Bisnis.com, JAKARTA — Iran menuduh Amerika Serikat (AS) menggunakan metode tersembunyi seperti backdoor atau botnet untuk melumpuhkan peralatan jaringan buatan Cisco, Juniper, hingga Fortinet selama konflik yang sedang berlangsung.
Menurut laporan dari Iran, sejumlah perangkat jaringan buatan AS tersebut mengalami gangguan, seperti restart sendiri atau tiba-tiba terputus saat serangan terjadi.
Iran menganggap hal ini tidak wajar, karena sebelumnya Iran telah memutus koneksi negaranya dari internet global.
Dari situ muncul dugaan gangguan tersebut bukan kebetulan. Iran menilai ada kemungkinan perangkat tersebut telah disabotase dari jarak jauh. Salah satu teori menyebut adanya backdoor yang tersembunyi di dalam sistem perangkat, seperti firmware atau bootloader.
Dengan cara ini, perangkat bisa dikendalikan atau dimatikan kapan saja, bahkan mungkin melalui sinyal satelit.
Selain itu, ada juga dugaan perangkat-perangkat tersebut telah terinfeksi botnet, sehingga bisa dikendalikan secara bersamaan oleh pihak tertentu untuk menimbulkan gangguan besar.
Namun, klaim ini sulit dipastikan kebenarannya. Pasalnya, Iran saat ini sedang membatasi akses internet secara luas, sehingga informasi yang beredar tidak mudah diverifikasi.
Di sisi lain, kemampuan AS dalam melakukan operasi siber memang sudah lama dikenal. Pejabat militer AS sebelumnya juga pernah mengisyaratkan serangan siber menjadi bagian dari strategi mereka dalam konflik.
Apa pun yang sebenarnya terjadi, media pemerintah China langsung memanfaatkan laporan dari Iran. Mereka menegaskan kembali posisi China adalah negara yang pasif dalam dunia siber, dan justru menuduh AS sebagai pelaku utama serangan siber global.
Dilansir dari The Register Rabu (22/4/2026), lembaga seperti China National Computer Virus Emergency Response Center (CVERC) bahkan secara rutin menyebarkan teori dokumen yang dibocorkan oleh Edward Snowden menunjukkan AS pernah menyisipkan backdoor dalam peralatan jaringan.
Mereka juga menyebut berbagai tuduhan terhadap China hanyalah upaya untuk mengalihkan perhatian.
CVERC juga mengklaim serangan siber bernama Volt Typhoon yang oleh negara-negara Five Eyes disebut sebagai ulah China sebenarnya adalah operasi bendera palsu yang dilakukan oleh intelijen AS untuk menjatuhkan reputasi China.
Media pemerintah China bahkan disebut mempercayai penuh laporan dari Iran dan sampai membuat ilustrasi atau kartun untuk menggambarkan pandangan mereka terhadap kejadian tersebut.
Sementara itu, situasi internet di Iran masih sangat terbatas. Lembaga pemantau NetBlocks melaporkan Iran telah mempertahankan pemblokiran internet selama lebih dari 52 hari. Pemerintah disebut hanya memberikan akses terbatas kepada kelompok tertentu. (Nur Amalina)