Bangun Manufaktur Hindari Hancur Lebur Ekonomi
Industri manufaktur krusial bagi ekonomi Indonesia, mendukung lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Presiden Prabowo fokus pada hilirisasi dan industrialisasi untuk mencapai target kontribusi 28% PD
(Bisnis.Com) 02/05/26 10:17 209003
Bisnis.com, JAKARTA- Hampir seluruh negara ekonomi maju menyandarkan diri kepada industri manufaktur. Tanpa manufaktur, ekonomi terancam hancur lebur.
Ambil contoh manufaktur alas kaki. Tiap orang butuh sedikitnya sepasang sepatu, atau bahkan lebih. Mengingat total populasi Indonesia sampai 200 juta lebih, sedikitnya jumlah pasang yang sama dibutuhkan dalam periode tertentu. Untuk membeli sepasang saja, orang butuh uang, dihasilkan oleh lapangan nafkah yang tersedia.
Andai seluruh kebutuhan sepatu didatangkan dari luar negeri, betapa sedikitnya rezeki yang tersisa. Hanya mampu membuka lapangan kerja pada level distribusi dan perdagangan.
Sebaliknya, jika kondisi manufaktur mampu menutup kebutuhan permintaan pasar domestik, kesempatan kerja berlipat ganda. Sepatu dikonsumsi, juga menciptakan rantai produksi.
Pembuat sepatu membutuhkan pasokan kulit, dari para penyamak dan peternak. Butuh juga pemasok benang, cat, lem, dan segala macamnya. Beragam macam industri tumbuh dan terlibat dari satu industri sepatu.
Itu baru satu produk sederhana fesyen. Belum lagi menghitung kebutuhan produk lainnya. Terdapat juga produk otomotif, kalau dihitung-hitung membutuhkan beribu komponen jadi yang juga ditopang industri bahan baku.
Dari sana, industri berat lainnya hadir. Industri baja, bahkan produsen alat dan mesin. Satu tahap produksi menghimpun begitu banyak keterlibatan, sampai distribusi hingga pergudangan, serta perniagaan.
Dari kebutuhan yang dipenuhi manufaktur dalam negeri, bisa dihitung pula peluang seabrek pekerjaan bakal dibuka. Konsumsi berjalan, produksi membesar.
Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendapatan yang naik, hanya sekadar buah siap panen. Manufaktur yang dipupuk sedari akar, menumbuhkan batang kokoh, hingga cabang produksi lainnya.
Sektor jasa dan perdagangan memanjang bak sulur merambat ke mana-mana. Apalagi buat Indonesia, dengan jumlah populasi yang ada, cukup konsumsi domestik dipenuhi produk manufaktur, maka perekonomian tak lagi rentan.
Manufaktur yang kuat akan membawa pula keuntungan di balik era perdagangan bebas seperti sekarang. Neraca dagang yang surplus dan devisa tebal, kelak menjadikan rupiah perkasa.
Maka lumrah, Presiden Prabowo Subianto menetapkan hilirisasi dan industrialisasi dalam Asta Cita. Lantas menjadikan sektor industri sebagai salah satu penopang PDB yang dipatok berkontribusi 28% hingga 2045.
Pemerhati Industri Warih Andang Tjahjono mengamini bahwa satu-satunya jalan mengungkit perekonomian Indonesia hingga selevel negara maju dibutuhkan sektor manufaktur. Untuk itu, pria yang juga menjabat sebagai Advisory Board Komunitas Teknik Industri ITB mengungkapkan, Indonesia mempunyai segala potensi. Mulai dari populasi sebagai penopang pasar domestik, kekayaan material, hingga ekosistem industri yang telah terbentuk.
"Maka tepat Presiden Prabowo menetapkan Asta Cita salah satunya hilirisasi dan industrialisasi. Semisal saja kekayaan alam itu bisa dijadikan andalan dihilirkan sebagaimana terjadi pada biodiesel," jelas Warih dalam Bisnis Indonesia Forum bertemakan “Indonesia Emas 2045, Industri Harus Jadi Panglima”, di Wisma Bisnis Indonesia, Kamis (30/4/2026).
Hanya saja, dibutuhkan beberapa pembenahan untuk keberlangsungan manufaktur saat ini. Konsistensi kebijakan hingga menjamin iklim investasi wajib dilakoni. Lantas terkait keandalan pasokan energi, serta paket kebijakan finansial yang mendukung.
"Kita bisa menganalisa sudah sampai mana sektor manufaktur saat ini, sehingga bisa membayangkan apa saja yang diperlukan untuk memacu kontribusi sektor ini nantinya," simpul Warih.
Sebaliknya, perjalanan menuju ke sana bukan perkara mudah. Tantangan belakangan bahkan membangunkan momok hancurnya ekonomi global.
