Bapanas Tegaskan Cadangan Beras Aman di Tengah Ancaman El Nino
Bapanas memastikan cadangan beras nasional aman meski ada ancaman El Nino pada 2026, dengan stok akhir diproyeksikan mencapai 16,08 juta ton. Tidak ada impor beras konsumsi umum, hanya beras khusus.
(Bisnis.Com) 06/04/26 12:00 182498
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketahanan cadangan beras pemerintah masih berada pada level aman di tengah risiko gangguan produksi akibat fenomena El Nino \'Godzilla\'.
Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy mengatakan ketersediaan beras nasional saat ini masih sangat mencukupi jika mengacu pada Neraca Pangan Nasional 2026.
“Cadangan beras kita berdasarkan Neraca Pangan masih sangat cukup. Begitu juga untuk komoditas lainnya,” kata Sarwo kepada Bisnis, Senin (6/4/2026).
Berdasarkan proyeksi neraca pangan, stok akhir beras pada 2026 diperkirakan mencapai 16,08 juta ton. Angka tersebut jauh melampaui kebutuhan tahunan nasional, sehingga memberikan bantalan yang cukup kuat terhadap potensi gangguan produksi, termasuk risiko penurunan hasil panen akibat El Nino.
Sarwo juga menegaskan bahwa pemerintah tidak melakukan impor beras untuk kebutuhan konsumsi umum. Dia menjelaskan impor yang ada hanya terbatas pada jenis beras khusus yang memang tidak diproduksi secara optimal di dalam negeri.
“Ada impor beras sedikit, itu beras khusus untuk industri yang tidak tumbuh dengan baik di Indonesia, misal beras japonica, beras basmati, dan sejenisnya. Sedangkan untuk beras reguler tidak ada impor,” ujarnya.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 per Maret 2026 yang diterima Bisnis, ketersediaan sejumlah komoditas pangan strategis diperkirakan mencukupi kebutuhan sepanjang tahun, sehingga stok akhir atau cadangan hingga akhir 2026 diperkirakan tetap berada pada level aman.
Bapanas mencatat beras menunjukkan kondisi yang relatif aman dengan total ketersediaan mencapai 47,18 juta ton, jauh di atas kebutuhan tahunan sebesar 31,1 juta ton. Dengan demikian, stok akhir beras diproyeksikan mencapai 16,08 juta ton hingga 2026. Sementara itu, tidak terdapat impor beras konsumsi pada 2026, kecuali beras khusus.
Untuk kelompok protein hewani dan hortikultura seperti cabai rawit, daging sapi/kerbau, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula, total ketersediaan berada di atas kebutuhan tahunan.
Secara terperinci, ketersediaan cabai rawit mencapai 968.301 ton dengan kebutuhan tahunan 913.615 ton, sehingga stok akhir cabai rawit sebanyak 54.686 ton. Sedangkan ketersediaan cabai besar 994.304 ton dengan kebutuhan tahunan 929.277 ton, sehingga masih terdapat surplus 65.027 pada tahun ini.
Beralih ke komoditas protein, ketersediaan daging sapi/kerbau sebesar 1,11 juta ton dengan kebutuhan tahunan 794.291 ton, sehingga masih terdapat surplus 319.485 ton. Begitu pula dengan komoditas unggas seperti daging ayam ras serta telur ayam ras yang masing-masing surplus 1,7 juta ton dan 949.289 ton hingga akhir tahun.
Ketersediaan daging ayam ras sebesar 5,73 juta ton dengan kebutuhan tahunan 4,02 juta ton. Sedangkan ketersediaan telur ayam ras adalah 7,42 juta ton dengan kebutuhan tahunan 6,47 juta ton.
Kemudian, gula konsumsi juga diproyeksikan mengalami surplus hingga 1,34 juta ton dengan kebutuhan tahunan 2,83 juta ton dan ketersediaan 4,17 juta ton.
Untuk jagung, kedelai, bawang merah, dan bawang putih juga diperkirakan mengalami surplus masing-masing sebesar 4,99 juta ton, 386.483 ton, 37.955 ton, dan 53.105 ton hingga akhir tahun ini.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan potensi kemunculan fenomena super El Nino Godzilla pada 2026 berisiko memperpanjang musim kemarau dan mengganggu ketahanan pangan nasional, khususnya di wilayah sentra produksi padi seperti Pantai Utara (Pantura) Jawa.
BRIN juga menyoroti ancaman kekeringan yang dapat menekan produktivitas pertanian serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan dan Sumatra. Berdasarkan sejumlah model global, fenomena El Nino diperkirakan mulai terjadi pada April 2026 dan berpotensi semakin kuat dengan adanya Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Prof. Erma Yulihastin memandang pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa.
“Selain itu, dampak karhutla [kebakaran hutan dan lahan] di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi. Namun, di saat yang bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi-Halmahera-Maluku dan dampaknya terhadap banjir dan longsor,” ujar Erma dalam unggahan Instagram BRIN Indonesia.
#beras-nasional #cadangan-beras #ketahanan-pangan #el-nino #bapanas #stok-beras #impor-beras #beras-khusus #surplus-pangan #produksi-beras #neraca-pangan #risiko-el-nino #ketersediaan-beras #ancaman-ke