Belanja Negara Ngebut, Defisit APBN Kuartal I/2026 Tembus Rp240,1 Triliun

Belanja Negara Ngebut, Defisit APBN Kuartal I/2026 Tembus Rp240,1 Triliun

Defisit APBN Q1 2026 mencapai Rp240,1 triliun akibat akselerasi belanja negara, tumbuh 140,5% YoY. Penerimaan negara Rp574,9 triliun, naik 10,5% YoY.

(Bisnis.Com) 06/04/26 12:51 182564

Bisnis.com, JAKARTA — APBN 2026 sampai dengan kuartal I/2026 membukukan defisit Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB. Selisih ini utamanya akibat belanja negara yang semakin terakselerasi.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa kepada Komisi XI DPR, Senin (6/4/2026). Dia memastikan pihaknya terus memonitor perkembangan pengelolaan APBN.

"Jadi ketika ada defisit, masyarakat jangan kaget. Memang anggaran kita didesain defisit, kalau saya belanjakan lebih merata sepanjang tahun kan harusnya di triwulan pertama sekarang lebih besar triwulan pertama tahun lalu defisitnya," ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Berdasarkan data APBN sampai dengan 31 Maret 2026, defisit fiskal Rp240,1 triliun itu tumbuh 140,5% (YoY) dari periode yang sama tahun lalu yakni Rp99,8 triliun (0,41% terhadap PDB).

Pertumbuhan yang tinggi ini sejalan dengan akselerasi belanja negara yang dibukukan sebesar Rp815 triliun. Nilai ini tumbuh 31,4% (yoy) dari periode sampai 31 Maret 2025 yakni Rp620,3 triliun.

Purbaya menyebut bahwa realisasi belanja negara setiap kuartal I selama ini sekitar 17% terhadap target belanja APBN. Namun, pada kuartal I/2026, dia mencatat realisasi belanja sudah mencapai 21,2% terhadap APBN Rp3.842,7 triliun.

"Orang bertanya kenapa sekarang lebih cepat? Karena kami maunya begitu, kami ingin sekali belanjanya bisa dibelanjakan hampir merata sepanjang tahun sehingga dampak ekonominya lebih signifikan dirasakan sepanjang tahun," kata mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu.

Belanja ini meliputi belanja pemerintah pusat Rp610,3 triliun, yang mencakup kementerian/lembaga Rp281,2 triliun dan non-kementerian/lembaga Rp329,1 triliun. Sementara itu, transfer ke daerah (TKD) sudah dibelanjakan Rp204,8 triliun.

Di sisi lain, penerimaan negara terealisasi Rp574,9 triliun. Pertumbuhannya mencapai 10,5% (yoy) dari periode tahun lalu yakni Rp520,4 triliun. Penerimaan ini meliputi pajak Rp394,8 triliun, kepabenan dan cukai Rp67,9 triliun serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp112,1 triliun.

Khusus penerimaan pajak, pertumbuhannya melandai dari dua bulan pertama 2026 yang tumbuh masing-masing di atas 30% (yoy). Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai masih terkontraksi sebesar 12,6% (YoY).

"Penerimaan pajak neto tumbuh 20,7% dan secara bruto Rp9,9%. Hal ini menunjukkan kualitas penerimaan pajak konsisten membaik dan basis pajak yang lebih solid," pungkas Purbaya.

Adapun APBN 2026 ditargetkan dengan defisit Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB. Defisit ini berdasarkan target belanja Rp3.842,7 triliun dan penerimaan negara Rp3.153,6 triliun.

#defisit-apbn #belanja-negara #apbn-2026 #defisit-fiskal #penerimaan-negara #belanja-pemerintah-pusat #transfer-ke-daerah #penerimaan-pajak #pertumbuhan-ekonomi #akselerasi-belanja #realisasi-belanja #n-a

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260406/10/1964469/belanja-negara-ngebut-defisit-apbn-kuartal-i2026-tembus-rp2401-triliun