Siap-siap Konsumsi Rumah Tangga Melemah di Paruh Kedua 2026, Indef Soroti Tekanan Ini

Siap-siap Konsumsi Rumah Tangga Melemah di Paruh Kedua 2026, Indef Soroti Tekanan Ini

Pengendalian inflasi pangan menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat agar tekanan terhadap konsumsi tidak semakin dalam.

(Kompas.com) 05/06/26 13:44 240992

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengingatkan konsumsi rumah tangga berpotensi melemah pada paruh kedua 2026 jika harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan ke depan.

Peringatan tersebut disampaikan menyusul inflasi tahunan Mei 2026 yang mencapai 3,08 persen dan mulai memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah bawah yang sebagian besar pengeluarannya dialokasikan untuk kebutuhan pangan.

“Inflasi tahunan Mei 2026 yang mencapai 3,08 persen mulai memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah bawah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pangan,” ujar Rizal kepada Kompas.com, Jumat (5/6/2026).

Menurut Rizal, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras menjadi faktor yang paling dirasakan masyarakat karena merupakan kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut mulai mendorong masyarakat untuk mengurangi belanja nonprimer guna menyesuaikan pengeluaran rumah tangga di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok.

Rizal menilai tekanan terhadap daya beli semakin terasa karena kenaikan harga pangan terjadi bersamaan dengan meningkatnya biaya energi dan transportasi.

Sementara itu, pertumbuhan pendapatan masyarakat dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup.

Kelompok pekerja informal, buruh, masyarakat berpenghasilan tetap rendah, serta kelas menengah rentan disebut menjadi kelompok yang paling terdampak akibat ruang konsumsi yang semakin terbatas.

“Di tengah kenaikan harga pangan, energi, dan transportasi, pertumbuhan pendapatan masyarakat saat ini belum sepenuhnya mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup,” katanya.

Meski demikian, Rizal menilai program pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masih berpotensi membantu menjaga konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi domestik.

Namun, efektivitas berbagai program tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga pangan, memperkuat sistem distribusi, serta memastikan stimulus ekonomi dan bantuan sosial tepat sasaran.

“Program pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebenarnya dapat membantu menjaga konsumsi dan aktivitas ekonomi domestik. Namun efektivitasnya akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga pangan dan memastikan stimulus tepat sasaran,” ujar Rizal.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena itu, risiko pelemahan konsumsi perlu diantisipasi sejak dini melalui pengendalian inflasi, terutama pada kelompok pangan.

“Jika harga kebutuhan pokok terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan, maka terdapat risiko konsumsi rumah tangga akan melemah pada paruh kedua 2026,” kata Rizal.

Menurut dia, pengendalian inflasi pangan menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat agar tekanan terhadap konsumsi tidak semakin dalam dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

“Karena itu, pengendalian inflasi pangan menjadi sangat penting agar tekanan terhadap daya beli tidak semakin dalam dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga,” ucapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#jakarta #indef #konsumsi-rumah-tangga

https://money.kompas.com/read/2026/06/05/134443526/siap-siap-konsumsi-rumah-tangga-melemah-di-paruh-kedua-2026-indef-soroti