Bappenas Jabarkan Strategi RI Perkuat Fondasi Ekonomi di Tengah Gejolak Global
Bappenas menguraikan strategi RI untuk memperkuat ekonomi dengan menjaga stabilitas fiskal, mengoptimalkan belanja, dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
(Bisnis.Com) 24/04/26 19:30 202129
Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah memperkuat fundamental domestik dan menjaga disiplin kebijakan dengan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas, Eka Chandra Buana, menyampaikan bahwa dinamika global, termasuk tensi geopolitik dan volatilitas pasar keuangan, menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Namun, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif yang terukur.
“Memang ini semua sangat tergantung pada asumsi, seperti berapa lama konflik berlangsung. Tapi kita sudah punya ancang-ancang dan persiapan untuk menghadapi berbagai skenario,” ujar Eka dikutip dari keterangannya.
Eka Chandra memaparkan bahwa dampak geopolitik berisiko berdampak pada perekonomian Indonesia melalui transmisi peningkatan laju inflasi, depresiasi nilai tukar, peningkatan kebutuhan anggaran untuk subsidi energi, hingga tekanan pada target laju pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, pemerintah menegaskan tidak akan mengorbankan disiplin fiskal. Eka menekankan bahwa tidak ada rencana untuk memperlebar defisit anggaran, yang tetap dijaga dalam batas aman.
“Sampai saat ini tidak ada niat untuk memperlebar defisit. Justru yang kita dorong adalah bagaimana belanja menjadi lebih produktif dan berdaya ungkit bagi ekonomi nasional,” tegasnya.
Dalam jangka menengah, pemerintah tetap mempertahankan target pertumbuhan ekonomi hingga 8% pada 2029, sebagaimana tercantum dalam RPJMN. Target tersebut tidak diturunkan, meskipun tekanan global meningkat.
Dia menambahkan bahwa pendekatan pemerintah tidak semata berfokus pada program jangka pendek, tetapi juga pembangunan ekosistem ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Menurut dia, dari sisi fundamental, kondisi ekonomi Indonesia saat ini dinilai masih solid. Konsumsi rumah tangga tetap terjaga, sektor perbankan stabil dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sekitar 2,17% dan pertumbuhan kredit 9,4% (yoy), serta likuiditas yang memadai.
Di sisi eksternal, cadangan devisa tercatat sebesar US$148,2 miliar atau setara 6 bulan impor, sementara transaksi berjalan tetap terkendali di kisaran 0,1% terhadap PDB.
Selain itu, sektor riil dan fiskal juga menunjukkan ketahanan, dengan defisit APBN yang tetap rendah sekitar 0,93% terhadap PDB serta dukungan dari pertumbuhan industri dan ekspor manufaktur. Ekonomi digital turut menjadi motor baru dengan pertumbuhan transaksi yang signifikan.
“Fundamental kita kuat. Indikator-indikator ekonomi menunjukkan kinerja yang positif, dan ini menjadi modal utama kita,” ujar Eka.
Pemerintah juga mengakui masih terdapat ruang perbaikan. Evaluasi terhadap program-program unggulan terus dilakukan guna memastikan seluruh kebijakan berjalan efektif.
Untuk merespons kondisi global, pemerintah menyiapkan kombinasi kebijakan jangka pendek dan menengah. Dalam jangka pendek, fokus diarahkan pada percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN), optimalisasi belanja negara, serta efisiensi operasional.
Sementara itu, dalam jangka menengah, pemerintah mendorong diversifikasi energi, percepatan transisi energi, serta penguatan struktur industri domestik.
“Langkah-langkah ini kita siapkan agar ekonomi tetap resilient, baik dalam jangka pendek maupun menengah,” ujar Eka.
#ekonomi-nasional #stabilitas-ekonomi #ketidakpastian-global #strategi-ekonomi #disiplin-fiskal #pertumbuhan-ekonomi #defisit-anggaran #fundamental-ekonomi #konsumsi-rumah-tangga #sektor-perbankan #cad