Perang rantai pasok China versus Barat, prahara Timur-Tengah, hingga adu tinggi tarif seperti virus melemahkan otot manufaktur. Ancaman itu membayang di tengah sektor manufaktur yang dinilai mulai lunglai. Mimpi hidup sejahtera dan demokratis pada seabad Kemerdekaan, seperti dituangkan dalam visi ‘Indonesia Emas 2045’ terusik.
ANCAMAN INDUSTRI
Hal inilah yang diulas Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian Susiwijono Moegiarso. “Memang kita menargetkan sektor manufaktur bisa terus tumbuh sesuai target untuk 2045, tetapi kita juga perlu mendiskusikan kondisi terkini,” ungkapnya dalam kesempatan yang sama.
Pria asli Ponorogo, Jawa Timur itu meyakinkan audiens bahwa sejauh ini makro ekonomi tetap stabil. Sektor manufaktur, katanya, tetap memberikan porsi besar bagi perekonomian.
Tampak dari kontribusi terhadap PDB, sektor manufaktur menyumbang lebih dari 19%, di atas sektor lainnya. Artinya, nyaris seperlima nilai belanja dan produksi bersumber dari aktivitas industri.
“Industri makanan minuman jadi yang terbesar, selanjutnya industri kimia dan farmasi, sedangkan mengalami kontraksi subsektor properti, karet, dan otomotif,” jelas Susi, sapaan akrabnya.
Untuk sektor yang mengalami kontraksi alias penurunan, Susi menilai tidak otomatis menandai adanya penurunan daya beli. Turunnya subsektor itu juga belum tentu menandai adanya penurunan kelas menengah, sebagai penopang utama konsumsi domestik.
“Untuk kelas menengah belum bisa dipastikan juga penurunannya seperti apa, tapi yang pasti adanya pergeseran. Saat ini ada yang lebih memprioritaskan kesehatan dan pendidikan,” kata Susi.
Padahal pemerintah diklaim ikut melecut konsumsi. Selain memberikan bantuan sosial untuk kelas masyarakat bawah, konsumsi kelas menengah juga dibantu dengan berbagai insentif properti hingga diskon pajak untuk produk otomotif.
Semua berharap demikian. Pelemahan konsumsi kelas menengah hanya dipicu pergeseran prioritas. Pergeseran yang bersifat temporal, bukan struktural sehingga membuat denyut produksi barang konsumsi di pabrik menjadi berhenti.
KEBIJAKAN PERDAGANGAN
Di lain sisi, pemerintah mengaku selalu berupaya memperluas akses dagang bagi produk lokal di pasar global. Jalan berliku demikian harus ditempuh, sebagai lahan garapan lebih luas dibandingkan hanya pasar domestik.
“Pemerintah selalu berupaya, negosiasi berbagai tarif. Dengan Amerika, terhadap Eropa. Ini juga untuk melindungi industri di dalam negeri agar tetap kompetitif dibandingkan negara lain seperti Vietnam,” kata Susi.
Dengan begitu, berbagai investor global bakal tergoda menanam banyak modal di Indonesia. Mereka membangun pabrik, meningkatkan kapasitas produksi untuk melayani permintaan pasar internasional. Lapangan kerja dibuka di mana-mana.
Namun kondisi itu tidak sesederhana dalam praktik. Beragam kebijakan dianggap justru menambah beban industri. Pasar global terbuka, tetapi industri tidak berdaya.
Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprindo) Yoseph Billie Dosiwoda. “Ada aturan kebebasan yang memunculkan Ormas tetapi di lapangan justru jadi premanisme. Belum lagi kebijakan upah yang belum sepadan produktivitas, dan akan menyusul wajib halal,” katanya.
Belum lagi bertarung di pasar ekspor, untuk mempertahankan pangsa domestik malah kendor. Banyak barang impor murah terutama asal China menyerbu masuk, baik legal ataupun ilegal.
“Ada produsen lokal yang biasanya memasok salah satu toko modern, malah gigit jari karena impor ilegal barang tiruan,” jelas Billie.
Problematika inilah yang perlahan membawa maut bagi sektor manufaktur. Insentif yang diguyur, perdagangan bebas yang diupayakan, malah banyak disedot barang impor.
Kalau sudah demikian, roda manufaktur akan selalu terganjal. Berat melaju maju, sedangkan Indonesia Emas 2045 sudah di depan gerbang.
#manufaktur #ekonomi #industri #sepatu #pasar-domestik #produksi #pertumbuhan-ekonomi #sektor-jasa #perdagangan-bebas #hilirisasi #industrialisasi #pdb #investasi #rantai-pasok #industri-makanan #kebij
https://ekonomi.bisnis.com/read/20260502/257/1970803/bangun-manufaktur-hindari-hancur-lebur-ekonomi