Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan hoaks terkait kecelakaan kereta yang melibatkan Commuter Line (KRL) dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur.
Meutya menyampaikan peristiwa tersebut merupakan musibah yang sangat menyesakkan, baik bagi keluarga korban maupun masyarakat luas.
“Jadi tentu kami menghimbau betul tidak ada yang memanfaatkan peristiwa musibah seperti ini, pertama apalagi untuk menyebarkan hoaks atau berita tidak benar,” kata Meutya di Kantor Komdigi pada Selasa (28/4/2026).
Dia juga mengingatkan penyebaran ulang konten, meskipun benar, secara berlebihan berpotensi menimbulkan trauma psikis bagi korban maupun keluarga korban.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak menyebarkan tayangan atau informasi terkait kecelakaan secara tidak bertanggung jawab dan tetap menghormati perasaan para korban.
Terkait penyensoran konten, Meutya menambahkan pihaknya tengah berdiskusi dengan jajaran terkait untuk menentukan langkah penanganan yang diperlukan.
“Tapi pada semangatnya, kami ingin masyarakatnya juga untuk tidak melakukan itu [penyebaran hoaks],” katanya.
Lebih lanjut, dia menekankan imbauan tersebut didasarkan pada nilai kemanusiaan, sehingga tidak diperlukan intervensi khusus dari pemerintah. Masyarakat diharapkan secara sadar tidak melakukan penyebaran berlebihan, tidak menyebarkan misinformasi, serta menghindari konten yang berpotensi memperburuk kondisi korban maupun keluarganya.
Sebelumnya, kecelakaan beruntun terjadi di Stasiun Bekasi Timur yang melibatkan satu taksi listrik, dua rangkaian KRL, dan satu kereta jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek pada Senin (27/4/2026) malam.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan, berdasarkan kronologi awal, insiden bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85. Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai perjalanan luar biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.
Sebagai dampaknya, petugas kemudian memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur.
“Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya sehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (28/4/2026).
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin menambahkan dugaan awal kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 20.52 WIB dipicu oleh insiden temper taksi listrik di perlintasan sebidang JPL 85.
“Ini kami curigai membuat sistem perkeretaapian di Stasiun Bekasi Timur terganggu,” katanya.
Taksi listrik tersebut diketahui tertemper rangkaian KRL baru impor dari China pada lintas Jakarta–Cikarang. Sementara itu, KRL lama buatan Jepang yang tengah menunggu di Stasiun Bekasi Timur kemudian terhantam KA Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya Pasar Turi–Gambir yang dalam kondisi normal dapat melaju dengan kecepatan hingga 100–120 km/jam.
Investigasi lebih lanjut diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
Dalam perkembangan terbaru, seluruh penumpang KA Argo Bromo Anggrek yang berjumlah 240 orang telah berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Namun, hingga Selasa (28/4/2026) pagi, tercatat 14 penumpang KRL meninggal dunia dan telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi. Sementara itu, 84 korban luka telah mendapatkan perawatan di berbagai fasilitas kesehatan.