BPS: Cabai Merah, Minyak Goreng, dan Beras Jadi Pendorong Inflasi Mei 2026
Inflasi Mei 2026 mencapai 0,28%, didorong oleh kenaikan harga cabai merah, minyak goreng, dan beras.
(Bisnis.Com) 02/06/26 11:40 237359
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Mei 2026 mencapai 0,28% secara bulanan (month-to-month/mtm), didorong terutama oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan inflasi bulanan tersebut menyebabkan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.
"Pada Mei 2026, terjadi inflasi sebesar 0,28% secara bulanan atau month-to-month atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Secara tahun ke tahun atau yoy, terjadi inflasi sebesar 3,08% dan secara tahun kalender atau year-to-date, terjadi inflasi sebesar 1,35%," kata Pudji dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Selasa (2/6/2026).
Pudji menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan tingkat inflasi 0,39% dan andil sebesar 0,12%. BPS mencatat cabai merah menjadi komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi pada Mei 2026.
“Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi sebesar 0,39% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,12%. Kemudian komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau ini adalah yang pertama cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,08%,” ujarnya.
Selain cabai merah, kenaikan harga minyak goreng dan bawang merah masing-masing menyumbang andil inflasi sebesar 0,04%, disusul tomat sebesar 0,03% dan beras sebesar 0,02%.
Di luar kelompok pangan, komoditas energi turut mendorong inflasi. Bahan bakar rumah tangga tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,03%, sedangkan bensin dan tarif angkutan udara masing-masing menyumbang 0,02%.
Kendati demikian, laju inflasi tertahan oleh sejumlah komoditas yang masih mengalami penurunan harga. Secara terperinci, komoditas yang masih memberikan andil deflasi pada Mei 2026, yakni daging ayam ras dengan andil deflasi 0,06%, emas perhiasan dengan andil deflasi sebesar 0,06%, telur ayam ras dengan andil deflasi sebesar 0,05%.
Lebih lanjut, BPS mencatat seluruh komponen pembentuk inflasi mengalami kenaikan pada Mei 2026. Namun, komponen inti menjadi pendorong terbesar inflasi bulanan. Pudji menyampaikan seluruh komponen mengalami inflasi.
“Inflasi Mei 2026 yang sebesar 0,28% utamanya didorong oleh inflasi pada komponen inti. Komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,22%. Komponen ini memberikan andil inflasi terbesar, yakni 0,14%,” ucapnya.
Pudji menyebut komoditas yang dominan mendorong inflasi inti antara lain minyak goreng, telepon seluler, laptop atau notebook, pelumas atau oli mesin, nasi dengan lauk, serta jasa pemeliharaan atau servis kendaraan. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi sebesar 0,52% dengan andil 0,10%.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga diatur pemerintah adalah bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan solar,” lanjutnya.
Sementara itu, komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 0,22% dengan andil 0,04%. Adapun, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga bergejolak ini adalah cabai merah, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau.
#cabai-merah #minyak-goreng #beras-inflasi #inflasi-mei-2026 #bps-inflasi #kenaikan-harga-pangan #indeks-harga-konsumen #inflasi-bulanan #komoditas-penyumbang-inflasi #kelompok-makanan-minuman #bahan-b