Defisit Rp5,21 Triliun, Belanja Modal Kalsel Meroket 65% di Kuartal I/2026

Defisit Rp5,21 Triliun, Belanja Modal Kalsel Meroket 65% di Kuartal I/2026

Defisit Rp5,21 triliun di Kalsel, belanja modal naik 65% pada Q1 2026, meski penerimaan pajak tertekan. APBN jadi penyangga ekonomi di tengah ketidakpastian.

(Bisnis.Com) 13/05/26 19:22 220640

Bisnis.com, BALIKPAPAN — Kinerja fiskal Kalimantan Selatan pada kuartal I/2026 masih mencatatkan dinamika belanja negara yang tumbuh di tengah tekanan penerimaan perpajakan.

Hingga 31 Maret 2026, realisasi Belanja Negara di Kalimantan Selatan mencapai Rp7,39 triliun atau 24,78% dari pagu Rp29,85 triliun.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kalimantan Selatan, Catur Ariyanto Widodo, menyatakan belanja pemerintah pusat tumbuh 28,73% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1,97 triliun.

"Belanja pemerintah pusat menunjukkan akselerasi yang cukup kuat pada awal tahun. Ini menjadi sinyal positif bahwa program-program pemerintah pusat di daerah mulai berjalan dan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (13/5/2026).

Namun demikian, Transfer ke Daerah (TKD) yang menjadi tulang punggung belanja sebesar Rp5,43 triliun justru mengalami kontraksi 22,72% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, pendapatan negara di Kalimantan Selatan tercatat sebesar Rp2,18 triliun atau 7,42% dari target dan tumbuh 5,08% secara nominal.

Catur mengungkapkan penerimaan perpajakan mengalami kontraksi 4,31% akibat tingginya restitusi pajak serta kebijakan realisasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada awal tahun anggaran.

"Meski penerimaan perpajakan masih mengalami tekanan, secara umum kinerja pendapatan tetap tumbuh positif. Hal ini menunjukkan aktivitas ekonomi daerah masih terjaga," kata Catur.

Dia menegaskan defisit mencerminkan peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penyangga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Defisit ini menunjukkan APBN hadir sebagai shock absorber dan instrumen penggerak ekonomi, terutama saat belanja pemerintah didorong lebih awal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi regional," jelasnya.

Sementara itu, konsolidasi APBD regional Kalimantan Selatan menunjukkan kinerja yang relatif membaik. Pendapatan daerah tercatat Rp7,45 triliun atau 23,68% dari target, sedangkan realisasi belanja daerah mencapai Rp5,59 triliun atau 13,66% dari pagu anggaran.

Menariknya, belanja modal melonjak 65,21% secara tahunan yang mengindikasikan percepatan eksekusi proyek infrastruktur dan investasi publik oleh pemerintah daerah sejak awal tahun.

"Kenaikan belanja modal menjadi sinyal yang sangat baik karena menunjukkan pemerintah daerah mulai agresif mengeksekusi proyek-proyek pembangunan. Ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada kuartal berikutnya," pungkasnya.

#defisit-anggaran #belanja-modal #kalimantan-selatan #kuartal-i-2026 #belanja-negara #penerimaan-perpajakan #transfer-ke-daerah #pendapatan-negara #restitusi-pajak #ppn-realisasi #apbn-peran #ekonomi-r

https://kalimantan.bisnis.com/read/20260513/407/1973536/defisit-rp521-triliun-belanja-modal-kalsel-meroket-65-di-kuartal-i2026