Bisnis.com, JAKARTA — Inflasi April 2026 diprakirakan melandai baik secara bulanan maupun tahunan. Tidak adanya efek basis rendah dari tahun lalu serta momen libur panjang menjadi beberapa faktor yang mendorong inflasi lebih rendah bulan lalu.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede memprakirakan inflasi tahunan April 2026 akan melandai ke 2,40% (yoy) dari 3,48% (yoy) pada Maret 2026. Di sisi lain, inflasi bulanan juga melandai ke hanya 0,11% (mom) dari Maret 2026 yaitu 0,41% (mom).
"Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh normalisasi permintaan setelah Ramadan dan Idulfitri yang sudah terjadi penuh pada Maret, sehingga tekanan harga pangan, transportasi, pakaian, dan kebutuhan hari raya mulai mereda pada April," terang Josua kepada Bisnis, Minggu (3/5/2026).
Selain itu, Josua menyebut inflasi April terbantu oleh pengaruh efek basis rendah pada harga tahun lalu yang mereda. Khususnya, terkait dengan diskon tarif listrik pada awal 2025.
Inflasi inti juga diproyeksikan melandai dari 2,52% Maret 2026 ke 2,31% pada April 2026. Kenaikan harga ini termoderasi karena permintaan masyarakat pascalebaran cenderung lebih melandai.
Kendati melandai, Josua mengingatkan bahwa bukan berarti risiko inflasi hilang sepenuhnya. Tekanan harga pangan bergejolak diperkirakan mereda karena harga daging ayam, telur ayam, cabai merah, dan cabai rawit berpotensi turun seiring masuknya masa panen.
Di sisi lain, tekanan dari harga yang diatur pemerintah justru meningkat karena kenaikan harga BBM nonsubsidi dan LPG nonsubsidi, berakhirnya diskon tarif angkutan udara setelah periode mudik, serta tekanan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah.
"Jadi, gambaran inflasi April adalah inflasi umum menurun, tetapi risiko ke depan tetap perlu diwaspadai karena pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi dapat menambah tekanan biaya produksi, transportasi, dan subsidi energi," terangnya.
Adapun Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro memproyeksikan inflasi April 2026 mengalami moderasi secara bulanan ke 0,2% (mom) dan secara tahunan ke 2,5% (yoy).
Senada dengan Josua, Andry melihat adanya normalisasi harga pangan bergejolak setelah Ramadan. Namun, inflasi inti dan harga diatur pemerintah diprakirakan naik menyusul kenaikan harga BBM nonsubsidi April 2026 lalu akibat gejolak harga minyak dunia.
Secara terperinci, harga pangan bergejolak diproyeksikan mengalami deflasi sebesar 0,2% secara bulanan (mom) pada April 2026 berkat berlalunya Ramadan. Inflasi harga bergejolak tercatat sebesar 1,6% (mom) pada bulan sebelumnya.
Beberapa barang pendorong deflasi yaitu cabai rawit (-14,2%), cabai merah (-9,5%), dan telur (-3,7%). Sementara itu, harga minyak goreng dan bawang merah terus naik masing-masing sebesar 3,7% dan 1,6%.
Inflasi inti diramal sebesar 0,2% (mom) atau sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya yaitu 0,1% (mom). Penurunan harga emas sebesar -1,51% (mom) membantu meredam sub-komponen emas, sedangkan pelemahan rupiah terus memberikan tekanan pada barang impor. Risiko kenaikan tambahan berasal dari kenaikan iaya input.
Kemudian, inflasi harga diatur pemerintah diproyeksikan naik lebih tinggi yaitu 0,8% (mom) dari Maret 2026 yakni 0,3% (mom). Ini didorong oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi serta penyesuaian harga energi yang diestimasi rata-rata 60% dibandingkan bulan sebelumnya.
"Dengan estimasi dampaknya ke inflasi bulanan 0,04 poin persentase," ujar Andry, dikutip Minggu (3/5/2026).
Selain harga energi, harga tiket pesawat juga mengalami inflasi 3,13% (mom) meskipun lebih rendah dari periode libur Maret 2026 yaitu 5,24% (mom). Akan tetapi, kenaikan harga tiket pesawat ini didorong oleh naiknya harga avtur.