Pemerintah Dorong Internet Murah, Pengamat: Beban Regulasi Perlu Ditata Ulang

Pemerintah Dorong Internet Murah, Pengamat: Beban Regulasi Perlu Ditata Ulang

Pemerintah dorong internet murah, pengamat sarankan penataan ulang beban regulasi telekomunikasi untuk capai akses internet cepat dan terjangkau di Indonesia.

(Bisnis.Com) 02/02/26 18:03 122972

Bisnis.com, JAKARTA— Pengamat menilai peningkatan kecepatan internet di Indonesia dan keterjangkauan harga dapat dicapai apabila beban regulasi di industri telekomunikasi ditata ulang.

Pengamat Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Joseph Matheus Edward mengatakan pembangunan akses internet yang merata dan terjangkau harus terwujud. Untuk itu, belanja modal (capital expenditure/capex) dan belanja operasional (operational expenditure/opex) operator harus tetap layak secara bisnis dan berkelanjutan.

“Khususnya untuk seluler, permasalahan saat ini salah satunya adalah beban regulasi [baik perizinan dan lain-lain) ataupun adanya OTT [over the top],” kata Ian kepada Bisnis pada Senin (2/2/2026).

Ian menilai beban regulasi perlu dihitung ulang dengan mempertimbangkan dampak sosial, ekonomi, hingga aspek kedaulatan. Dengan begitu, biaya regulasi dapat menjadi lebih proporsional, termasuk melalui perlakuan yang setara terhadap OTT, sehingga upaya pemerataan internet yang terjangkau bisa lebih cepat terealisasi.

Untuk memperluas jangkauan, Ian mengatakan diperlukan capex operator seluler yang lebih besar disertai insentif untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dia menjelaskan setiap pembangunan di wilayah 3T yang berdampak pada perluasan cakupan akan dikembalikan ke skema Universal Service Obligation (USO) non-cash.

Sementara pembangunan yang berdampak pada Asta Cita, seperti peningkatan kemakmuran dan keamanan serta terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), akan dikembalikan sebagai penyertaan negara dalam perluasan cakupan dalam bentuk beban regulasi yang proporsional sesuai asesmen yang berwenang.

“Fiberisasi atau open backbone harus dilakukan secara masif/menyeluruh dan terencana. Tentu kemudahan pembangunan di lapangan yang melibatkan seluruh stakeholder,” katanya.

Pekerja memperbaiki menara telekomunikasi
Pekerja memperbaiki menara telekomunikasi

Pengamat telekomunikasi ITB lainnya, Agung Harsoyo, mengatakan harga layanan internet terbentuk dari struktur biaya (cost structure), antara lain perizinan dan pungutan saat penggelaran infrastruktur oleh pemerintah daerah, Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) lain, serta harga perangkat.

“Dari hal ini nampak, bukan hanya persoalan teknis semata,” kata Agung.

Menurut Agung, baik pemerintah pusat maupun daerah perlu meninjau ulang regulatory cost yang ditanggung operator. Apabila biaya regulasi turun, harga yang dibayar pelanggan juga berpotensi turun. Alternatif lainnya, operator dapat melakukan efisiensi melalui optimalisasi aset yang telah tergelar, meningkatkan praktik infrastructure sharing, serta menerapkan model kerja sama bisnis dengan OTT, baik lokal maupun global.

Lelang Frekuensi Lebih Murah

Sementara itu, pengamat telekomunikasi Kamilov Sagala menilai agenda regulator Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terkait penetrasi internet yang terjangkau perlu diikuti dengan keputusan strategis pada lelang frekuensi berikutnya.

“Lelang frekuensi 1,4 Ghz sudah selesai, sedangkan yang frekuensi di 700 Mhz,2.6 Ghz belum ada kabar,” kata Kamilov.

Industri telekomunikasi seluler, lanjutnya, masih menunggu proses lelang tersebut, terutama karena pengembangan jaringan generasi kelima (fifth generation/5G) membutuhkan pita frekuensi 700 MHz.

Kamilov menekankan pentingnya implementasi kebijakan di lapangan agar tidak menambah beban baru bagi industri, baik dari instansi pemerintah maupun aparat penegak hukum, karena akan berdampak pada biaya produksi dan harga jual ke konsumen.

“Dan juga bisa mengganggu berkelanjutannya layanan internet terjangkau,” katanya.

Menara pemancar jaringan 5G
Menara pemancar jaringan 5G

Lelang Murah Percepat Penggelaran 5G

Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengatakan industri perlu menyeimbangkan investasi antara penguatan 5G di kota besar dan optimalisasi jaringan generasi keempat (fourth generation/4G) di daerah melalui berbagi infrastruktur, pemanfaatan jaringan bersama, serta model bisnis kolaboratif dengan pemerintah dan penyedia menara.

“Selain itu, adopsi teknologi yang lebih efisien, percepatan alokasi spektrum baru, serta skema pembiayaan yang inovatif penting untuk menekan biaya operasional sehingga layanan bisa lebih cepat dan terjangkau bagi masyarakat,” kata Heru.

Heru menambahkan tantangan utama mencakup perizinan yang berlapis, kompleks, dan tidak seragam antar daerah, keterbatasan infrastruktur pendukung seperti listrik dan backhaul, serta tingginya biaya pembangunan di wilayah terpencil. Selain itu, ketersediaan spektrum yang memadai juga masih menjadi kendala.

“Kepastian regulasi jangka panjang juga menjadi faktor krusial yang memengaruhi kecepatan dan keberlanjutan penggelaran jaringan,” katanya.

Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) merespons arahan Komdigi agar layanan internet semakin cepat dan terjangkau. Sekretaris Jenderal ATSI Merza Fachys menilai pernyataan tersebut masih bersifat umum. Menurutnya, layanan internet fixed broadband dan seluler perlu dibedakan karena memiliki karakteristik berbeda.

“Saya yakin kalau seluler harganya sudah sangat murah,” kata Merza ditemui usai acara Indonesia Digital Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

#internet-murah #beban-regulasi #telekomunikasi-indonesia #akses-internet #capex-operator #opex-operator #ott-telekomunikasi #internet-terjangkau #fiberisasi-internet #lelang-frekuensi #jaringan-5g #in

https://teknologi.bisnis.com/read/20260202/101/1949394/pemerintah-dorong-internet-murah-pengamat-beban-regulasi-perlu-ditata-ulang