Pemerintah Kebut 100 Gudang Bulog Rp5 Triliun Kala Stok Beras Tembus 5 Juta Ton
Pemerintah Indonesia mempercepat pembangunan 100 gudang Bulog senilai Rp5 triliun untuk mengatasi lonjakan stok beras 5 juta ton, mendukung swasembada pangan.
(Bisnis.Com) 01/05/26 12:00 208491
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mempercepat pembangunan 100 gudang baru milik Perum Bulog dengan nilai investasi sekitar Rp5 triliun seiring melonjaknya stok beras di gudang Bulog yang telah menembus lebih dari 5 juta ton.
Presiden Prabowo Subianto menyiapkan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp5 triliun guna memperkuat infrastruktur logistik pangan, terutama untuk pembangunan gudang Perum Bulog. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2026 yang diteken pada 11 Maret 2026.
Melalui beleid tersebut, pemerintah menilai penguatan infrastruktur pascapanen sebagai langkah strategis untuk mendorong kemandirian dan swasembada pangan. Upaya ini diarahkan untuk menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas pasokan, sekaligus memperkuat cadangan pangan pemerintah, mengurangi ketergantungan pada sewa gudang, serta memperluas pemerataan fasilitas pascapanen di berbagai daerah.
Dalam aturan itu disebutkan pendanaan infrastruktur pascapanen bersumber dari APBN melalui skema PMN, dengan cakupan penguatan meliputi fasilitas pengadaan, pengelolaan, penyaluran, hingga pelayanan.
Infrastruktur tersebut mencakup kegiatan awal seperti pengeringan dan penggilingan, penyimpanan berbagai komoditas pangan dengan dukungan mekanisasi, hingga sistem distribusi dan layanan pendukung. Penyediaannya dilakukan melalui pembangunan baru, revitalisasi, penambahan sarana, maupun pembelian fasilitas.
5 Juta Ton Beras
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan lonjakan produksi membuat kapasitas gudang eksisting tidak lagi mencukupi, sehingga pemerintah harus mengandalkan gudang sewa untuk menampung hasil panen.
Per Kamis (23/4/2026), stok beras yang dikuasai Perum Bulog, baik cadangan beras pemerintah (CBP) maupun komersial, telah mencapai 5.000.198 ton, melampaui target penugasan setara beras 4 juta ton.
Sejalan dengan meningkatnya beras, pemerintah juga menambah kapasitas gudang melalui kerja sama dengan pihak swasta. Pada periode yang sama, kapasitas gudang operasional Bulog mencapai 3.074.769 ton, dengan tambahan sewa/fillial gudang hingga 2.735.096 ton. Kini, sisa kapasitas gudang mencapai 809.667 ton.
Bahkan, Amran menyebut tambahan sewa gudang hingga 1 juta ton kembali dilakukan karena lonjakan produksi yang terus berlanjut.
“Sekarang kita sudah sewa gudang seluruh Indonesia 2 juta ton. Kapasitas gudang kita hanya 3 juta ton. Sekarang sudah kita sewa 2 juta ton dan sekarang sudah penuh. Tinggal 800.000 [ton] dan kita sudah sewa lagi kurang lebih 1 juta ton kapasitasnya,” kata Amran saat ditemui di sela-sela meninjau Gudang Bulog JDP Karawang 1 Logistic Park di Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026).
Amran menuturkan capaian stok tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pada April dan memperkuat optimisme pemerintah untuk tidak melakukan impor beras pada 2026.
“Insya Allah 2026 tidak impor. Kita saling mendoakan, kita kolaborasi Insya Allah 2026 tidak impor beras. Cadangan kita adalah tertinggi sepanjang sejarah di bulan April,” ujarnya.
Gudang Penuh, 100 Gudang Baru Dikebut
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan tidak hanya gudang milik Bulog yang penuh, tetapi juga gudang swasta yang disewa telah terisi oleh beras hasil produksi petani.Dia menilai kondisi tersebut mencerminkan capaian swasembada pangan yang nyata, bukan sekadar klaim.
Bulog saat ini mengandalkan anggaran cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar Rp68,1 triliun dalam bentuk OIP, dengan dukungan pembiayaan yang kini lebih ringan setelah adanya subsidi bunga dari pemerintah.
“Bunganya yang tadinya 7% sekarang 5%. Yang 5% itu 3% dicicil Bulog, yang 2% disubsidi oleh pemerintah. Ini mendukung Bulog agar Bulog semakin sehat semakin meningkat produksinya dan memberikan pelayanan yang terbaik untuk rakyat,” terang Rizal.
Selain itu, Bulog juga terus menambah kapasitas sewa gudang sambil menunggu realisasi pembangunan gudang baru.
Sementara itu, Direktur Pengadaan Perum Bulog Prihasto Setyanto menyampaikan pembangunan 100 gudang baru masih menunggu penetapan melalui rapat koordinasi terbatas (rakortas) sebelum masuk tahap eksekusi.
