Krisis Energi Global Memanas, Pasokan Domestik Jadi Prioritas
Krisis energi global akibat konflik Timur Tengah memaksa Indonesia memprioritaskan keamanan pasokan LNG domestik untuk menjaga stabilitas ekonomi dan industri.
(Bisnis.Com) 18/05/26 14:30 223710
Bisnis.com, JAKARTA — Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai meningkatkan risiko krisis energi global dan memberi tekanan terhadap pasokan serta harga liquefied natural gas (LNG) dunia, termasuk di Indonesia.
Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus Rektor Institut Teknologi PLN Iwa Garniwa mengatakan dalam kondisi krisis geopolitik, keamanan pasokan energi harus menjadi prioritas utama dibandingkan harga.
“Di krisis geopolitik prioritas utama adalah security of supply, bukan harga. Kalau energinya tidak ada, harga murah pun tidak ada gunanya,” ujar Iwa dalam keterangan tertulis, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, negara yang tidak memiliki kontrak jangka panjang, infrastruktur regasifikasi fleksibel, serta cadangan strategis akan kesulitan bersaing mendapatkan pasokan energi global.
Dia menilai energi menjadi faktor vital bagi keberlangsungan ekonomi nasional karena berkaitan langsung dengan aktivitas industri, pasokan listrik, hingga rantai distribusi barang.
“Tanpa listrik dan gas untuk industri, pabrik berhenti, rantai pasok putus, inflasi meningkat,” katanya.
Iwa menjelaskan lonjakan harga energi global juga mulai terasa di Indonesia. Harga LPG industri tercatat meningkat sekitar 25%–26%, sementara solar industri melonjak sekitar 77%–84% mengikuti kenaikan harga energi global.
Adapun, harga LNG domestik dinilai masih tertahan karena menggunakan kontrak lama. Namun, dia memperkirakan tekanan kenaikan harga akan muncul dalam waktu dekat seiring melonjaknya harga acuan LNG internasional.
Dia mencatat eskalasi konflik Timur Tengah sejak Februari 2026 telah mendorong kenaikan Japan Crude Cocktail (JCC) sekitar 97% dan Japan Korea Marker (JKM) sekitar 111% sepanjang Maret–April 2026. Kenaikan tersebut turut mengerek Indonesian Crude Price (ICP) sekitar 99% dibandingkan asumsi awal tahun.
Menurut Iwa, kondisi tersebut menciptakan tekanan besar terhadap rantai pasok LNG global sehingga pemerintah perlu memprioritaskan keamanan pasokan domestik.
“Untuk mengamankan LNG domestik, kita harus ubah mindset dari jual semurah mungkin menjadi jamin pasokan dulu, harga dikelola,” ujarnya.
Dia juga menilai pemerintah perlu mempertimbangkan pengalihan sebagian pasokan LNG ekspor untuk memenuhi kebutuhan domestik, terutama guna menjaga keberlangsungan sektor industri nasional.
Selain itu, gas bumi dinilai tetap memiliki daya saing dibandingkan energi fosil lainnya meski nantinya terjadi penyesuaian harga LNG domestik.
Berdasarkan perhitungan BPH Migas dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 1 MMBTU gas setara dengan 7 liter solar.
Iwa memperkirakan apabila harga LNG domestik naik menjadi sekitar Rp150.000 per MMBTU, nilainya setara Rp21.400 per liter solar, masih lebih kompetitif dibandingkan harga solar industri nonsubsidi.
Selain lebih efisien, gas juga dinilai memiliki emisi karbon lebih rendah dibandingkan solar maupun batu bara.
“Tanpa gas, transisi energi tidak mungkin berjalan dan kehilangan gas sama saja kehilangan daya saing industri,” katanya.
Dia menambahkan, setelah penyesuaian harga, LNG domestik industri diperkirakan berada di kisaran US$21–25 per MMBTU, masih lebih rendah dibandingkan LPG industri sekitar US$28,3 per MMBTU dan solar industri sekitar US$43 per MMBTU.
#krisis-energi #energi-global #pasokan-energi #lng-dunia #harga-lng #keamanan-pasokan #energi-domestik #konflik-timur-tengah #harga-energi #pasokan-lng #industri-nasional #gas-bumi #emisi-karbon #trans