Utang Luar Negeri Swasta Susut, Purbaya Bantah Pelaku Usaha Tahan Ekspansi

Utang Luar Negeri Swasta Susut, Purbaya Bantah Pelaku Usaha Tahan Ekspansi

Utang luar negeri swasta turun, namun Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelaku usaha tetap ekspansi dengan memanfaatkan likuiditas domestik yang melimpah.

(Bisnis.Com) 18/02/26 16:41 139759

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan pelaku usaha swasta sedang menahan laju ekspansi bisnisnya pada penghujung 2025, meski terjadi penurunan posisi Utang Luar Negeri (ULN).

Sebagai catatan, data Bank Indonesia (BI) menunjukkan posisi ULN swasta pada kuartal IV/2025 tercatat senilai US192,78 juta. Angka ini susut dibandingkan dengan capaian pada kuartal III/2025 yang berada di level US194,48 juta, sekaligus menandai posisi terendah dalam empat tahun terakhir.

Merespons tren tersebut, Purbaya menilai turunnya ULN swasta itu tidak bisa serta-merta diterjemahkan sebagai indikator kelesuan dunia usaha. Dia meminta agar pembacaan data ekonomi tidak dilakukan secara parsial, melainkan memperhatikan pergerakan bulanan dan siklus aktivitas ekonomi kuartalan.

"Anda lihat tidak dari bulan ke bulan seperti apa? Saya yakin turunnya setiap triwulan pertama, kedua, dan ketiga, lalu pada kuartal keempat mulai naik lagi sesuai dengan aktivitas ekonomi. Ke depan akan lebih bagus lagi," ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Keyakinan tersebut merujuk realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 yang mencapai 5,39%. Angka tersebut lebih tinggi dari kuartal-kuartal sebelumnya pada tahun lalu.

Lebih lanjut, bendahara negara memandang penyusutan penarikan utang dari luar negeri oleh pihak swasta justru sejalan dengan strategi pemerintah yang membanjiri perbankan domestik dengan likuiditas.

Menurutnya, ketersediaan dana yang melimpah di dalam negeri membuat korporasi memiliki opsi untuk beralih menggunakan pembiayaan dari perbankan lokal.

"Mungkin mereka [pelaku usaha] juga melihat di dalam negeri sudah lebih banyak funding dari perbankan, karena kita dorong likuiditas ke sistem perekonomian kan? Jadi, terjemahannya tidak satu arah seperti itu [swasta menahan ekspansi]," tegas Purbaya.

Sepanjang paruh kedua 2025, Purbaya memang terpantau agresif mengalihkan kas negara yang tersimpan di bank sentral untuk disalurkan ke bank umum guna memacu penyaluran kredit.

Tercatat, injeksi perdana dilakukan sebesar Rp200 triliun ke bank pelat merah (Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN) dan BSI pada 12 September 2025. Pemerintah kemudian kembali menyuntikkan dana Rp76 triliun pada 10 November 2025.

Kendati Purbaya sempat menarik kembali dana sebesar Rp75 triliun pada Desember lalu, sisa kas negara yang masih mengendap sebagai amunisi likuiditas di sistem perbankan domestik tercatat masih sangat tebal, yakni mencapai Rp201 triliun.

Sebagai catatan, Bank Indonesia (BI) melaporkan kredit perbankan tumbuh 9,69% secara tahunan (year on year/YoY) pada 2025. Meski berada di kisaran target 8-11% YoY, namun realisasi itu tetap lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan periode sebelumnya atau 2024 sebesar 10,39%.

#utang-luar-negeri #utang-swasta #ekspansi-bisnis #purbaya-yudhi-sadewa #penurunan-uln #bank-indonesia #pertumbuhan-ekonomi #likuiditas-perbankan #pembiayaan-lokal #kredit-perbankan #strategi-pemerinta

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260218/9/1953726/utang-luar-negeri-swasta-susut-purbaya-bantah-pelaku-usaha-tahan-ekspansi