Impor Beras Ditekan, Produksi Dalam Negeri Jadi Penopang Utama

Impor Beras Ditekan, Produksi Dalam Negeri Jadi Penopang Utama

Kinerja produksi beras nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penguatan yang signifikan.

(Kompas.com) 04/05/26 15:15 210471

JAKARTA, KOMPAS.com – Kinerja produksi beras nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penguatan yang signifikan.

Pemerintah bahkan mencatatkan capaian penting dengan tidak adanya impor beras sepanjang 2025, seiring meningkatnya produksi dalam negeri dan penguatan cadangan pangan pemerintah.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan domestik, tetapi juga berkontribusi terhadap dinamika pasar beras global.

Dok. Freepik Ilustrasi beras.

Di tengah perubahan tersebut, data terbaru menunjukkan produksi beras nasional pada 2026 tetap berada dalam tren positif meskipun menghadapi sejumlah dinamika pada level produksi bulanan.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyampaikan, penguatan produksi dalam negeri menjadi faktor utama dalam perubahan tersebut.

“Dulu saat Indonesia masih impor beras hingga sekitar 7 juta ton, harga pangan dunia bisa mencapai sekitar 660 dollar AS per ton. Ketika kita berhasil memperkuat produksi dalam negeri dan menekan impor secara signifikan, harga dunia ikut turun, bahkan sempat berada di kisaran 340 dollar AS per ton,” ujar Amran, dikutip dari laman resmi Bapanas, Senin (4/5/2026).

Produksi beras 2025 surplus

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025, produksi beras nasional mencapai 34,69 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi nasional berada di kisaran 31,16 juta ton.

Dengan demikian, terdapat surplus produksi yang memungkinkan Indonesia tidak melakukan impor beras sepanjang tahun tersebut.

Freepik/zirconicusso Ilustrasi beras.

Surplus ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Selain itu, kondisi ini juga berdampak terhadap harga beras dunia.

Data The Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa indeks harga beras internasional atau FAO All Rice Price Index (FARPI) mengalami penurunan sepanjang 2025.

Pada November 2025, indeks FARPI bahkan berada di level 96,9, yang merupakan titik terendah dalam empat tahun terakhir.

Capaian tersebut tidak terlepas dari kebijakan penguatan produksi domestik serta pengelolaan cadangan beras pemerintah.

“Stok beras kita saat ini mencapai sekitar 5,12 juta ton. Ini tertinggi selama Republik Indonesia berdiri. Sebelumnya, pada tahun 1984 stok pernah berada di angka sekitar 2,6 juta ton,” kata Amran.

Dinamika produksi beras 2026

Memasuki 2026, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya dinamika dalam produksi beras, khususnya pada awal tahun.

Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Maret 2026, produksi beras pada bulan tersebut diperkirakan sebesar 5,04 juta ton.

Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,19 juta ton atau 3,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,23 juta ton beras.

Penurunan tersebut sejalan dengan berkurangnya luas panen padi pada Maret 2026 yang tercatat sebesar 1,61 juta hektare, turun 3,16 persen dibandingkan Maret 2025.

Selain itu, produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) juga turun menjadi 8,75 juta ton dari sebelumnya 9,08 juta ton.

Namun, secara kumulatif, produksi beras nasional tetap menunjukkan tren meningkat.

FREEPIK/FREEPIK ilustrasi beras. Kementan menemukan praktik beras oplosan, demikian juga Bapanas juga temukan praktik oplosan beras medium dan premium masih terjadi di pasar.

Pada periode Januari–Juni 2026, produksi beras diperkirakan mencapai 19,31 juta ton, meningkat sekitar 0,05 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 19,26 juta ton.

Potensi produksi juga masih cukup besar. Untuk periode April–Juni 2026, produksi beras diperkirakan mencapai 9,61 juta ton, yang menjadi penopang utama ketersediaan beras nasional pada paruh pertama tahun ini.

Produksi padi dan sebaran wilayah

Dari sisi hulu, produksi padi nasional juga mencerminkan penguatan.

BPS melaporkan, pada periode Januari–Juni 2026, produksi padi diperkirakan mencapai 40,08 juta ton Gabah Kering Panen (GKP), meningkat 0,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG), produksi padi pada periode yang sama mencapai 33,52 juta ton, atau meningkat 0,26 persen secara tahunan.

Kontribusi terbesar terhadap produksi nasional masih didominasi oleh provinsi di Pulau Jawa. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat tercatat sebagai tiga daerah dengan produksi padi tertinggi pada semester pertama 2026.

Sebaliknya, wilayah seperti Kepulauan Riau, Papua Pegunungan, dan DKI Jakarta menjadi daerah dengan produksi terendah.

Distribusi produksi ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap sentra produksi utama masih cukup tinggi, meskipun sejumlah daerah di luar Jawa mulai menunjukkan peningkatan kontribusi.

Kesejahteraan petani meningkat

PIXABAY/DEZALB Ilustrasi petani.

Penguatan produksi beras juga berdampak terhadap kesejahteraan petani. Data BPS menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan secara nasional sejak Juli 2024 konsisten berada di atas 120.

