Rupiah Bergejolak, Investor Berburu Reksa Dana Dolar AS
Dana kelolaan reksa dana dolar melonjak hampir 97% dalam setahun di tengah pelemahan rupiah dan tingginya ketidakpastian global.
(Bisnis.Com) 13/06/26 14:31 249164
Bisnis.com, JAKARTA — Dana kelolaan berdenominasi dolar AS melesat hampir dua kali lipat dalam setahun terakhir.
Pertumbuhan industri reksa dana berbasis dolar AS tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan diversifikasi aset di tengah ketidakpastian global. Selain itu, penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah, turut mendorong investor untuk menambah eksposur pada instrumen berbasis valuta asing.
Data Infovesta menunjukkan total dana kelolaan atau asset under management (AUM) reksa dana dolar mencapai US$3,16 miliar pada Mei 2026, melonjak 96,8% dibandingkan posisi Mei 2025 sebesar US$1,61 miliar.
Total dana kelolaan industri reksa dana dolar tersebut juga naik dari US$2,71 miliar pada April 2026 atau bertambah sekitar 16,6% hanya dalam satu bulan.
Lonjakan tersebut memperlihatkan bahwa instrumen berbasis dolar masih menjadi pilihan investor untuk menjaga nilai aset di tengah volatilitas pasar keuangan global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Kenaikan dana kelolaan itu terutama ditopang oleh reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap dolar yang menawarkan kombinasi stabilitas imbal hasil dan risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen saham.
Reksa dana pasar uang dolar menjadi kategori dengan pertumbuhan paling agresif. Dana kelolaannya melonjak dari US$243,42 juta menjadi US$1,26 miliar dalam satu tahun atau tumbuh sekitar 416,5%.
Sementara itu, dana kelolaan reksa dana pendapatan tetap dolar meningkat dari US$371,80 juta menjadi US$790,74 juta atau naik 112,7% secara tahunan.
Kategori global fund yang selama ini menjadi tulang punggung industri reksa dana dolar juga masih mencatatkan pertumbuhan positif. Dana kelolaannya meningkat dari US$745,15 juta menjadi US$881,55 juta atau tumbuh 18,3%.
Adapun reksa dana campuran dolar membukukan kenaikan 107,4% dari US$26,45 juta menjadi US$54,87 juta.
Di sisi lain, tidak semua kategori menikmati pertumbuhan. Dana kelolaan reksa dana terproteksi justru turun 22,7% menjadi US$150,58 juta. Sementara itu, reksa dana saham dolar hanya tumbuh tipis 6,9% menjadi US$26,17 juta.
Eksposur Saham Global
Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan secara year to date dana kelolaan reksa dana dolar sebenarnya masih cenderung stagnan. Namun, dalam horizon satu tahun pertumbuhannya sangat signifikan.
Menurutnya, kinerja reksa dana dolar sepanjang setahun terakhir juga relatif baik, terutama produk yang memiliki eksposur ke saham global di Amerika Serikat.
"Rata-rata kinerja satu tahun sangat baik, terutama untuk yang berbasis saham global di Amerika Serikat. Ini sejalan dengan tren penguatan saham-saham berbasis semikonduktor dan AI," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (12/6/2026).
Meski demikian, Wawan menilai pengalihan portofolio ke reksa dana dolar belum terjadi secara masif. Salah satu penyebabnya adalah akses investasi yang relatif lebih terbatas dibandingkan reksa dana rupiah.
Beberapa produk seperti global sharia fund bahkan menetapkan minimum investasi yang cukup tinggi yakni senilai US$10.000. Alhasil, investasi ini hanya dapat dijangkau oleh investor kelas menengah atas.
"Akses ke reksa dana dolar lebih terbatas karena minimum pembelian yang juga lebih tinggi. Untuk investor menengah atas bisa saja melakukan diversifikasi ke sini," lanjutnya.
Menurut Wawan, tren penguatan dolar AS dalam jangka panjang tetap menjadi daya tarik utama instrumen tersebut. Namun, investor tetap perlu memperhatikan risiko nilai tukar.
Dia menjelaskan reksa dana dolar idealnya dimiliki investor yang memang memiliki kebutuhan dalam mata uang tersebut. Pasalnya, ketika rupiah kembali menguat, keuntungan investasi dapat tergerus oleh pergerakan kurs.
