Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah emiten di sektor konsumer menyiapkan strategi untuk mengantisipasi risiko skenario terburuk akibat perang yang berkecamuk antara Iran—AS dan Israel.
Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) Franciscus Welirang, menerangkan bahwa perang yang berkecamuk, telah mendorong biaya angkutan freightinternasional naik sebesar 35%. Namun, Franky menegaskan bahwa kondisi pasokan bahan baku gandum Indofood masih tercukupi.
”Karena saya di divisi Bogasari, masalah bahan baku gandum saya kira sementara ini tidak bermasalah atas supply-nya. Khusus dalam negeri, jelas juga angkatan laut untuk ke daerah pasti naik, [tetapi] belum tahu berapa. Sedangkan pasar terigu dalam negeri mungkin mulai jelas dalam 2—3 minggu ke depan karena kita libur Paskah lagi,” katanya saat dihubungi Bisnis, dikutip Senin (30/3/2026).
Franky menjelaskan bahwa ketersediaan bahan baku gandum biasanya akan ditentukan oleh hasil panen yang akan datang pada periode Juni—Juli untuk bagian dunia utara dan November—Desember untuk bagian dunia selatan.
Di tengah kondisi perang yang masih berkecamuk, Franky memprediksi bahwa kenaikan harga bahan baku tidak dapat terelakkan. Hanya saja, belum terang upaya Indofood untuk mengendalikan naiknya harga bahan baku ke depan.
”Khusus harga fluktuatif sementara ini. Jelas ada kemungkinan kenaikan [harga bahan baku]. Akibat dampak di luar kontrol, tidak mungkin kami kendalikan,” katanya.
Dihubungi terpisah, Sekretaris Perusahaan Estika Tata Tiara Ratna Sari Ismianti menerangkan bahwa perang yang terjadi sangat memberikan dampak terhadap BEEF lantaran perseroan melakukan impor bahan baku.
Hanya saja, Ratna menerangkan bahwa dalam waktu dekat, pihaknya masih belum memiliki rencana untuk melakukan impor bahan baku. Ketersediaan stok bahan baku dinilai masih cukup hingga saat ini.
”Perang pasti sangat berdampak, apalagi kami melaksanakan impor sapi dan daging beku. Namun, saat ini ketersediaan stok daging beku dan sapi masih cukup, sehingga perseroan dalam waktu dekat ini belum ada rencana melaksanakan impor,” katanya kepada Bisnis, Jumat (27/3/2026).
Kini, BEEF tengah berupaya menjaga pasokan bahan baku perseroan. Di tengah perang yang tidak dapat diprediksi tenggat waktunya, BEEF berupaya menjaga persediaan bahan baku lebh hati-hati.
”Perseroan lebih menjaga pasokan persediaan daging dengan hati-hati dan tentunya kewaspadaan pasokan lebih diutamakan. Semoga perang AS dan Iran segera selesai agar bisnis di Indonesia kembali berjalan dengan normal,” tegasnya.
Untuk diketahui, pada Senin (2/2/2026), BEEF baru saja mendatangkan 250 ekor sapi perah impor. Selain sebagai upaya mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), aksi ini juga disebut sebagai upaya memastikan kapasitas produksi perseroan.
Manajemen dalam paparan publiknya November 2025, menerangkan bahwa pada tahun ini, BEEF memiliki rekomendasi teknis impor sebanyak 15.000 ekor, dengan target operasional berupa 1.250 ekor sapi per bulan yang dimasukkan dan dikeluarkan untuk memutar stok.
”Melalui langkah ini, perseroan optimis dapat mengembangkan dan meningkatkan kapasitas produksi susu segar secara signifikan, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta berkontribusi dalam mendukung pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional,” kata manajemen.
Siasat Garudafood
Sementara itu, Direktur PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (GOOD) Johannes Setiadharma menerangkan kini pihaknya tengah berupaya mengantisipasi lonjakan harga bahan baku akibat memanasnya harga minyak. Pasalnya, biaya shipping freight diprediksi akan melonjak, dengan ketersediaan kapal kontainer akan lebih terbatas.
Dengan begitu, pencarian atas pemasok bahan baku dalam negeri baru menjadi salah satu solusinya. Hanya saja, Johannes menerangkan bahwa jika pemasok dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan GOOD, maka pihaknya akan mencari sumber pasokan di negara-negara Asia.
”[Kami] berupaya menurunkan ketergantungan terhadap bahan baku impor melalui kemitraan dengan petani Indonesia untuk menjamin pasokan bahan baku komoditas pertanian,” katanya kepada Bisnis, Sabtu (28/3/2026).
Sementara untuk bahan kemas, Garudafood juga berupaya bekerja sama dengan supplier lokal untuk membuat alternatif komposisi bahan penyusun plastik kemasan, sehingga lebih fleksibel dalam penggunaan beberapa varian resin.
Selain itu, berbagai upaya penghematan juga bakal dilakukan GOOD. Salah satunya, berupaya menghemat biaya energi dengan meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan seperti biomassa untuk bahan bakar dan solar panel untuk mengurangi beban penggunaan listrik.
Terhadap distribusi, GOOD berencana secara bertahap mengganti truk berbahan bakar solar dengan truk berdaya listrik. Hal itu dilakukan untuk mendukung operasional distribusi yang lebih efisien ke depan.
”Tentu juga diperlukan penyusunan ’scenario planning’ untuk mengantisipasi tiap risiko yang berpotensi muncul sebagai dampak dari perang dan segera membuat alternatif solusi yang optimal dalam tiap kemungkinan risiko yang bisa terjadi, yang kami mapping sehingga lebih siap apabila benar terjadi [kenaikan harga energi],” katanya.