Bisnis.com, JAKARTA — Prospek sektor perunggasan atau poultry dinilai tetap positif, meskipun rencana restrukturisasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik pemerintah sempat membayangi sentimen pasar.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Wilastita Muthia Sofi mengungkapkan isu pemangkasan pagu anggaran MBG dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun berpotensi menurunkan penyerapan daging ayam.
Kendati demikian, potensi penurunan belanja komoditas tersebut diperkirakan hanya berdampak minimal terhadap fundamental industri dengan pemangkasan tipis pada tingkat kekurangan pasokan (undersupply).
“Kami memperkirakan potensi penurunan belanja MBG ini berdampak terbatas, hanya mengurangi estimasi undersupply unggas tahun 2026 dari semula 12% menjadi sekitar 11%,” ujar keduanya dalam riset, dikutip Sabtu (20/6/2026).
Di bawah skenario tanpa ekspansi penerima manfaat, serapan ayam untuk program MBG sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai 300.000 ton, hanya turun tipis dari proyeksi awal sebesar 328.000 ton.
Selain sentimen MBG, pelemahan harga ayam hidup (livebird/LB) ke kisaran Rp16.500—Rp18.500 per kilogram sejak akhir Mei lalu dinilai lebih dipicu oleh faktor musiman dan peningkatan produksi secara temporer.
Faktor musiman tersebut mencakup penurunan permintaan selama masa libur sekolah dan memasuki bulan Suro, di samping adanya disrupsi jangka pendek akibat reformasi program pasokan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan margin laba emiten unggas pada kuartal II/2026 akan melandai setelah mencatatkan kinerja basis tinggi (high base) yang cukup kuat pada kuartal I/2026.
Pada kuartal II/2026, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) diproyeksikan meraup laba Rp845 miliar hingga Rp1,027 triliun, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) senilai Rp529 miliar sampai Rp680 miliar, dan PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) sebesar Rp31 miliar hingga Rp 39 miliar.
Proyeksi penurunan kinerja secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ) tersebut dipengaruhi oleh penurunan harga jual rata-rata ayam hidup sebesar 15,0% QoQ dan harga anak ayam usia sehari (day-old chick/DOC) sebesar 15,2% QoQ.
Meskipun harga jual melemah, biaya pakan atau feed cost tercatat relatif stabil di level Rp7.600 per kilogram karena penurunan harga jagung lokal terkompensasi oleh kenaikan harga bungkil kedelai (soybean meal/SBM).
BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perunggasan seiring dengan valuasi saham yang sudah terdiskon cukup dalam hingga menyentuh -1,5 standar deviasi (SD) dari rata-rata lima tahunnya.
Pemulihan harga ayam hidup pada Juli 2026 juga diproyeksikan akan menjadi katalis utama bagi pembalikan arah saham sektor unggas, dengan saham CPIN ditempatkan sebagai pilihan utama atau top pick.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.