DEN Klaim APBN Aman, Meski Harga BBM dan LPG 3 Kg Tak Naik
DEN memastikan APBN tetap aman meski harga BBM dan LPG 3 kg tidak naik, berkat diversifikasi pendapatan negara dari sektor nonpajak yang kuat.
(Bisnis.Com) 19/05/26 07:27 224400
Bisnis.com, SURABAYA – Dewan Energi Nasional (DEN) mengeklaim kondisi fiskal negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak terdampak, meski pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite, Biosolar, dan LPG 3 kilogram hingga akhir tahun mendatang di tengah kondisi geopolitik global dewasa ini.
Anggota DEN RI Satya Widya Yudha menjelaskan bahwa kerisauan banyak pihak mengenai potensi pembengkakan beban fiskal akibat kebijakan untuk menahan harga dan pasokan komoditas energi bersubsidi tersebut tidak perlu dibesar-besarkan.
Menurutnya, pemerintah saat ini telah memiliki diversifikasi sumber pendapatan dari berbagai sektor lain, selain yang bersumber dari sektor penerimaan perpajakan, yang disebutnya mampu berkontribusi besar terhadap kas negara.
"Begini, yang mungkin tidak diketahui oleh masyarakat itu adalah bahwa kita mempunyai revenue di tempat lain. Ya, justru kita meningkatkan pendapatan negara, baik itu yang bukan pajak, ya, PNBP kita melalui banyak sekali cara, ya, di sektor mineral, batubara, dan juga di tempat-tempat lain. Itu yang bisa mengompensasi apabila ada shortage dalam fiskal," ujar Satya kepada Bisnis pada sela-sela Sarasehan Energi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Senin (18/5/2026).
Lebih lanjut, Satya menegaskan bahwa kebijakan pemerintah untuk menahan banderol pasokan energi subsidi tersebut dipastikannya tidak akan berdampak pada postur belanja yang telah ditetapkan pada APBN tahun berjalan.
Pendapatan yang didapatkan dari lini lain di luar sektor pajak, baik dari sektor komoditas migas maupun nonmigas, dinilainya cukup mumpuni untuk menyumbang pendapatan kepada negara.
Ketika ditanya mengenai resiliensi dari anggaran negara untuk dapat memberikan subsidi BBM dan LPG 3 kilogram, Satya menegaskan bahwa skenario keuangan pemerintah saat ini masih berjalan sesuai dengan koridor yang direncanakan hingga akhir tahun mendatang.
"Sampai saat ini ya, sampai saat ini, apa kita masih mempunyai perencanaan yang belum berubah sampai dengan akhir tahun," pungkasnya.
Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat bahwa pada periode triwulan I/2026, realisasi pendapatan negara terhitung sebesar Rp574,9 triliun.
Rinciannya, penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp462,7 triliun, yang terdiri atas penerimaan pajak Rp394,8 triliun dan penerimaan kepabeanan dan cukai Rp67,9 triliun. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terealisasi sebesar Rp112,1 triliun atau mencapai 24,4% dari target APBN yang sebesar Rp459,2 triliun.
Namun begitu, pada realisasi belanja APBN hingga 31 Maret 2026, subsidi dan kompensasi tercatat mencapai Rp118,7 triliun atau meroket hingga 266,5% bila dibandingkan dengan kinerja periode yang sama tahun 2025.
Dari Rp118,7 triliun, subsidi mencapai Rp52,2 triliun dan kompensasi Rp66,5 triliun hingga akhir Maret 2026, di mana subsidi yang digelontorkan terdiri atas subsidi BBM sebesar 3.173,6 juta kiloliter, yang melonjak 9,2% dibanding realisasi pada periode yang sama tahun 2025 sebesar 2.906,7 juta kiloliter, dan LPG 3 kilogram dengan realisasi 1.419 juta kilogram atau melesat 7,5% dibanding Maret 2025 yang tercatat sebesar 1.368 juta kilogram.
"Realisasi subsidi dan kompensasi dipengaruhi oleh fluktuasi ICP, depresiasi nilai tukar rupiah, serta peningkatan volume BBM, LPG, dan listrik. Volatilitas harga minyak akibat dinamika geopolitik global dapat meningkatkan realisasi subsidi energi. Indonesia telah memiliki pengalaman menghadapi kondisi tersebut, termasuk saat lonjakan harga energi pada konflik Rusia–Ukraina tahun 2022," tulis Kemenkeu dalam Laporan APBN KiTA.
#apbn #harga-bbm #harga-lpg-3-kg #subsidi-energi #dewan-energi-nasional #fiskal-negara #pendapatan-negara #subsidi-bbm #subsidi-lpg #kebijakan-pemerintah #diversifikasi-pendapatan #penerimaan-perpajaka