IHSG dan Rupiah Kompak Loyo, Kondisi Fiskal Negara Diuji
IHSG dan rupiah melemah akibat gejolak Timur Tengah, menekan fiskal negara. Pemerintah perlu evaluasi kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
(Bisnis.Com) 24/04/26 13:57 201689
Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) dan rupiah kompak loyo sepanjang pekan. Lesunya pasar modal sejalan dengan kondisi fiskal negara yang kini sedang diuji oleh gejolak perang Timur Tengah.
IHSG yang berturut-turut ditutup melemah sejak perdagangan awal pekan, sampai sesi I hari ini, Jumat (24/4/2026) koreksi 3,06% ke 7.152. Di waktu yang sama, nilai tukar rupiah ambles 0,01% ke Rp17.284 dan berisiko terus tertekan akibat beban fiskal impor minyak mentah.
Head Of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh penguatan dolar AS, di mana indeks Dolar AS (DXY) justru sejauh ini relatif bergerak stabil.
"Tekanan terhadap rupiah tampak lebih mencerminkan faktor domestik. Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi terhadap bauran kebijakan pemerintah dan otoritas moneter," ujar Liza dalam keterangan tertulis, Jumat (24/4/2026).
Di sisi lain, tren kenaikan harga minyak global yang tembus US$100 per barel menambah tekanan terhadap fiskal. Kondisi diperparah dengan terganggunya jalur logistik minyak dunia yang membuat suplai pasokan BBM di dalam negeri terancam.
Kala beban fiskal bertambah, pemerintah tahun ini menjalankan program makan bergizi gratis (MBG) yang menyedot belanja negara cukup besar, ditambah subsidi BBM yang pemerintah telah memutuskan tak menaikkan harga BBM subsidi.
Liza melanjutkan, dari sisi moneter keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan rupanya belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilisasi rupiah, mengindikasikan perlunya peran yang lebih agresif dan intensif bank sentral khususnya dalam penyediaan likuiditas dolar AS di pasar.
"Kondisi semakin kompleks dengan adanya tekanan eksternal dan persepsi risiko, termasuk isu MSCI, sovereign downgrade, serta konfirmasi outlook negatif sektor perbankan baru-baru ini oleh Fitch Ratings. Hal ini tentu berdampak pada daya tarik pasar obligasi negara di tengah kebutuhan pembiayaan yang meningkat," ujarnya.
Dalam situasi tertekan ini, menurutnya pemerintah perlu meninjau kembali prioritas belanja negara agar ketahanan fiskal tetap terjaga. Selain itu, optimalisasi pengelolaan dana melalui entitas seperti Danantara juga menjadi perhatian.
"Efektivitas alokasi dan kualitas investasi perlu dijaga agar dapat memberikan dampak nyata terhadap perekonomian, bukan sekadar akumulasi dana tanpa arah yang jelas," tandasnya.
Sementara itu, tim riset Phintraco Sekuritas menyebut pasar saham Indonesia saat ini masih tertekan oleh sentimen pelemahan nilai tukar rupiah. Secara teknikal, IHSG pada koreksi perdagangan Kamis (23/4) menunjukkan sinyal telah breakdown support 7.500 dan didukung volume. Histogram positif MACD makin menyempit dan berpotensi membentuk death cross, sementara stochastic RSI mengarah turun di area pivot.
Pada perdagangan akhir pekan ini, IHSG diperkirakan melanjutkan pelemahan dan menutup gap down di 7.308 serta menguji level 7.300.
"Sentimen negatif antara lain berasal dari pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dan ditutup pada level Rp17.286 per dolar AS di pasar spot. Ini menjadi level penutupan terburuk bagi rupiah sepanjang masa serta merupakan pelemahan paling dalam di Asia," tulis sekuritas.
Analis menilai pelemahan rupiah yang relatif cepat ini di luar estimasi pasar sebelumnya. Saat ini nilai tukar rupiah tertekan oleh beban impor minyak mentah yang harganya melambung imbas konflik Timur Tengah.
Penutupan Selat Hormuz yang berlarut-larut membuat harga minyak bertahan di harga tinggi, di mana minyak Brent sempat menyentuh US$103 per barel dan minyak mentah WTI naik ke level US$98 per barel. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi inflasi dan melebarnya defisit anggaran belanja.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#ihsg #rupiah #kondisi-fiskal #pasar-modal #gejolak-timur-tengah #pelemahan-rupiah #dolar-as #harga-minyak #subsidi-bbm #suku-bunga #bank-indonesia #pasar-obligasi #belanja-negara #nilai-tukar #defisit