Utang Luar Negeri RI Naik jadi Rp7.347,5 Triliun pada Februari 2026
Utang Luar Negeri Indonesia naik 2,5% (YoY) jadi Rp7.347,5 triliun pada Feb 2026, didorong pinjaman sektor publik dan stabilitas Rupiah. ULN pemerintah naik, swasta turun.
(Bisnis.Com) 15/04/26 14:30 192052
Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia melaporkan Utang Luar Negeri Indonesia mencapai US$437,9 miliar pada Februari 2026 atau sekitar Rp7.347,5 triliun (kurs JISDOR 27 Februari 2026 sebesar Rp16.779 per dolar AS). Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia itu tumbuh 2,5%.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso menjelaskan utang luar negeri tersebut dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global," jelas Denny dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Dia menjelaskan ULN terbagi ke utang pemerintah dan swasta. Perinciannya, ULN pemerintah tercatat sebesar US$215,9 miliar atau naik 5,5% secara tahunan (year on year/YoY).
Dia menyebut ULN pemerintah diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas, yang disebut untuk keberlanjutan dan penguatan perekonomian nasional.
Berdasarkan sektornya, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,3%); Jasa Pendidikan (16,2%); Konstruksi (11,6%); hingga Transportasi dan Pergudangan (8,5%).
"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah," paparnya.
Utang Luar Negeri Swasta Susut
Sebaliknya, ULN swasta mencapai US$193,7 miliar pada Februari 2025, turun sebesar 0,7% YoY. Denny menjelaskan perkembangan tersebut dipengaruhi oleh penurunan ULN kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang masing-masing turun 2,8% YoY dan 0,2% YoY.
Berdasarkan sektor ekonomi, pangsa ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3% terhadap total ULN swasta.
"ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0% terhadap total ULN swasta," kata Denny.
Sejalan dengan itu, rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi 29,8% pada Februari 2026, naik sedikit dibandingkan posisi Januari 2026 sebesar 29,6%. Angka tersebut didominasi ULN jangka panjang sebesar 84,9% terhadap total ULN.
"Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," tutup Denny.
#utang-luar-negeri #utang-luar-negeri-indonesia #utang-luar-negeri-2026 #bank-indonesia #utang-bank-indonesia #utang-pemerintah #utang-swasta #utang-jangka-panjang #sektor-jasa-kesehatan #sektor-pendid