Bahkan, indeks tertinggi dalam tujuh tahun terakhir tercatat pada Desember 2025 dan Februari 2026 yang mencapai 126,11.

Selain itu, indeks harga yang diterima petani padi juga menunjukkan tren positif.

Sejak Juni 2024, indeks ini konsisten berada di atas 130 poin, dan pada Maret 2026 mencapai 144,52, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 137,94.

Amran menegaskan, keberhasilan sektor pangan tidak hanya diukur dari sisi produksi, tetapi juga kesejahteraan petani.

“Keberhasilan sektor pangan tidak hanya diukur dari produksi yang meningkat, tetapi juga dari kesejahteraan petani yang semakin baik serta kontribusi Indonesia terhadap stabilitas pangan dunia,” tutur dia.

Penurunan impor beras dan dampak global

Keberhasilan Indonesia dalam meningkatkan produksi beras juga tercermin dari penurunan impor secara signifikan.

Laporan Rice Outlook April 2026 dari United States Department of Agriculture (USDA) mencatat Indonesia sebagai negara dengan penurunan impor beras terbesar dibandingkan sekitar 80 negara lainnya.

Indonesia tercatat mengalami penurunan impor hingga 3,8 juta ton pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan impor ini tidak hanya berdampak domestik, tetapi juga memengaruhi keseimbangan pasar global. Di tengah berkurangnya permintaan impor dari Indonesia, sejumlah negara eksportir mulai menghadapi tekanan.

PIXABAY/MOHD SYAHIDEEN OSMAN Ilustrasi beras.

Sebagai contoh, dikutip dari Khaosod, ekspor beras Thailand pada Januari 2026 tercatat sebesar 530.000 ton, turun 17,5 persen secara tahunan. Nilai ekspornya bahkan merosot 30,7 persen menjadi 9,7 miliar baht.

Sepanjang 2026, ekspor beras Thailand diproyeksikan hanya mencapai 7,03 juta ton, turun 11 persen dibandingkan 7,9 juta ton pada 2025, sekaligus menjadi level terendah dalam lima tahun terakhir.

Tekanan terhadap ekspor Thailand dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari penguatan mata uang baht yang membuat harga beras menjadi kurang kompetitif, hingga meningkatnya persaingan global.

Harga beras melati Thailand tercatat sekitar 1.200 dollar AS per ton, lebih tinggi dibandingkan beras basmati India sekitar 970 dollar AS per ton, serta beras Vietnam dan Kamboja di kisaran 800 hingga 830 dollar AS per ton.

Selain itu, kebijakan pembatasan impor di sejumlah negara, termasuk Indonesia yang memperkuat produksi dalam negeri, turut menekan permintaan global.

Target produksi dan swasembada beras

Pemerintah menargetkan produksi beras nasional pada 2026 tetap berada dalam tren peningkatan guna menjaga keberlanjutan swasembada pangan.

Dengan capaian produksi 2025 sebesar 34,69 juta ton dan proyeksi produksi semester I 2026 yang mencapai 19,31 juta ton, pemerintah berupaya menjaga produksi tahunan agar mampu melampaui kebutuhan konsumsi nasional.

Upaya ini dilakukan melalui peningkatan luas tanam, optimalisasi produktivitas, serta penguatan cadangan beras pemerintah.

Swasembada beras menjadi salah satu agenda utama pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan.

Dengan tidak adanya impor beras sepanjang 2025, pemerintah menargetkan kondisi tersebut dapat dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya.

SHUTTERSTOCK/SURAKIT SAWANGCHIT Ilustrasi beras.

Selain itu, penguatan sistem pangan juga diarahkan untuk meningkatkan kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas pangan global.

Amran menegaskan, upaya tersebut tidak hanya berorientasi pada kebutuhan domestik, tetapi juga memiliki dampak lebih luas.

“Ketahanan pangan yang kita bangun hari ini bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga memberi dampak bagi dunia,” katanya.

Tantangan produksi ke depan

Meski tren produksi menunjukkan penguatan, sejumlah tantangan tetap perlu diantisipasi. Penurunan produksi pada Maret 2026 menunjukkan bahwa faktor musiman dan dinamika luas panen masih menjadi variabel penting dalam menentukan produksi beras.

Selain itu, potensi penurunan luas panen pada periode April–Juni 2026 yang diperkirakan mencapai 3,16 juta hektare atau turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya juga menjadi perhatian.

Namun demikian, peningkatan produksi secara kumulatif menunjukkan bahwa sistem produksi nasional masih mampu menjaga stabilitas pasokan.

Di sisi global, peningkatan produksi di sejumlah negara serta kebijakan swasembada pangan di berbagai negara juga menjadi faktor yang akan memengaruhi keseimbangan pasar beras ke depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#beras #impor-beras #harga-beras #swasembada-beras #produksi-beras #indepth

https://money.kompas.com/read/2026/05/04/151500226/impor-beras-ditekan-produksi-dalam-negeri-jadi-penopang-utama