Pemerintah Siapkan BSF Jaga Rupiah dan Obligasi, Ekonom Ingatkan Risikonya

Pemerintah Siapkan BSF Jaga Rupiah dan Obligasi, Ekonom Ingatkan Risikonya

Pengaktifan dana stabilisasi obligasi dinilai bisa memicu ketergantungan pasar.

(Republika) 08/05/26 20:41 216070

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengingatkan pemerintah mengenai sejumlah risiko dalam rencana pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF), mulai dari moral hazard hingga ketergantungan pasar.

“Saya melihat BSF ini efektif sebagai alat stabilisasi jangka pendek, tetapi tidak bisa dijadikan solusi permanen. Yang juga perlu diperhatikan adalah risikonya,” kata Yusuf di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

Terkait risiko moral hazard, Yusuf menjelaskan ekspektasi investor terhadap kehadiran pemerintah yang selalu menjaga harga obligasi dapat mendorong perilaku pengambilan risiko yang lebih agresif.

Dalam kondisi tersebut, sebagian pelaku pasar cenderung masuk saat imbal hasil (yield) tinggi dan keluar ketika pasar kembali stabil. Akibatnya, negara berpotensi menjadi penyangga bagi perilaku spekulatif.

Risiko kedua adalah distorsi harga. Yusuf mengingatkan pasar obligasi seharusnya berfungsi sebagai sarana pembacaan risiko yang jujur melalui pergerakan yield.

Namun, jika intervensi dilakukan terlalu dominan, harga obligasi berpotensi tidak lagi sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi.

“Dalam jangka pendek mungkin terlihat tenang, tetapi pasar kehilangan fungsi price discovery-nya,” ujar Yusuf.

Selain itu, Yusuf menilai terdapat risiko tekanan fiskal. Menurut dia, terdapat paradoks ketika pemerintah justru menambah beban fiskal demi menjaga stabilitas pasar utang. Jika BSF digunakan secara agresif, langkah tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap APBN.

Yusuf juga menyoroti risiko kaburnya batas antara kebijakan fiskal dan moneter.

Meskipun BSF berada di ranah fiskal, dampaknya dinilai menyerupai operasi pasar bank sentral.

“Kalau koordinasinya tidak jelas, pasar bisa mulai membaca adanya dominasi fiskal terhadap kebijakan moneter, dan itu justru bisa menaikkan premi risiko,” kata dia.

Selain itu, ia menilai terdapat risiko ketergantungan pasar ketika investor menganggap intervensi pemerintah sebagai hal yang normal.

Dalam kondisi tersebut, saat dukungan dikurangi, pasar dapat bereaksi negatif. Karena itu, strategi keluar (exit strategy) perlu dirancang sejak awal.

#bsf #bond-stabilization-fund #core-indonesia #yusuf-rendy-manilet #pasar-obligasi #surat-utang-negara #rupiah #apbn #yield-sbn #ekonomi-indonesia

https://ekonomi.republika.co.id/berita/teq0on370/pemerintah-siapkan-bsf-jaga-rupiah-dan-obligasi-ekonom-ingatkan-risikonya