Klaim Purbaya soal Modal Asing Guyur RI Realistis atau Omon-omon?

Klaim Purbaya soal Modal Asing Guyur RI Realistis atau Omon-omon?

Indonesia saat ini dinilai berada pada posisi paradoks. Fundamentalnya masih menjual, tetapi sentimennya belum pulih.

(CNN Indonesia) 17/04/26 07:20 194073

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim arus modal asing ke Indonesia, baik ke instrumen pendapatan tetap maupun ekuitas, akan mengalami peningkatan.

Klaim tersebut dilontarkan usai ia melakukan pertemuan dengan International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia, lembaga pemeringkat internasional, serta 18 lembaga investasi global di Washington DC, Amerika Serikat (AS).

Purbaya menyebut IMF, Bank Dunia, serta investor global menilai positif arah kebijakan fiskal Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto. Indonesia dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara cepat tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian fiskal.

Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu menilai arus modal asing tidak lama lagi akan masuk ke Indonesia dan mendorong pasar modal ke level yang lebih tinggi.

Lantas, apakah klaim tersebut realistis atau hanya sebatas omon-omon?

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai klaim tersebut realistis sebagai harapan kebijakan, tetapi belum mencerminkan kondisi pasar saat ini.

Menurut dia, secara fundamental Indonesia masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 5,11 persen, pertumbuhan kuartal I 2026 sebesar 5,39 persen, dan inflasi pada April sebesar 3,48 persen.

[Gambas:Youtube]

Selain itu, rasio utang terhadap PDB tercatat sebesar 39,75 persen dan peringkat utang masih berada pada level investment grade.

Berbagai indikator tersebut memang memberi bahan bagi pemerintah untuk meyakinkan IMF, World Bank, lembaga pemeringkat, dan investor global bahwa Indonesia tetap kredibel.

"Masalahnya, pasar belum memberi konfirmasi penuh," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (16/4).

Ia menilai pasar belum memberi konfirmasi karena rupiah masih berada di kisaran Rp17.125 per dolar AS dan sempat menyentuh rekor Rp17.150.

Selain itu, Bank Indonesia juga masih harus menegaskan kesiapan menggunakan seluruh instrumen moneter untuk menjaga stabilitas.

Kondisi tersebut dinilai menunjukkan arus dana asing belum benar-benar berbalik kuat

Oleh karena itu, klaim Purbaya dinilai lebih tepat dibaca sebagai upaya membangun kepercayaan pasar, bukan fakta bahwa dana asing sudah atau pasti segera mengalir deras.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira juga menilai klaim tersebut masih prematur. Ia menyoroti lembaga pemeringkat S&P yang masih memasukkan Indonesia sebagai negara paling rentan di Asia Tenggara.

"Ada yang tidak sinkron antara laporan lembaga pemeringkat rating dengan klaim pemerintah," katanya.

Senada, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai klaim Purbaya masih terlalu dini.

Ia mengatakan pertemuan internasional memang membangun sentimen, tetapi belum tentu berujung pada realisasi investasi.

Investor global, menurut dia, tidak masuk karena pertemuan, melainkan karena kredibilitas kebijakan. Apalagi arus yang dibahas lebih banyak terkait investasi portofolio yang sangat sensitif terhadap perubahan risiko.

"Tanpa perbaikan fundamental, narasi \'arus deras\' ini kemungkinan besar hanya berhenti sebagai optimisme jangka pendek," kata Yusuf.

Indonesia Masih Menarik Bagi Investor?

Syafruddin Karimi menilai Indonesia sebenarnya masih menarik bagi investor karena pertumbuhan yang solid, inflasi terkendali, rasio utang moderat, pasar obligasi besar, dan peringkat utang layak investasi. Nilai marketable debt outstanding Indonesia juga menjadi yang terbesar di ASEAN.

Namun, daya tarik itu berkurang ketika investor melihat rupiah terus melemah, cadangan devisa turun dari US$151,9 miliar menjadi US$148,2 miliar, serta tekanan global akibat geopolitik dan lonjakan harga energi.

"Dalam situasi risk-off, investor tidak hanya menilai fundamental, tetapi juga kecepatan respons kebijakan, arah kurs, dan potensi capital loss di pasar keuangan," ujar Syafruddin.

Itulah sebabnya Indonesia saat ini dinilai berada pada posisi paradoks. Fundamentalnya masih menjual, tetapi sentimennya belum pulih.

