Bisnis.com, Jakarta — PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) menanggapi optimisme pasar terhadap saham perseroan yang belakangan difavoritkan masuk ke indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) kategori big cap.
MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil peninjauan indeks pada Kamis (6/11/2025) sekitar pukul 05.00 WIB. Adapun sejumlah saham diperkirakan memiliki peluang kuat untuk masuk ke dalam indeks, termasuk BRMS.
Pasalnya, BRMS memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp145,3 triliun dengan free float 36,45% atau setara Rp52,9 triliun. Saham ini dinilai telah memenuhi ambang batas yang biasanya menjadi acuan masuk ke indeks MSCI.
Presiden Direktur BRMS, Agoes Projosasmito, mengatakan bahwa kepemilikan saham publik perseroan telah memperlihatkan likuiditas yang kuat di pasar.
“Paling kunci adalah floating shares kami yang benar-benar dimiliki publik secara independen sekitar 30%. Jadi ini besar, bukan kecil-kecilan,” pungkas Agoes saat ditemui di Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Menurutnya, potensi BRMS masuk indeks MSCI big cap akan menjadi motivasi untuk mempercepat ekspansi dan meningkatkan nilai perusahaan ke depan.
“Kalau sudah masuk, itu malah bikin saya makin nggak bisa tidur. Saya akan cari-cari, mana aset bagus yang bisa saya akuisisi,” ujarnya sambil berkelakar.
Sementara itu, Direktur BRMS Herwin Wahyu Hidayat menuturkan perseroan sejauh ini telah masuk ke sejumlah indeks utama di pasar modal Indonesia maupun global, mulai dari IDX 80, FTSE small cap, hingga MSCI small cap.
Namun, dia menyatakan fokus utama manajemen saat ini bukan semata-mata pada indeks, melainkan pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi target operasional dan keuangan yang telah disampaikan ke publik.
Dari sisi kinerja, BRMS meraih pendapatan sebesar US$184 juta sepanjang Januari – September 2025. Capaian tersebut meningkat 69,2% secara tahunan (year on year/YoY), serta sejalan dengan estimasi perusahaan dan konsensus.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Juan Harahap dan Fadhlan Banny, dalam risetnya, menyebutkan pertumbuhan itu ditopang oleh penjualan emas yang mencapai US$61 juta atau meningkat 8,7% secara kuartalan.
Hal tersebut didorong oleh harga jual rata-rata yang lebih tinggi yakni US$3.468 per ons atau tumbuh 5,7% quarter on quarter (QoQ) dan peningkatan volume penjualan menjadi 17.558 ons, tumbuh sebesar 2,9% QoQ.
Sementara itu, BRMS menorehkan laba usaha US$69,71 juta atau melonjak 144% dibandingkan periode sama tahun lalu yakni US$28,55 juta. Adapun laba bersih ikut terkerek 129% YoY menjadi US$37,61 juta pada kuartal III/2025.
“Dari sisi operasional, EBITDA perseroan tercatat sebesar US$21 juta atau turun 15,7% secara kuartalan, namun melonjak 121,2% secara tahunan menjadi US$76 juta hingga akhir September 2025,” ucap Juan dan Fadhlan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.