Bisnis.com, JAKARTA – Perolehan laba bersih tahun berjalan sejumlah perbankan menunjukkan kinerja yang beragam hingga November 2025. Ada yang mencatatkan pertumbuhan, tetapi ada pula yang menyusut dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data yang telah diolah Bisnis, beberapa bank berhasil masuk dalam daftar 10 bank dengan raihan laba terbesar per November 2025.
Secara berurutan, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) bertengger di urutan teratas dalam daftar ini, dengan raihan laba bersih tahun berjalan mencapai Rp52,66 triliun hingga November 2025.
Kemudian, ada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang membukukan laba Rp45,44 triliun, diikuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar Rp44,14 triliun, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dengan raihan laba bersih senilai Rp18,62 triliun, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) sebesar Rp6,70 triliun.
Posisi selanjutnya diisi oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) yang berhasil meraup laba Rp6,15 triliun, disusul oleh PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) dengan perolehan laba bersih senilai Rp4,62 triliun, PT Bank Permata Tbk. (BNLI) sebesar Rp3,43 triliun, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) Rp3,09 triliun, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) senilai Rp2,91 triliun.
Dari sisi pertumbuhan, bank pelat merah seperti BRI, Bank Mandiri, dan BNI justru menyusut dibandingkan perolehan laba bersih pada November 2024.
Laba bersih BRI mencatatkan penurunan terdalam pada daftar ini, dengan penurunan sebesar 9,12% YoY dari periode sebelumnya yang mencapai Rp50,00 triliun. Kemudian, laba Bank Mandiri dan BNI masing-masing turun sebesar 6,41% YoY dan 6,01% YoY.
Pada dasarnya, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan bahwa penurunan laba bank disebabkan oleh kombinasi tiga faktor yakni pendapatan inti melambat, biaya dana naik sehingga margin bunga menyempit, dan beban kerugian penurunan nilai kredit meningkat.
“Untuk bank BUMN, kombinasi ini cenderung lebih terasa karena porsi pembiayaan ke segmen prioritas pemerintah lebih besar, terutama UMKM dan KUR,” tutur Josua kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026).
Lebih lanjut, Josua menuturkan bahwa data industri perbankan menunjukkan pertumbuhan kredit UMKM plus KUR bahkan sudah berada di wilayah negatif, sedangkan rasio kredit bermasalah UMKM masih tinggi di 4,51% dan pertumbuhan KUR terkontraksi 2,25% secara tahunan. Dengan demikian, dia memandang bahwa wajar bila kebutuhan pencadangan menjadi lebih besar dan menekan laba.
Selain itu, kata Josua, indikator profitabilitas industri juga menurun, terlihat dari turunnya margin bunga bersih dan laba atas aset pada Oktober 2025 dibanding Desember 2024, yang mengindikasikan tekanan biaya dana dan kompetisi dana pihak ketiga masih kuat.
Jika dilihat pada kinerja sampai November 2025, Josua menyebut bahwa sinyal tekanan itu terlihat jelas pada misalnya bank BUMN yang berfokus pada pembiayaan UMKM. Mengingat, beban kerugian penurunan nilai aset keuangan mencapai Rp37,84 triliun, sehingga meskipun pendapatan bunga bersih sangat besar sekitar Rp103,41 triliun, laba bersih tahun berjalan menjadi sekitar Rp45,45 triliun.
“Kenaikan beban kerugian penurunan nilai ini sangat mungkin terkait dengan dinamika UMKM dan program kredit pemerintah seperti KUR yang sedang melambat, sehingga bank perlu lebih konservatif dalam pencadangan,” tuturnya.
Sementara bank BUMN lainnya yang labanya turun dibanding tahun lalu, biasanya penyebab utamanya bukan hanya pencadangan, melainkan kombinasi margin bunga yang tertekan oleh kenaikan biaya dana, normalisasi pendapatan nonbunga yang sifatnya tidak berulang, dan kenaikan biaya operasional yang lazim terjadi pada bank berskala besar dengan jaringan dan agenda transformasi yang masif.
