Bisnis.com, JAKARTA — BDx Indonesia menilai prospek pengembangan pusat data di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara (ASEAN) masih sangat kuat, seiring meningkatnya permintaan dari komputasi awan (cloud) dan kecerdasan buatan (AI).
President Director & CEO BDx Indonesia Agus Hartono Wijaya menyampaikan pertumbuhan tersebut didorong oleh kebutuhan perusahaan hyperscaler, platform cloud, hingga korporasi yang mencari infrastruktur siap AI dengan kapasitas tinggi. Selain itu, faktor demografi seperti populasi muda yang adaptif terhadap teknologi digital serta meningkatnya fokus pemerintah terhadap kedaulatan AI dan lokalisasi data turut memperkuat tren tersebut.
“Indonesia sangat menarik. Negara ini merupakan salah satu dari sedikit pasar di kawasan ini yang memiliki ketersediaan daya listrik yang memadai dalam skala besar, yang kini menjadi pembeda kritis seiring dengan pertumbuhan beban kerja pelatihan dan inferensi AI,” kata Agus kepada Bisnis pada Minggu (26/4/2026).
Dia menjelaskan, keunggulan struktural tersebut, ditambah dengan kuatnya konsumsi domestik serta dukungan kebijakan, menjadikan Indonesia sebagai pusat infrastruktur AI jangka panjang di kawasan.
Dari sisi pipeline proyek, BDx melihat adanya momentum positif yang signifikan. Hal ini tercermin dari penutupan fasilitas pinjaman senilai US$320 juta pada 1 April 2026 yang dipimpin oleh Bank Permata, BCA, dan KB Bank. Pendanaan tersebut digunakan untuk mempercepat pengembangan kampus pusat data berbasis AI CGK3 di Jakarta Pusat, sekaligus memperluas kapasitas jaringan tegangan tinggi hingga 1,2 GVA di Jatiluhur (CGK4) dan Suryacipta (CGK5).
Agus juga menuturkan CGK4 yang merupakan kampus AI milik negara pertama di Indonesia berbasis energi terbarukan telah beroperasi dan mengantongi sertifikasi NVIDIA DGX-Ready. Pengembangan ini memperkuat kemampuan perusahaan dalam menyediakan kapasitas AI berdensitas tinggi dengan teknologi pendingin cair dalam waktu dekat.
Secara keseluruhan, Indonesia tetap menjadi fondasi utama bagi rencana ekspansi regional BDx, dengan total kapasitas teknologi informasi yang ditargetkan mencapai sekitar satu gigawatt dalam berbagai tahap pengembangan.
Di tengah dinamika global, BDx mengaku terus memantau perkembangan geopolitik, terutama yang berpotensi memengaruhi pasar energi, rantai pasok, maupun waktu pengiriman peralatan.
“Peristiwa di Timur Tengah merupakan salah satu faktor tersebut, mengingat pengaruhnya yang potensial terhadap harga energi global. Meskipun demikian, dinamika ini tidak mengubah strategi inti kami,” kata Agus.
Lebih lanjut, Agus menegaskan mandat BDx tetap berfokus pada kawasan Asia-Pasifik, dengan strategi memperkuat pasar yang sudah ada sembari mengevaluasi peluang ekspansi ke dua negara tambahan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.
Menurutnya, ASEAN khususnya Indonesia akan terus menjadi prioritas strategis perusahaan. Kombinasi antara tingginya permintaan domestik, dukungan pemerintah terhadap kedaulatan digital, serta ketersediaan energi menjadikan kawasan ini semakin menarik bagi investasi pusat data berbasis AI.
“Pembiayaan terbaru kami dan perluasan kampus yang berkelanjutan jelas memperkuat komitmen tersebut,” tutupnya.