Yusuf Rendy Manilet juga mengatakan Indonesia masih menarik di bagi investor bila dilihat dari atas kertas. Pertumbuhan relatif stabil, pasar besar, dan fiskal sejauh ini terlihat terjaga.

"Namun, investor tidak membeli cerita hari ini. Mereka membeli ekspektasi ke depan," ujar Yusuf.

Yusuf mengingatkan risiko akan semakin besar jika eskalasi di Selat Hormuz berlanjut dan harga minyak melonjak. Kondisi tersebut dapat menekan fiskal Indonesia karena pemerintah harus memilih antara menaikkan harga energi atau menambah subsidi.

Menurut dia, Indonesia cenderung menahan harga energi yang berarti belanja negara berpotensi meningkat signifikan dalam waktu cepat.

Masalahnya, kata dia, hal itu terjadi ketika struktur fiskal Indonesia belum cukup kuat. Penerimaan negara masih rentan terhadap pelambatan ekonomi, sedangkan kebutuhan belanja, baik untuk perlindungan sosial, energi, maupun program prioritas, terus meningkat.

Jadi, kenaikan belanja akibat shock energi tidak datang dalam ruang kosong, tapi menekan struktur fiskal yang sudah sempit.

Di titik itu, risiko pelebaran defisit bukan sekadar kemungkinan, tapi konsekuensi logis jika tidak ada penyesuaian kebijakan yang tegas.

"Yang sering luput, investor membaca ini sangat cepat. Mereka tidak menunggu defisit benar-benar melebar. Mereka bereaksi pada arah kebijakan," ujar Yusuf.

Kalau terlihat pemerintah cenderung menahan harga energi tanpa strategi pembiayaan yang jelas atau mengandalkan utang tanpa narasi fiskal yang kredibel, maka persepsi risiko dinilai akan langsung naik. Dampaknya bukan hanya ke defisit, tapi ke biaya utang, nilai tukar, dan stabilitas pasar keuangan.

Sederet Hambatan Investor Masuk RI

Syafruddin Karimi mengatakan hambatan utama investor masuk ke Indonesia saat ini berasal dari tiga faktor.

Pertama, tekanan eksternal seperti penguatan dolar, konflik geopolitik, dan kenaikan harga energi yang mendorong investor keluar dari emerging markets.

"Thailand mengalami arus keluar besar saat guncangan energi meningkat dan pola regional ini memberi peringatan bahwa Indonesia bisa ikut terkena gelombang yang sama," ujar Syafruddin.

Kedua, tekanan domestik di pasar keuangan, terutama rupiah yang lemah membuat investor takut masuk terlalu cepat karena risiko kurs dapat menghapus imbal hasil portofolio.

Ketiga, pasar masih menunggu bukti, bukan janji. Investor disebut ingin melihat stabilitas kurs, arah kebijakan yang konsisten, dan koordinasi fiskal-moneter yang kuat sebelum menaikkan eksposur.

Ia menyarankan pemerintah menjaga stabilitas rupiah, memperkuat komunikasi kebijakan, memperdalam basis investor domestik, serta mempercepat penggunaan local currency transaction yang pada Januari-Februari 2026 naik 163 persen menjadi US$8,45 miliar.

Langkah terakhir dinilai penting karena Indonesia tidak cukup hanya mengejar masuknya dolar dari investor asing. Indonesia disebut juga perlu mengurangi kebutuhan dolar dalam perdagangan.

Selain itu, Yusuf Rendy Manilet menilai hambatan investor juga bersifat struktural. Sorotan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) menunjukkan masih adanya isu kepercayaan terhadap kualitas pasar, transparansi, integritas harga, dan kepastian aturan.

"Ini krusial karena tanpa kepercayaan, minat investor tidak akan benar-benar terkonversi menjadi investasi yang bertahan," ujar Yusuf.

Hambatan tidak berhenti di situ. Ia menyebut ada tata kelola pasar yang belum sepenuhnya kredibel, ketidakpastian regulasi, dan arah kebijakan fiskal yang mulai dipertanyakan di tengah tekanan eksternal.

"Dalam konteks itu, investor outreach seperti pertemuan di forum internasional memang penting, tapi bukan penentu utama," ucap Yusuf.

[Gambas:Photo CNN]

#arus-modal-asing #investasi #dana-asing #purbaya-yudhi-sadewa #purbaya #analisis #bank-dunia #imf #prabowo-subianto #yusuf-rendy-manilet #center-of-reform-on-economics #cnnindonesia-com #peme

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260417062217-92-1348938/klaim-purbaya-soal-modal-asing-guyur-ri-realistis-atau-omon-omon