Menurutnya, penurunan laba tahunan lebih masuk akal dibaca sebagai fase pengetatan kualitas laba melalui pencadangan dan tekanan margin, bukan karena pendapatan inti tiba-tiba hilang.
Bank yang Cetak Pertumbuhan Laba
Sebaliknya, BTN, BSI, BCA, CIMB Niaga, OCBC NISP, Bank Permata, serta Bank Danamon membukukan pertumbuhan laba hingga November 2025.
Di antara bank-bank tersebut, BTN mencatatkan pertumbuhan impresif bahkan mencapai double digit, yakni sebesar 21,10% YoY, disusul oleh Bank Permata yang tumbuh 12,72% YoY dibandingkan raihan laba November 2024.
Selanjutnya, ada BSI yang berhasil mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 8,20% YoY, diikuti oleh Bank Danamon 7,61% YoY, CIMB Niaga 5,19% YoY, BCA 4,35% YoY, dan OCBC NISP yang meningkat 2,66% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Josua, pendorong pertumbuhan laba pada bank-bank swasta pada umumnya datang dari kombinasi biaya dana yang lebih efisien, pertumbuhan pendapatan berbasis jasa, serta beban kerugian penurunan nilai yang lebih terkendali atau bahkan terjadi pemulihan.
“Salah satu bank swasta terbesar contohnya struktur dananya ditopang porsi giro dan tabungan yang sangat besar dibanding deposito, sehingga biaya bunga jauh lebih rendah dan pendapatan bunga bersih menjadi sangat kuat,” tuturnya.
Sementara untuk bank swasta lainnya, kata dia, pola yang biasanya membuat laba tumbuh adalah fokus pada kualitas penyaluran kredit dan pemilihan segmen yang risikonya terukur, disertai disiplin harga sehingga kenaikan biaya dana tidak sepenuhnya memakan margin, lalu diperkuat oleh pendapatan berbasis jasa dari transaksi nasabah, pembiayaan perdagangan, dan layanan treasury.
Untuk bank syariah terbesar di Indonesia, Josua menuturkan bahwa pertumbuhan laba umumnya didorong oleh pertumbuhan pembiayaan syariah dan dana murah berbasis tabungan, serta perbaikan kualitas pembiayaan yang menurunkan kebutuhan pencadangan seiring penguatan manajemen risiko.
Kemudian, untuk perbankan yang fokus pada pembiayaan perumahan, bila labanya tumbuh, penggeraknya biasanya kombinasi perbaikan biaya risiko di portofolio perumahan, perbaikan pendanaan, dan stabilisasi margin di kredit pemilikan rumah, sehingga volume pembiayaan perumahan tidak hanya besar tetapi juga lebih sehat dari sisi kualitas laba.
“Intinya, perbedaan arah laba pada November 2025 lebih banyak ditentukan oleh struktur portofolio dan siklus pencadangan masing-masing bank,” pungkasnya.
Bank | Laba November 2024 | Laba November 2025 | % (YoY) |
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) | Rp50,47 Triliun | Rp52,66 Triliun | 4,35 |
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) | Rp50,00 Triliun | Rp45,44 Triliun | -9,12 |
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) | Rp47,17 Triliun | Rp44,14 Triliun | -6,41 |
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) | Rp19,81 Triliun | Rp18,62 Triliun | -6,01 |
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) | Rp6,20 Triliun | Rp6,70 Triliun | 8,20 |
PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) | Rp5,85 Triliun | Rp6,15 Triliun | 5,19 |
PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) | Rp4,50 Triliun | Rp4,62 Triliun | 2,66 |
PT Bank Permata Tbk. (BNLI) | Rp3,04 Triliun | Rp3,43 Triliun | 12,72 |
PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) | Rp2,87 Triliun | Rp3,09 Triliun | 7,61 |
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) | Rp2,40 Triliun | Rp2,91 Triliun | 21,10 |