BPS: Kenaikan BBM Non-Subsidi Tak Berdampak Besar ke Inflasi April 2026

BPS: Kenaikan BBM Non-Subsidi Tak Berdampak Besar ke Inflasi April 2026

Kenaikan BBM non-subsidi April 2026 tak signifikan pengaruhi inflasi karena konsumsi terbatas, dengan inflasi bulanan tercatat 0,13% dan tahunan 2,42%.

(Bisnis.Com) 05/05/26 14:07 211656

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada April 2026 dinilai tidak memberi dampak besar terhadap inflasi nasional karena konsumennya terbatas dan bobot komoditas tersebut dalam perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) relatif kecil.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan pengaruh kenaikan BBM non-subsidi terhadap inflasi secara umum tidak signifikan.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena porsi konsumsi BBM non-subsidi hanya berasal dari kelompok masyarakat tertentu, sehingga kontribusinya terhadap struktur inflasi nasional tergolong rendah.

“Untuk bobot BBM non-subsidi ini relatif rendah. Kenapa rendah, karena BBM non-subsidi dikonsumsinya di kalangan terbatas,” ujarnya usai rilis data BPS Mei 2026, Senin (4/5/2026).

Ateng menambahkan situasi tersebut terlihat pada kenaikan harga avtur yang mendorong tarif angkutan udara. Meski berdampak pada harga jasa transportasi, kontribusinya terhadap inflasi keseluruhan tetap terbatas.

“Karena bobotnya itu tidak besar maka tidak terlalu signifikan dampaknya terhadap inflasi secara umum,” katanya.

BPS mencatat inflasi Indonesia pada April 2026 sebesar 0,13% secara bulanan, lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 0,41%.

Secara tahunan, inflasi April 2026 tercatat sebesar 2,42% dengan Indeks Harga Konsumen mencapai 111,09. Sementara inflasi tahun kalender Januari–April 2026 sebesar 1,06%.

Adapun, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar pada April dengan kenaikan 0,99% dan andil 0,12%.

Komoditas utama pendorong inflasi transportasi berasal dari tarif angkutan udara dengan andil 0,11%, disusul bensin sebesar 0,02%.

Selain itu, sejumlah komoditas pangan turut memberi tekanan terhadap inflasi bulanan, antara lain minyak goreng sebesar 0,05%, tomat 0,03%, serta beras dan nasi dengan lauk masing-masing 0,02%.

Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi April lebih banyak berasal dari sektor jasa transportasi dan pangan, bukan dari penyesuaian harga energi non-subsidi secara langsung.

Kondisi ini memberi ruang bagi pemerintah menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran, meski risiko rambatan harga energi global masih perlu diwaspadai.

#bbm-non-subsidi #inflasi-april-2026 #dampak-inflasi #bps-inflasi #harga-bbm #indeks-harga-konsumen #konsumsi-bbm #inflasi-nasional #tarif-angkutan-udara #jasa-transportasi #inflasi-bulanan #komoditas

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260505/44/1971438/bps-kenaikan-bbm-non-subsidi-tak-berdampak-besar-ke-inflasi-april-2026