Fitch Pangkas Prospek RI: Airlangga Beri Respons, Bela MBG hingga Danantara
Fitch menurunkan prospek RI menjadi negatif. Menko Airlangga menegaskan pentingnya mempertahankan program MBG dan Danantara sebagai investasi jangka panjang.
(Bisnis.Com) 05/03/26 12:08 155896
Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan tetap mempertahankan program makan bergizi gratis (MBG) hingga Danantara meski program-program tersebut menjadi sorotan lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings, yang merevisi prospek (outlook) utang Indonesia dari Stabil menjadi Negatif.
Airlangga menilai yang paling krusial adalah Indonesia masih mampu mempertahankan peringkat utang di level \'BBB\' atau masuk dalam kategori layak investasi (investment grade).
"Jadi memang dunia ini outlook-nya lagi diperkirakan akan banyak perubahan dengan perkembangan di Timur Tengah [perang Israel-AS vs Iran]. Tetapi yang penting kan Indonesia tetap investment grade," ujarnya di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Kendati demikian, Airlangga mengaku bahwa revisi prospek dari Fitch tersebut menjadi perhatian khusus pemerintah. Dia mengaku akan melakukan mengevaluasi dan memperbaiki arah kebijakan ke depan, terutama dalam memitigasi risiko dari sisi penerimaan negara yang dinilai lemah oleh Fitch.
Pemerintah, sambungnya, tengah berupaya keras mengerek tax ratio alias rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB). Fitch sendiri menyoroti bahwa rasio pendapatan negara terhadap PDB Indonesia hanya akan mencapai rata-rata 13,3% terhadap PDB selama periode 2026—2027, jauh tertinggal dari median negara setara di kategori \'BBB\' yang berada di level 25,5%.
Airlangga menyatakan salah satu upaya yang sedang didorong bersama Kementerian Keuangan adalah implementasi pembaruan sistem inti administrasi perpajakan alias Coretax. "Nah, kita akan terus kawal aja Coretax ini agar rasio tax kita bisa kita tingkatkan," jelasnya.
Lebih lanjut, Airlangga juga menanggapi sorotan Fitch terhadap tingginya belanja sosial pemerintah, khususnya program MBG yang menelan porsi 1,3% terhadap PDB untuk periode 2025-2029, yang dinilai menjadi motor penggerak utama beban pengeluaran negara.
Mantan Menteri Perindustrian itu pun membela pelaksanaan MBG. Menurutnya, berdasarkan studi dari World Bank dan Rockefeller Foundation, program MBG bukan beban melainkan investasi sumber daya manusia (SDM) jangka menengah dan panjang.
"Dengan pelaksanaan MBG yang masif dan baik, investasi US$1 itu menghasilkan US$7. Jadi itu adalah sebuah investasi dan banyak negara melakukan itu, bahkan Amerika pun melakukan itu. Ini adalah tantangan long term dan medium term, yang tidak bisa kita menghilangkan long term hanya untuk short term," ujarnya.
Terkait evaluasi pelaksanaan program tersebut, Airlangga menyatakan bahwa MBG baru saja berjalan sehingga pemerintah akan terus melakukan pemerataan secara bertahap di lapangan.
Selain MBG, kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) juga masuk dalam catatan negatif Fitch. Lembaga pemeringkat yang berbasis di New York dan London itu memperingatkan potensi risiko kewajiban kontinjensi (contingent liability) bagi negara apabila mandat Danantara meluas ke aktivitas kuasi-fiskal melalui skema investasi berbasis utang (leverage).
Menyikapi sorotan tersebut, Airlangga menilai keraguan investor wajar terjadi mengingat Danantara adalah lembaga yang masih seumur jagung.
"Danantara kan organisasi Sovereign Wealth Fund yang baru. Tentu belum semuanya kenal dan track record-nya diperlukan. Oleh karena itu, perhatian [Fitch] itu menjadi catatan," tuturnya.
Mengenai upaya pembuktian kinerja dan transparansi lembaga investasi tersebut ke depan, Airlangga menyerahkan prosesnya secara penuh kepada manajemen Danantara.
Sebagai catatan, Fitch Ratings merevisi prospek Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating (IDR) Indonesia menjadi Negatif dari sebelumnya Stabil, seiring dengan ditahannya peringkat utang di level \'BBB\' pada Rabu (4/3/2026).
"Peringkat ini tertahan oleh penerimaan negara yang lemah, tingginya biaya pembayaran utang, serta sejumlah faktor struktural yang tertinggal seperti indikator tata kelola dibandingkan dengan negara-negara lain yang berada pada peringkat \'BBB\'," tulis Fitch dalam pernyataan resminya, Rabu (4/3/2026).
#indonesia-outlook-negatif #fitch-ratings-indonesia #airlangga-hartarto #makan-bergizi-gratis #program-danantara #peringkat-utang-indonesia #investment-grade-indonesia #tax-ratio-indonesia #coretax-ind