Valuasi Murah dan Risiko Berkurang, IHSG Diproyeksi Masuk Tren Pemulihan
Valuasi saham yang telah terdiskon cukup dalam membuka peluang pemulihan pasar saham domestik.
(IDX-Channel) 14/06/26 14:33 249622
IDXChannel - Penguatan nilai tukar rupiah dan meredanya sejumlah kekhawatiran pasar menjadi sinyal positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa bulan ke depan.
Dalam riset Samuel Sekuritas Jumat (12/6/2026) analis menilai kombinasi kebijakan agresif Bank Indonesia (BI), perbaikan sentimen terhadap Danantara, serta valuasi saham yang telah terdiskon cukup dalam membuka peluang pemulihan pasar saham domestik.
Rupiah yang sebelumnya sempat tertekan hingga menembus level Rp18.200 per USD kini berhasil menguat ke bawah Rp18.000 per USD. Penguatan tersebut didukung langkah BI yang semakin agresif dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Dalam sebulan terakhir, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin, termasuk kenaikan di luar jadwal (off-cycle) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Langkah tersebut menjadi kenaikan suku bunga tidak terjadwal pertama sejak Mei 2018.
Selain kebijakan moneter yang lebih ketat, penguatan rupiah juga berpotensi mendapat dukungan dari implementasi kebijakan ekspor mineral melalui Danantara. Kebijakan tersebut diyakini dapat mengurangi praktik under-invoicing dan meningkatkan arus masuk devisa ke Indonesia.
Dari sisi fiskal, pengeluaran pemerintah yang lebih rendah untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta rasionalisasi koperasi juga dinilai dapat membantu menjaga stabilitas mata uang domestik.
Sentimen positif lainnya datang dari kembalinya investor asing ke pasar saham Indonesia. Pada 12 Juni 2026, tercatat arus dana asing bersih (net foreign inflow) sebesar Rp287 miliar atau sekitar USD16 juta, yang menjadi aliran masuk pertama sejak 20 Mei 2026.
Valuasi Murah Jadi Daya Tarik
Riset tersebut juga menyoroti rebound IHSG sebesar 7,6 persen pada 9 Juni 2026 yang terjadi setelah pasar memasuki fase valuasi yang sangat murah.
IHSG saat ini diperdagangkan pada level price to earnings ratio (P/E) forward satu tahun sekitar 8,8 kali, atau 11 persen di bawah level minus dua standar deviasi dan 36 persen di bawah rata-rata lima tahun.
Koreksi IHSG dari puncak ke titik terendah mencapai 41 persen dalam waktu sekitar 4,6 bulan. Penurunan tersebut bahkan lebih dalam dibandingkan sejumlah periode krisis berbasis sentimen sebelumnya, seperti 2013 sebesar 23,9 persen, 2015 sebesar 25,4 persen, maupun pandemi Covid-19 sebesar 37,7 persen. Penurunan itu hanya lebih rendah dibandingkan krisis keuangan global 2008 yang mencapai 60,7 persen.
Menurut analis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar telah memprice-in skenario yang jauh lebih buruk dibandingkan kondisi fundamental saat ini.
Jika mengacu pada pola historis, IHSG berpotensi mencatat kenaikan rata-rata 16,5 persen dalam tiga bulan, 25,3 persen dalam enam bulan, dan 58,5 persen dalam 12 bulan setelah mencapai titik terendah siklus koreksi.
Menanti Keputusan MSCI dan FTSE
Meski demikian, pasar masih mencermati sejumlah faktor yang berpotensi menjadi sumber tekanan, terutama hasil tinjauan indeks global oleh MSCI dan FTSE.
Tinjauan MSCI pada Februari dan Mei 2026 telah memicu keluarnya tujuh saham Indonesia dari indeks standar, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Akibatnya, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,45-0,50 persen dari sebelumnya sekitar 0,75 persen. Arus keluar dana asing yang dipicu rebalancing MSCI diperkirakan mencapai sekitar US$1,5 miliar pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.
Sementara itu, rebalancing FTSE pada 22 Juni diperkirakan memberikan dampak lebih terbatas karena dana kelolaan yang mengikuti indeks tersebut lebih kecil dibandingkan MSCI.
Analis memperkirakan Indonesia akan tetap mempertahankan status pasar berkembang (emerging market) dalam tinjauan MSCI pada 18 Juni 2026 tanpa masuk daftar pemantauan. Jika hasil tersebut sesuai ekspektasi, arus dana asing berpotensi kembali masuk ke pasar domestik.
Dalam strategi sektoral, analis Samuel Sekuritas merekomendasikan rotasi ke saham perbankan berkualitas dan emiten berbasis dolar AS, terutama sektor logam dan batu bara.
Perbaikan kebijakan pertambangan yang dinilai lebih ramah pelaku usaha, termasuk tidak adanya kenaikan royalti, skema gross split, serta peningkatan kuota RKAB pada semester II-2026, menjadi salah satu dasar optimisme terhadap sektor komoditas.
Meski demikian, pasar masih menunggu kejelasan struktur harga dan margin yang akan diterapkan oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebelum kepercayaan investor pulih sepenuhnya.
Sejumlah saham yang menjadi pilihan utama antara lain PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Timah (Persero) Tbk (TINS), serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Meski prospek pemulihan pasar mulai terlihat, analis mengingatkan bahwa sejumlah risiko masih perlu dicermati, mulai dari ketegangan geopolitik global, potensi pelebaran defisit fiskal dan transaksi berjalan, hingga ketidakpastian kebijakan pemerintah.
(DESI ANGRIANI)