Dia menjelaskan anggaran proyek yang bersumber dari penyertaan modal negara (PMN) sekitar Rp5 triliun masih dalam proses dan akan dicairkan secara bertahap, seiring verifikasi kelayakan lokasi satu per satu.
Kendati demikian, Prihasto menyampaikan Bulog telah mengantongi sejumlah lokasi yang disiapkan pemerintah daerah (pemda).
“Kami sudah mencari lokasi sana-sini. Sudah banyak pemerintah daerah yang sudah menyiapkan lahan-lahannya untuk diserahkan ke Bulog lokasi pembangunan gudang-gudang tersebut. Kita memang butuh gudang,” ujar Prihasto.
Lebih lanjut, dia menjelaskan kebutuhan gudang sangat mendesak, mengingat kapasitas sewa gudang telah mencapai 2,8 juta ton dengan tingkat keterisian sekitar 2 juta ton dan sisa ruang hanya 800.000 ton.
Adapun pembangunan 100 gudang tersebut ditargetkan memiliki kapasitas tambahan sekitar 250.000–300.000 ton, dengan groundbreaking ditargetkan dapat dimulai tahun ini setelah seluruh proses penetapan dan kesiapan teknis rampung.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) sebelumnya mengatakan kapasitas gudang Bulog eksisting saat ini sudah kewalahan menampung peningkatan stok beras yang terus melonjak.
“Kita kewalahan mengenai gudang. Oleh karena itu sudah keluar Perpres. Dananya sudah ada lama, tapi Perpres sudah jadi, sudah sampai 2 minggu. Kita kerja cepat, akan dibangun 100 titik gudang Bulog yang baru untuk mendukung stok beras yang terus-menerus meningkat,” kata Zulhas dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, produksi beras diproyeksikan terus naik, bahkan di tengah musim kemarau, seiring kesiapan infrastruktur seperti pompanisasi. Nantinya, 100 gudang baru tersebut akan dilengkapi teknologi penyimpanan mutakhir yang memungkinkan beras bertahan lebih lama dibandingkan metode konvensional.
“Anggaran totalnya Rp5 triliun di 100 [gudang]. Dan ini gudangnya ini sesuai dengan perkembangan teknologi. Kemarin Kepala BRIN [Badan Riset dan Inovasi Nasional] mengatakan ini bisa tahan selama 2 tahun. Jadi beras bisa tahan selama 2 tahun,” lanjutnya.
| Gudang Beras Bulog (ton) | |
| Operasional | 3.074.769 |
| Sewa/Filial | 2.735.096 |
| Total kapasitas gudang | 5.809.865 |
| Stok setara beras (CBP+komersial) | 5.000.198 |
| Sisa ruang gudang | 809.667 |
Sumber: Paparan Kementan, per 23 April 2026
Manfaat dan Risiko Gudang Modern
Terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Esther Sri Astuti menilai pembangunan gudang modern berpotensi meningkatkan efisiensi rantai pasok beras, termasuk mengurangi kehilangan pascapanen dan menjaga kualitas melalui pengendalian kelembapan dan hama.
Selain itu, Esther menilai keberadaan gudang dapat membantu stabilisasi harga, menekan biaya logistik, serta meningkatkan pendapatan petani karena memungkinkan penjualan pada saat harga lebih baik.
“Dengan menyimpan surplus pada musim panen dan melepaskannya selama masa kekurangan, gudang mencegah fluktuasi harga ekstrem di pasar lokal,” kata Esther kepadaBisnis, Rabu (29/4/2026).
Dari sisi ekonomi dan sosial, lanjut dia, keberadaan gudang dapat meningkatkan pendapatan petani karena memberi fleksibilitas waktu penjualan, menstabilkan harga pasar, serta menekan biaya logistik hingga sekitar 20% sekaligus menciptakan lapangan kerja di pedesaan.
Menurutnya, pengelolaan gudang yang baik dapat memperkuat ketahanan pangan melalui distribusi stok yang lebih stabil, pemeliharaan kualitas, serta pengurangan ketergantungan impor.
Namun, dia mengingatkan pembangunan gudang juga perlu memperhatikan aspek teknis dan lingkungan, seperti kesiapan infrastruktur, pengelolaan limbah, hingga potensi konversi lahan. Selain itu, terdapat risiko operasional seperti penurunan kualitas beras akibat kelembapan tinggi, potensi kebakaran, hingga inefisiensi logistik jika desain tidak optimal.
#beras-bulog #stok-beras #gudang-bulog #pembangunan-gudang #infrastruktur-pangan #swasembada-pangan #penyertaan-modal-negara #kapasitas-gudang #cadangan-beras-pemerintah #sewa-gudang #produksi-beras #t