Menakar Fundamental Ekonomi Indonesia di Tengah Pelemahan Rupiah
Ekonomi Indonesia tetap kuat meski rupiah melemah, didukung indikator makroekonomi positif dan koordinasi kebijakan yang baik. Pelemahan rupiah lebih dipengaruhi faktor eksternal.
(Bisnis.Com) 05/06/26 23:18 241698
Bisnis.com, JAKARTA — Ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut memicu kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional. Namun, sejumlah indikator menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia masih terjaga sehingga tekanan yang terjadi saat ini dinilai lebih banyak berasal dari faktor eksternal daripada persoalan domestik.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah, volatilitas pasar keuangan, hingga perlambatan ekonomi dunia merupakan bagian dari proses penyesuaian terhadap dinamika global. Karena itu, kondisi tersebut tidak dapat serta-merta diartikan sebagai sinyal terjadinya krisis ekonomi di dalam negeri.
"Yang perlu dipahami adalah bahwa kondisi saat ini merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global, bukan sinyal krisis. Karena itu, yang lebih penting adalah menjaga optimisme yang rasional berdasarkan data dan fundamental ekonomi yang ada," ujar Josua dalam Komunita Economic Talk bertajuk Membaca Tantangan dan Peluang Ekonomi Indonesia Saat Ini, Jumat (5/6)/2026.
Menurut Josua, ketahanan ekonomi Indonesia masih tercermin dari sejumlah indikator makroekonomi yang menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi tetap berada pada level yang relatif tinggi, inflasi terkendali, serta konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB) masih tumbuh solid.
Selain itu, belanja pemerintah pada awal tahun turut menopang aktivitas ekonomi domestik. Dari sisi pasar keuangan, aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga masih mencatatkan kinerja positif.
"Kepercayaan investor tetap terjaga karena fundamental ekonomi Indonesia masih dipandang kuat. Ini menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi ke depan," katanya.
Josua menilai stabilitas ekonomi nasional juga ditopang oleh koordinasi antarlembaga yang terus berjalan. Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menurut dia, menjalankan fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi dalam menjaga perekonomian.
"Soal Kementerian Keuangan, fungsinya lebih ke aspek fiskalnya. Kalau Bank Indonesia ngurusin moneter, OJK ngurusin pasar keuangan. Dan ini harus saling bersinergi ketiganya," ujarnya.
Ia menjelaskan Kementerian Keuangan berperan menjaga kesehatan fiskal dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), BI bertanggung jawab menjaga stabilitas nilai tukar dan kebijakan moneter, sedangkan OJK bersama Bursa Efek Indonesia menjaga stabilitas sektor jasa keuangan dan pasar modal.
Menurut Josua, berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah dan regulator menunjukkan setiap institusi terus menjalankan perannya untuk meredam dampak gejolak global terhadap perekonomian domestik.
Bukan Krisis seperti 1998
Menanggapi kekhawatiran publik mengenai pelemahan rupiah, Josua menilai kondisi tersebut perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Penguatan dollar AS akibat tingginya suku bunga di negara maju serta meningkatnya ketegangan geopolitik global telah menekan berbagai mata uang dunia.
“Kombinasi dari semua inilah yang menyebabkan dollarnya naik dan minyaknya naik. Pelemahan rupiah saat ini bersifat global shock, dolar AS menguat terhadap semua mata uang dunia akibat kebijakan suku bunga tinggi di negara maju dan tensi geopolitik timur tengah” ujar Josua.
Karena itu, ia menegaskan pelemahan rupiah saat ini tidak mencerminkan adanya persoalan struktural dalam perekonomian Indonesia.
"Tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Yang membedakan dengan masa lalu adalah saat ini kondisi perbankan nasional jauh lebih kuat, likuiditas terjaga, dan koordinasi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, serta otoritas sektor keuangan berjalan dengan baik," ujarnya.
Josua juga menepis anggapan bahwa Indonesia sedang bergerak menuju krisis seperti yang terjadi pada 1998. Menurut dia, kondisi perekonomian saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan masa krisis Asia hampir tiga dekade lalu.
Saat itu, Indonesia menghadapi keruntuhan sektor perbankan, lonjakan inflasi yang tinggi, pelemahan tajam nilai tukar, serta kontraksi ekonomi yang dalam. Adapun saat ini pertumbuhan ekonomi masih positif, inflasi terkendali, cadangan devisa berada pada level yang kuat, dan pengelolaan fiskal tetap disiplin.
"Kalau dibandingkan dengan 1998, situasinya sangat jauh berbeda. Saat ini instrumen kebijakan dan fondasi ekonomi kita jauh lebih kuat untuk menghadapi gejolak global," jelasnya.
Di tengah indikator makroekonomi yang relatif positif, Josua mengakui sebagian masyarakat masih merasakan tekanan terhadap kondisi keuangannya. Namun, ia menilai fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai perubahan pola konsumsi daripada penurunan daya beli secara menyeluruh.
Tekanan harga pada sejumlah komoditas membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan pendapatannya. Meski demikian, konsumsi domestik secara agregat masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah juga terus memperkuat berbagai program perlindungan sosial guna menjaga kelompok rentan dari dampak tekanan ekonomi.
Terkait program prioritas pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, Josua menilai efektivitasnya tidak dapat diukur hanya dari hasil jangka pendek. Program tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di daerah.
"Program prioritas perlu dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya. Namun manfaat strukturalnya baru dapat terlihat dalam jangka menengah hingga panjang, sehingga tidak tepat jika dinilai hanya berdasarkan hasil dalam waktu singkat," ujarnya.
Ia menambahkan, kepercayaan publik merupakan salah satu modal penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Sebab, ekonomi tidak hanya ditentukan oleh angka-angka statistik, tetapi juga oleh keyakinan masyarakat, pelaku usaha, dan investor terhadap prospek masa depan.
"Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat, kapasitas kebijakan yang memadai, dan peluang yang besar untuk terus tumbuh. Karena itu, optimisme yang didasarkan pada data dan pemahaman yang baik menjadi sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan," pungkasnya.
#ekonomi-indonesia #pelemahan-rupiah #fundamental-ekonomi #ketahanan-ekonomi #pertumbuhan-ekonomi #inflasi-terkendali #konsumsi-rumah-tangga #belanja-pemerintah #aliran-modal-asing #stabilitas-ekonomi #n-a