Nilai Tukar Rupiah Lemah, Industri TPT Khawatir Konsumsi Tekstil Merosot
Pelemahan rupiah mengancam daya beli dan konsumsi tekstil. Industri TPT khawatir harga bahan baku impor naik, memicu persaingan ketat dengan produk impor.
(Bisnis.Com) 24/04/26 14:43 201775
Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai berisiko menekan daya beli masyarakat sekaligus memperlambat perputaran ekonomi sektor riil, khususnya industri tekstil dan produk tekstil (TPT).
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp17.300 per dolar AS akan berdampak langsung pada kenaikan harga bahan baku dan biaya logistik yang mayoritas masih bergantung pada impor.
"Dalam jangka pendek menengah akan mendorong naik harga-harga konsumen, karena bahan baku dan biaya logistik juga menjadi lebih mahal. Ini bisa mengakibatkan perputaran ekonomi di sektor riil menurun,” ujar Ketua Umum API Jemmy Kartiwa dalam keterangannya, dikutip Bisnis, Jumat (24/4/2026).
Lebih lanjut, Jemmy memperkirakan pasar domestik tekstil dan garmen masih menghadapi tekanan, terutama akibat penurunan belanja pemerintah dan kenaikan biaya rantai pasok. Di tengah kondisi tersebut, industri dalam negeri juga dihadapkan pada persaingan ketat dengan produk impor, baik legal maupun ilegal.
Dia menyebut harga produk domestik masih tertinggal daripada produk impor. "Kepentingan terkait supply biaya produksi menjadi prioritas untuk dilakukan. Menurunnya daya beli akan berdampak langsung pada konsumsi produk tekstil dan garmen," tegasnya.
Dia menekankan stabilitas nilai tukar menjadi faktor krusial dalam menjaga struktur biaya industri TPT. Selain itu, peningkatan permintaan domestik dinilai dapat didorong melalui optimalisasi belanja pemerintah, khususnya dengan memprioritaskan pengadaan produk dalam negeri. "Sehingga bisa mendongkrak kinerja tekstil garmen di level kecil menengah juga," imbuhnya.
API juga mengapresiasi sinergi antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan dalam mendorong industri padat karya melalui berbagai regulasi baru. Namun demikian, asosiasi menilai upaya perlindungan pasar domestik tetap harus diperkuat untuk menjaga keberlangsungan industri dan penyerapan tenaga kerja.
Ke depan, API berharap pemerintah bersama Bank Indonesia dapat merumuskan strategi untuk meredam fluktuasi nilai tukar guna menjaga stabilitas biaya bahan baku impor, seperti kapas dan serat sintetis, serta mencegah lonjakan biaya operasional industri.
Adapun kinerja ekspor TPT Indonesia pada awal 2026 menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, sektor ini tumbuh 3,55% dengan nilai ekspor mencapai US$12,08 miliar serta mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$3,45 miliar. Produk pakaian jadi masih mendominasi kontribusi ekspor.
Industri TPT juga mencatatkan investasi sebesar Rp20,23 triliun pada kuartal I/2026 dengan penyerapan tenaga kerja mendekati 4 juta orang. Indeks kepercayaan industri pun berada di level 51,86 pada Maret 2026, yang menandakan fase ekspansi.
Kendati demikian, pelaku industri masih menghadapi ketidakpastian terkait perjanjian perdagangan Indonesia-AS, khususnya terkait potensi penerapan tarif nol persen untuk produk tekstil.
API menilai peluang ekspor tetap terbuka melalui kerja sama perdagangan lain seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA), serta ekspor ke pasar Kanada dan Eurasia.
#rupiah-lemah #nilai-tukar-rupiah #industri-tekstil #konsumsi-tekstil #daya-beli-masyarakat #harga-bahan-baku #biaya-logistik #pasar-domestik-tekstil #produk-impor #stabilitas-nilai-tukar #permintaan-d