Disrupsi AI hingga Geopolitik, Sandiaga Uno Sebut Masih Ada Peluang

Disrupsi AI hingga Geopolitik, Sandiaga Uno Sebut Masih Ada Peluang

Sandiaga Uno menyebut sektor AI, digital economy, green economy, serta wellness economy masih memiliki peluang di tengah disrupsi global dan kecerdasan buatan.

(Bisnis.Com) 12/06/26 20:55 248890

Bisnis.com, JAKARTA — Disrupsi kecerdasan buatan (AI) dan ketidakpastian ekonomi global memaksa perusahaan mencari sumber pertumbuhan baru.

Dalam situasi tersebut, pelaku usaha dinilai tidak lagi bisa mengandalkan model bisnis konvensional dan harus lebih adaptif dalam menangkap peluang yang muncul dari perubahan.

Pengusaha sekaligus salah satu pemegang saham utama Grup PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, Sandiaga Uno mengatakan peluang bisnis tetap tersedia meski perekonomian menghadapi berbagai tantangan.

Menurutnya, sejumlah sektor seperti ekonomi digital berbasis AI, ekonomi hijau, dan wellness economy berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru dalam beberapa tahun ke depan.

Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan oleh perusahaan yang mampu berinovasi dan membangun kolaborasi yang lebih luas.

“Kesempatan itu ada di setiap tikungan. Saat ekonomi ada penurunan, pasti ada opportunity. Ke depan mungkin di bidang AI dan digital economy, green economy, serta wellness economy. Tapi yang dibutuhkan sekarang adalah innovation dan collaboration. Pola old economy sudah tidak bisa lagi,” ujar Sandi dalam diskusi Corim+ Conversation bertajuk Indonesia 2026: Where Opportunities Are Taking Shape, dikutip Jumat (12/6/2026).

Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu menilai dunia usaha perlu meninggalkan pola pertumbuhan yang berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi antarpelaku usaha menjadi semakin penting untuk menciptakan skala ekonomi dan mempercepat adaptasi terhadap perubahan pasar.

Selain perubahan lanskap bisnis, percepatan adopsi AI juga menjadi perhatian utama para pemimpin perusahaan. Managing Director & Senior Partner Boston Consulting Group (BCG) Edwin Utama mengatakan perkembangan AI berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan gelombang teknologi sebelumnya.

Mengacu pada survei BCG terhadap 12.000 pekerja di berbagai negara, sebanyak 74% responden telah menggunakan AI dalam aktivitas kerja sehari-hari. Bahkan, sekitar 40% pengguna mengaku mampu menghemat waktu kerja hingga satu hari dalam sepekan berkat pemanfaatan teknologi tersebut.

Meski demikian, tantangan terbesar perusahaan saat ini bukan lagi mendorong penggunaan AI di level individu, melainkan mengubah peningkatan produktivitas tersebut menjadi keunggulan kompetitif organisasi.

“Yang membedakan satu perusahaan dengan perusahaan lain ke depan adalah bagaimana menggabungkan human strength dan AI strength. AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi memperkuat manusia,” kata Edwin.

Menurutnya, perusahaan perlu segera menentukan strategi AI yang jelas, termasuk memetakan fungsi-fungsi yang lebih efektif dijalankan manusia maupun yang dapat diperkuat oleh teknologi.

Di sisi lain, CEO Corim Group Mikhael Lalwani mengingatkan bahwa ketidakpastian akan menjadi karakter permanen dalam dunia usaha. Karena itu, kemampuan beradaptasi harus menjadi bagian dari sistem organisasi, bukan hanya bergantung pada kualitas individu pemimpin.

“Kita tidak bisa selalu memprediksi apa yang akan terjadi ke depan. Karena itu perusahaan harus memiliki framework yang jelas agar organisasinya mampu menjadi adaptive, proactive, dan responsive terhadap berbagai perubahan dan tantangan,” ujarnya.

Dia menambahkan komunikasi yang efektif dari tingkat manajemen hingga seluruh organisasi menjadi faktor penting untuk memastikan perusahaan mampu merespons perubahan dengan cepat.

#sandiaga-uno #peluang-usaha #pengusaha #ekonomi-digital #digital #ai #kecerdasan-buatan #akal-imitasi #ekonomi-kesehatan #ekonomi-hijau #n-a

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260612/9/1980651/disrupsi-ai-hingga-geopolitik-sandiaga-uno-sebut-masih-ada-peluang