Purbaya Lakukan Evaluasi Komprehensif Redam Gejolak Harga Minyak ke APBN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan mengevaluasi dampak lonjakan harga minyak global terhadap APBN 2026, memastikan ekonomi tetap stabil.
(Bisnis.Com) 09/03/26 14:58 159214
Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa segera melakukan evaluasi komprehensif untuk meredam efek pergerakan harga minyak global yang melonjak signifikan terhadap pengelolaan anggaran.
Purbaya menuturkan bahwa langkah-langkah fiskal yang akan diambil nantinya tidak akan mengorbankan tren pemulihan ekonomi nasional. Purbaya menilai, geliat ekonomi domestik saat ini masih berada pada fase ekspansi seperti yang terlihat dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2025 yang mencapai 4,39%.
Dia juga mengklaim bahwa lonjakan harga energi yang baru terjadi belum berpengaruh ke domestik. "Saya belum melihat gangguan dari aktivitas ekonomi dalam negeri gara-gara harga yang naik tinggi, tapi kan baru sebentar. Tapi yang jelas, kita akan pastikan momentum pertumbuhan ekonomi tidak terganggu," kata Purbaya.
Oleh karena itu, dia meminta berbagai pihak untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa harga minyak akan terus bertahan di level US$100 atau bahkan menyentuh US$150 per barel yang dinilai dapat membuat APBN jebol.
Purbaya meminta masyarakat tidak panik karena pemerintah tidak akan terlambat ambil keputusan. Dia mengingatkan bahwa pemerintah sudah beberapa kali pernah menghadapi menaikkan harga minyak dunia.
"Kita udah mengalami harga minyak tinggi berapa kali, kan banyak. Enggak hancur negaranya, kan? Kenapa? Karena kebijakannya pas," katanya.
Tetap Mewaspadai
Di sisi lain, Purbaya memastikan bahwa pihaknya akan mewaspadai lonjakan harga minyak dunia yang sempat melampaui level US$100 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dia menyatakan pemerintah akan terus mengawal dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap postur APBN 2026. Otoritas fiskal, sambungnya, akan berupaya untuk menyerap guncangan agar tidak merusak fundamental fiskal.
"Hitungan kita kan setahun penuh. Rata-rata setahun berapa? Kalau rata-rata setahun US$100 [per barel], berarti kan naik terus ke atas. Jadi, kita lihat kondisi APBN kita seperti apa. Yang jelas, kita coba absorb shock [menyerap guncangan] semaksimal mungkin," ujarnya saat ditemui Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Sebagai informasi, melansir Bloomberg, pada Senin (9/3/2026) pukul 12.55 waktu Singapura, harga minyak mentah Brent meroket hingga 23,9% menjadi US$116,1 per barel pada pembukaan perdagangan. Jenis West Texas Intermediate (WTI) juga melambung hingga 25,2% ke level US$116,1 per barel. Lonjakan ini membawa risiko bagi kas negara.
Berdasarkan analisis sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan asumsi dasar ekonomi makro, Kemenkeu mencatat setiap kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar US$1 per barel berpotensi menambah defisit anggaran hingga Rp6,8 triliun.
Adapun, APBN 2026 mematok asumsi ICP di level US$70 per barel. Artinya, jika tren lonjakan harga minyak global ini bertahan maka selisih asumsi dan realisasi ICP berisiko membebani ruang fiskal pemerintah tahun ini.
#harga-minyak #purbaya-yudhi-sadewa #evaluasi-komprehensif #pengelolaan-anggaran #pemulihan-ekonomi #pertumbuhan-ekonomi #lonjakan-harga-energi #harga-minyak-global #apbn-2026 #kebijakan-fiskal #harga