kredit debitur serta pengelolaan risiko yang sejalan dengan prinsip kehati-hatian dan pelindungan konsumen,” kata Agusman dalam lembar jawaban RDK OJK April 2026, dikutip pada Rabu (3/6/2026).

Oleh karena itu, OJK mengimbau agar perusahaan multifinance perlu terus memperkuat kapasitas penilaian kredit, tata kelola, dan manajemen risiko agar penyaluran pembiayaan kepada UMKM dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Bila ditilik dari jenis pembiayaannya, penyaluran pembiayaan modal kerja dan multiguna mengalami peningkatan pada kuartal I/2026. Untuk pembiayaan modal kerja meningkat 6,15% (year on year/YoY) menjadi Rp54,87 triliun.

Kemudian, pembiayaan multiguna tumbuh 1,32% YoY menjadi Rp358,45 triliun dan mendominasi penyaluran pembiayaan multifinance dengan porsi 50,27%. Sementara itu, penyaluran pembiayaan investasi terkontraksi 3,35% YoY menjadi sebesar Rp167,95 triliun.

Agusman turut membeberkan pada Maret 2026, rasio NPF gross industri multifinance tercatat sebesar 2,83%, masih terjaga di bawah batas 5%. Adapun, pada Desember 2025 sebesar 2,51%, Januari 2026 sebesar 2,72%, dan Februari 2026 sebesar 2,78%.

“Kenaikan rasio NPF gross pada awal tahun tersebut merupakan bagian dari dinamika kualitas pembiayaan yang dipengaruhi antara lain kemampuan bayar debitur,” jelasnya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, perusahaan perlu memperkuat manajemen risiko, meningkatkan kualitas analisis kredit, serta menggunakan pendekatan yang lebih selektif dalam penyaluran pembiayaan guna menjaga kualitas portofolio secara berkelanjutan.

Tantangan Penyaluran Pembiayaan UMKM

Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menyampaikan salah satu hal yang membuat pembiayaan UMKM belum terlalu optimal adalah karena agunan. Sebab itu, perusahaan pembiayaan biasanya menawarkan kredit UMKM kepada nasabah yang sudah melunasi kewajibannya karena memiliki agunan.

Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno mengatakan perusahaan pembiayaan saat ini sangat hati-hati dalam menyalurkan pembiayaan kepada pelaku UMKM. Menurutnya, kualitas calon debitur menjadi pertimbangan utama agar pembiayaan tetap sehat.

“Intinya kita sangat hati-hati dan melihat satu persatu calon debitur yang dijaga adalah lebih kepada kualitas,” tuturnya kepadaBisnis, saat dihubungi pada Senin (20/5/2026).

Selain itu, tantangan lainnya adalah pelemahan daya beli masyarakat dan kenaikan harga-harga yang menekan aktivitas usaha.

“Sebenarnya kepada sektor UMKM ya kalau bisnis segala daya belinya masih turun, terus ada kejadian begini, tentu harga-harga bareng naik, tentu UMKM juga ya ngapain dagang ya kalau nanti rugi gitu kan,” sebutnya.

Lebih jauh, pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL) ini mengatakan tidak ada sektor tertentu yang biasanya diberikan pembiayaan oleh multifinance. Namun, biasanya mengarah kepada usaha yang omzetnya di bawah Rp4,8 juta.

“Ya itu UMKM macam-macam, ada yang bikin baju, bikin hijab, bikin makanan, minuman, ya macam-macam lah. Sektornya ke semua sektor, yang sektornya ya pada usaha menengah dan usaha kecil menengah,” tegasnya.

Sementara itu, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (ADMF) atau Adira Finance membeberkan tantangan utama dalam menyalurkan pembiayaan UMKM saat ini adalah menjaga kualitas pembiayaan di tengah tekanan daya beli, kenaikan biaya operasional, serta fluktuasi pendapatan pelaku usaha.

“Sebagian UMKM juga memiliki karakteristik arus kas yang lebih dinamis, sehingga diperlukan analisis yang dalam terhadap kapasitas pembayaran dan keberlanjutan usahanya,” tutur Chief Financial Officer (CFO) Adira Finance Sylvanus Gani kepadaBisnis, Selasa (2/6/2026).

Oleh karena itu, Adira Finance terus memperkuat proses analisis kredit, pengelolaan risiko, serta pemantauan portofolio untuk memastikan pertumbuhan pembiayaan UMKM tetap berjalan secara sehat dan berkelanjutan.

Adapun, pembiayaan baru UMKM Adira Finance per April 2026 mencapai Rp2,9 triliun. Nilai ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan di segmen UMKM masih tetap terjaga, seiring dengan aktivitas usaha yang terus berjalan dan kebutuhan pelaku usaha untuk mendukung operasional maupun pengembangan bisnisnya,” ucapnya.

Senada, PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) atau CIMB Finance mencatat pertumbuhan ini tercermin dari peningkatan portofolio yang bernilai Rp1,48 triliun pada Februari 2026 menjadi Rp1,54 triliun pada posisi Maret 2026.

“Adapun sektor UMKM yang paling potensial di sepanjang kuartal I/2026 tersebut adalah di bidang jasa dan industri seperti usaha transportasi dan pedagang eceran,” ucap Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman kepadaBisnis, dikutip pada Selasa (2/6/2026).

Ristiawan melanjutkan, di tengah kondisi yang semakin dinamis, CNAF terus menjaga kualitas pembiayaan, termasuk sektor UMKM dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam proses penyaluran pembiayaan.

Kemudian, lanjutnya, CNAF memperkuat proses underwriting di awal dan fokus pada profil nasabah dengan fundamental bisnis yang lebih stabil, serta melakukan analisa kelayakan pembiayaan secara lebih komprehensif sesuai dengan karakteristik sektor usaha masing-masing.

“Selain itu, CNAF memperkuat monitoring portofolio secara berkala untuk mendeteksi potensi risiko lebih dini. Kami juga aktif dalam mengingatkan nasabah agar dapat melakukan kewajiban pembayaran angsuran secara konsisten dan tepat waktu,” bebernya.

Kendati begitu, dia tidak memungkiri bahwa saat ini masih ada tantangan yang perlu dihadapi dalam menyalurkan pembiayaan UMKM. Tantangan itu antara lain dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang belum stabil karena tekanan kondisi ekonomi dan kondisi pasar yang terus berkembang.

Dengan begitu, imbuhnya, kondisi tersebut membuat sebagian pelaku UMKM cenderung lebih berhati-hati dan menunda ekspansi bisnis, sehingga turut berdampak pada permintaan pembiayaan.

“Kendati demikian, CNAF tetap berkomitmen untuk memfasilitasi kebutuhan pembiayaan bagi pelaku UMKM, dengan tetap mengedepankan aspek prudensial perusahaan serta proses seleksi dan analisis calon nasabah dari berbagai aspek guna menjaga kualitas pembiayaan tetap sehat,” pungkasnya.

#umkm #pembiayaan-umkm #multifinance #daya-beli #ojk #kredit-umkm #risiko-pembiayaan #analisis-kredit #manajemen-risiko #pembiayaan-modal-kerja #pembiayaan-multiguna #npf-gross #asosiasi-perusahaan-pem

https://finansial.bisnis.com/read/20260604/89/1978180/kala-tekanan-daya-beli-bayangi-pembiayaan-umkm-oleh-multifinance