Bisnis.com, JAKARTA — Emiten peritel PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES) dan PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) menyiapkan strategi guna meraup peluang pertumbuhan penjualan di momen Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Head of Corporate Communications & Sustainability Aspirasi Hidup Indonesia Melinda Pudjo mengatakan menjelang momen Nataru, ACES optimistis terhadap peningkatan aktivitas belanja masyarakat. Sebab, secara historis, Nataru selalu menjadi periode dengan kontribusi penjualan terbesar bagi perseroan melalui brand AZKO.
"Karena itu, kami akan memaksimalkan potensi tersebut melalui berbagai program promosi dan inisiatif penjualan yang relevan dengan kebutuhan pelanggan di akhir tahun," kata Melinda kepada Bisnis pada Kamis (13/11/2025).
Tahun ini, ACES akan kembali menghadirkan program Year-End Sale dan menawarkan beragam produk pilihan. Beberapa kategori produk yang akan menjadi highlight antara lain peralatan BBQ, perlengkapan outdoor living, perlengkapan traveling, hingga kitchen appliances.
"Melalui rangkaian promo dan inspirasi produk, kami berharap dapat memberikan pengalaman belanja lebih baik bagi pelanggan, sekaligus mendorong pertumbuhan kinerja penjualan yang positif pada kuartal IV tahun ini," ujar Melinda.
Sementara, Head of Legal Counsel & Corporate Affairs Erajaya Group Amelia Allen mengatakan perseroan memang tidak dapat menyampaikan target keuangan maupun proyeksi penjualan kepada publik. Namun secara keseluruhan, ERAA tetap memandang positif prospek bisnis hingga akhir tahun.
"Keyakinan ini didorong oleh strategi ekspansi yang berkelanjutan, penguatan portofolio merek, serta kemampuan kami dalam memahami kebutuhan dan preferensi konsumen di berbagai kategori," kata Amelia kepada Bisnis pada Kamis (13/11/2025).
Dalam menyambut momentum akhir tahun, ERAA berfokus pada tiga hal utama, yakni ketersediaan produk, kesiapan layanan, dan pengalaman pelanggan.
"Kami memastikan rantai pasok berjalan lancar agar pelanggan dapat dengan mudah memperoleh produk yang diinginkan," ujar Amelia.
Selain itu, ERAA memperkuat kesiapan tim di seluruh jaringan ritel untuk menghadirkan layanan yang responsif dan profesional.
ERAA juga menyiapkan berbagai program promosi tematik, baik secara online maupun di gerai offline, yang dirancang agar relevan dengan minat dan kebutuhan pelanggan pada musim liburan.
Di sisi lain, ERAA memperkuat integrasi antar vertikal bisnis guna memberikan pengalaman belanja yang lebih menyeluruh dan beragam.
Siasat ACES dan ERAA meraup peluang akhir tahun dijalankan di tengah kinerja profitabilitas lesu setidaknya sampai kuartal III/2025. ACES misalnya telah membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp481,09 miliar per kuartal III/2025, susut 16,21% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp574,22 miliar.
ACES sebenarnya mencatatkan peningkatan penjualan bersih 1,69% YoY menjadi Rp6,33 triliun per kuartal III/2025, dibandingkan Rp6,22 triliun per kuartal III/2024.
Akan tetapi, ACES telah mencatatkan beban pokok penjualan sebesar Rp3,3 triliun, naik 2,91% YoY. Beban usaha ACES juga meningkat dari Rp2,35 triliun per kuartal III/2024, menjadi Rp2,59 triliun per kuartal III/2025. Laba usaha ACES kemudian susut 14,78% YoY menjadi Rp637,46 miliar.
Selain itu, ERAA telah membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp785,57 miliar per kuartal III/2025, turun tipis 0,7% YoY dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp791,16 miliar.
Erajaya pun sebenarnya mencatat penjualan neto yang naik 7,72% YoY menjadi Rp52,36 triliun per kuartal III/2025, dibandingkan Rp48,6 triliun per kuartal III/2024.
Namun, ERAA mencatatkan beban pokok penjualan yang naik 7,75% YoY menjadi Rp46,51 triliun. Beban pajak penghasilan neto ERAA juga membengkak dari Rp287,07 miliar menjadi Rp332,34 miliar. Alhasil, laba bersih ERAA menyusut.
Sebelumnya, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengatakan sejauh ini kinerja emiten peritel seperti ACES dan ERAA dipengaruhi kondisi daya beli masyarakat yang masih lemah. Ditambah, kondisi ekonomi pada awal 2025 masih underwhelming.
"Pada akhir tahun, kinerja emiten peritel semestinya bisa mengalami penguatan karena retail sales index mengalami pertumbuhan,” kata Nafan kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu.
Sejalan dengan itu, pertumbuhan ekonomi sejak kuartal II/2025 mulai membaik. Ditambah, pemerintah akan memberikan stimulus yang tujuannya mendongkrak daya beli.
Selain itu, emiten peritel akan mendapatkan dorongan dari momen perayaan Natal dan tahun baru. Sektor-sektor ekonomi seperti ritel diperkirakan mendapat manfaat besar dari lonjakan belanja konsumen dan perjalanan liburan pada akhir tahun.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi juga mengatakan pada akhir tahun ekonomi meningkat seiring dengan perayaan Nataru. Sektor-sektor seperti ritel, pariwisata, dan perhotelan mendapat manfaat besar dari lonjakan belanja konsumen dan perjalanan liburan.
Terjadi peningkatan permintaan barang-barang konsumsi, seperti pakaian, elektronik, dan makanan, juga mendorong sektor manufaktur dan distribusi. Untuk sektor ritel, khususnya, diuntungkan dari lonjakan belanja konsumen yang mempersiapkan hadiah atau untuk konsumsi pribadi.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.