Ancaman Kenaikan Harga Pangan Impor Kala Rupiah Melemah
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS memicu kenaikan harga pangan impor di Indonesia, mengancam daya beli dan memicu inflasi impor.
(Bisnis.Com) 19/05/26 07:30 224402
Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menguji ketahanan harga pangan nasional. Ketergantungan tinggi terhadap impor pangan membuat tekanan kurs berpotensi cepat merambat ke harga mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga makanan olahan lainnya pada semester II/2026.
Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.470 hingga Rp17.530 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026). Tekanan kurs menjadi perhatian karena sejumlah komoditas pangan strategis Indonesia masih bergantung pada impor.
Peneliti dan Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics Eliza Mardian mengatakan pelemahan rupiah memiliki dampak signifikan terhadap sektor pangan nasional.
“Sebagian besar komoditas strategis masih bergantung pada impor baik untuk bahan baku, pangan konsumsi, maupun input produksi,” kata Eliza kepada Bisnis, Senin (18/5/2026).
Menurut Eliza, ketergantungan impor Indonesia terhadap sejumlah komoditas pangan masih sangat tinggi. Gandum sepenuhnya impor, kedelai sekitar 90% masih dipenuhi dari impor. Selain itu, bawang putih 95% impor, gula sekitar 60%, serta daging sapi dan kerbau sekitar 54%.
Kondisi pelemahan rupiah ini otomatis meningkatkan biaya impor karena mayoritas transaksi dilakukan menggunakan dolar AS. Pada akhirnya, peningkatan biaya impor ini berisiko menimbulkan kenaikan harga pangan di dalam negeri.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pada komoditas mentah, tetapi juga produk turunannya seperti mi instan, roti, tahu, tempe, dan makanan olahan lainnya.
Eliza menilai kondisi tersebut memunculkan fenomena imported inflation atau inflasi impor, yakni tekanan inflasi yang berasal dari pelemahan nilai tukar dan tingginya ketergantungan terhadap barang impor.
Menurut dia, transmisi pelemahan rupiah ke harga pangan konsumen berlangsung berbeda pada tiap komoditas. Untuk gandum dan kedelai, dampaknya bisa terasa hanya dalam hitungan minggu karena industri pengolahan langsung menghadapi kenaikan biaya bahan baku.
“Jadinya kenaikan harga bahan baku langsung ditransmisikan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga produk di tingkat konsumen,” katanya.
Tekanan tersebut dinilai lebih cepat terasa pada produk olahan dibanding bahan baku mentah karena terdapat efek berantai pada biaya produksi, energi, distribusi, kemasan, dan logistik.
Lantas, bagaimana respons dunia usaha terkait dengan pelemahan rupiah dan dampaknya ke impor pangan?
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira mengatakan pelemahan rupiah memang belum bisa disebut krisis, tetapi sudah menjadi alarm serius bagi pelaku usaha.
“Yang paling dikhawatirkan bukan hanya level kursnya, tetapi volatilitas dan ketidakpastian yang menyertainya,” ujarnya.
Menurut Anggawira, pelaku usaha sebenarnya masih bisa beradaptasi terhadap level kurs tertentu. Namun pergerakan yang terlalu cepat dan sulit diprediksi membuat perusahaan kesulitan menyusun perencanaan bisnis.
Industri makanan dan minuman disebut menjadi salah satu sektor paling sensitif terhadap fluktuasi kurs karena banyak komponen produksinya masih bergantung pada impor atau harga global berbasis dolar AS.
Komponen yang paling cepat terdampak antara lain bahan baku impor, kemasan, energi, dan logistik. Bahkan material packaging seperti resin plastik, aluminium foil, bahan kimia printing, hingga mesin pengemasan masih banyak berasal dari impor.
Akibat tekanan kurs, banyak perusahaan mulai menahan ekspansi, meninjau ulang target pertumbuhan, hingga melakukan efisiensi operasional.
“Kalau tekanan kurs berlangsung panjang, penyesuaian harga hampir tidak terhindarkan. Ini yang perlu diantisipasi karena bisa memicu imported inflation,” kata Anggawira.
Pelaku usaha kecil juga mulai merasakan dampaknya. Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Wibowo Nurcahyo mengatakan kenaikan biaya sudah mulai muncul pada komponen kemasan plastik.
Menurut dia, pengrajin tahu dan tempe kini mulai menyesuaikan ukuran produk untuk menjaga harga jual tetap terjangkau masyarakat.
“Saat ini pengrajin tempe tahu menyesuaikan ukuran besar produknya,” ujarnya.
Di sisi lain, tekanan kurs juga meningkatkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat. Eliza menilai kelompok menengah bawah masih berada dalam kondisi rentan karena porsi pengeluaran pangan rumah tangga Indonesia relatif besar.
Jika pelemahan rupiah berlangsung lama dan diikuti kenaikan harga pangan secara luas, konsumsi rumah tangga berpotensi melemah. Padahal konsumsi domestik menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Situasi ini sekaligus menunjukkan rapuhnya struktur pangan nasional terhadap gejolak global. Pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada pangan impor langsung, tetapi juga biaya produksi pangan domestik karena pupuk, pakan ternak, energi, dan logistik masih sangat dipengaruhi harga berbasis dolar AS.
Oleh karena itu, dunia usaha dan ekonom menilai momentum pelemahan rupiah seharusnya menjadi alarm untuk mempercepat pengurangan ketergantungan impor pangan dan memperkuat industri substitusi impor domestik.
Tanpa pembenahan tersebut, setiap gejolak nilai tukar berpotensi kembali memukul harga pangan, margin industri, dan daya beli masyarakat secara bersamaan.
#harga-pangan #nilai-tukar-rupiah #impor-pangan #pelemahan-rupiah #inflasi-impor #kenaikan-harga-pangan #ketergantungan-impor #komoditas-pangan #biaya-impor #industri-makanan #fluktuasi-kurs #imported