Untuk prospek ke depan, Wawan menilai reksa dana pasar uang dolar masih menjadi pilihan paling defensif dengan potensi imbal hasil sekitar 2% hingga 3%.
Sementara itu, sejumlah reksa dana pendapatan tetap dolar masih menghadapi tekanan akibat kenaikan suku bunga global. Kendati demikian, tekanan tersebut dinilai masih terbatas dan berpotensi berbalik positif hingga akhir tahun seiring akumulasi pendapatan kupon
Adapun kinerja reksa dana global akan sangat bergantung pada pergerakan pasar saham internasional. Namun, tema investasi yang berfokus pada sektor teknologi, kecerdasan buatan dan semikonduktor masih menjadi pendorong utama pertumbuhan.
Direktur Investment Simpan Asset Management Armand Marthias berpendapat pelemahan rupiah dalam jangka panjang membuat instrumen berbasis dolar semakin menarik sebagai sarana diversifikasi dan mitigasi risiko mata uang.
"Jika melihat data historis adanya rata-rata pelemahan rupiah terhadap dolar AS sejak tahun 2011 sebesar 4%, yang menjadikan produk berbasis dolar AS sangat menarik sebagai diversifikasi dan mitigasi risiko mata uang," katanya.
Simpan Asset Management menyebut berdasarkan simulasi historis, instrumen obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar atau Indon Bonds mampu menghasilkan imbal hasil rata-rata sekitar 3% hingga 3,5%.
Ke depan, perseroan memproyeksikan potensi imbal hasil dapat meningkat menjadi 4% hingga 4,5% per tahun.
Dalam racikannya, fokus Simpan adalah alokasi yang seimbang, yakni 50% Indon dan 50% pada corporate bonds.
Menurut Armand, sejumlah faktor akan menjadi penentu utama kinerja reksa dana dolar, mulai dari arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, dinamika petrodolar, kondisi geopolitik Timur Tengah hingga perkembangan ekonomi global.
Untuk menjaga stabilitas kinerja, Simpan Asset Management memilih strategi portofolio berdurasi pendek guna mengurangi risiko mark to market di tengah tingginya volatilitas pasar global.
Relevan Jangka Panjang
Sementara itu, Investment Analyst Succor Asset Management Lolita menilai pelemahan rupiah belum otomatis mendorong lonjakan dana masuk ke seluruh produk reksa dana dolar.
Menurutnya investor masih mencermati berbagai risiko global sebelum meningkatkan eksposur terhadap aset berbasis dolar.
"Belum terdapat korelasi signifikan antara pelemahan rupiah dengan kenaikan AUM berdominasi US$ ujarnya.
Meski demikian, Lolita menilai investasi dalam instrumen dolar tetap relevan untuk tujuan diversifikasi jangka panjang, terutama bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap pasar saham Amerika Serikat.
Menurutnya, perhatian investor saat ini tertuju pada sejumlah faktor penting, mulai dari perubahan kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat, keputusan MSCI terhadap pasar Indonesia, stabilitas fiskal pemerintah hingga arus dana asing ke pasar domestik.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Succor Asset Management menerapkan strategi pengelolaan aktif dan penyediaan porsi likuiditas yang memadai.
Lolita juga menyarankan investor menerapkan strategi investasi bertahap atau dollar cost averaging mengingat pelemahan rupiah sudah cukup dalam dan pasar saham Amerika Serikat melalui indeks S&P500 berada di level tertinggi baru.
Di tengah ketidakpastian global dan tekanan terhadap rupiah, industri reksa dana dolar tampaknya masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Namun, para pelaku industri menegaskan bahwa instrumen ini bukan sekadar sarana mengejar keuntungan dari pelemahan rupiah, tetapi bagian dari strategi diversifikasi jangka panjang yang harus disesuaikan dengan kebutuhan dan profil risiko masing-masing investor.
#reksa-dana-dolar #aum-reksa-dana-dolar #investasi-dolar-as #pelemahan-rupiah #diversifikasi-investasi #reksa-dana-global #reksa-dana-pasar-uang-dolar #reksa-dana-pendapatan-tetap-dolar #investasi-saha