Program ini merupakan fase kedua, di mana fase pertama telah dilaksanakan sebelumnya sebagai bagian dari mandat yang diberikan kepada kami
Cilacap (ANTARA) - Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Rosan Roeslani menyatakan pelaksanaan 13 proyek hilirisasi nasional tahap II akan memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja dalam skala besar.
Dalam acara Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto di area Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu, ia mengatakan program hilirisasi yang kini memasuki fase kedua merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang telah dimulai pada 6 Februari 2026.
“Program ini merupakan fase kedua, di mana fase pertama telah dilaksanakan sebelumnya sebagai bagian dari mandat yang diberikan kepada kami,” katanya.
Ia mengatakan pelaksanaan groundbreaking untuk proyek-proyek tersebut dilakukan secara serentak sebagai langkah percepatan pembangunan industri berbasis nilai tambah.
Menurut dia, proyek hilirisasi tidak hanya berfokus pada pengolahan sumber daya alam, juga memberikan dampak luas terhadap perekonomian nasional.
“Dari proyek-proyek yang kita jalankan ini akan menciptakan lapangan pekerjaan mencapai kurang lebih 600 ribu,” katanya.
Ia merinci proyek-proyek tersebut mencakup sektor energi dan mineral, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi impor LPG.
“Sekitar 80 persen kebutuhan LPG kita masih berasal dari impor. Dengan hilirisasi ini, kita ingin mengurangi ketergantungan tersebut,” katanya.
Ditemui usai acara, Rosan mengatakan groundbreaking tahap kedua tersebut telah diresmikan langsung oleh Presiden di sejumlah lokasi secara bersamaan.
“Alhamdulillah tadi groundbreaking proyek hilirisasi nasional fase kedua sudah diresmikan langsung oleh Bapak Presiden di 13 lokasi secara bersamaan, sebagian ditampilkan melalui video conference,” katanya.
Ia mengatakan fase kedua merupakan lanjutan dari tahap pertama yang mencakup 11 lokasi, dengan total proyek kini tersebar di berbagai wilayah strategis.
Menurut dia, proyek-proyek tersebut terdiri atas lima proyek di sektor energi, lima proyek sektor mineral, serta tiga proyek lainnya yang terkait sektor industri dan pendukung teknologi.
Rosan menambahkan seluruh proyek telah melalui proses panjang, mulai dari kajian hingga perencanaan, sehingga diharapkan dapat segera direalisasikan secara optimal.
Ia juga menekankan salah satu manfaat utama dari program hilirisasi adalah pengurangan impor, khususnya di sektor energi.
“Kalau kita lihat, pengurangan impor dari proyek-proyek ini bisa mencapai sekitar 3,4 miliar dolar AS per tahun,” katanya.
Selain itu, proyek-proyek tersebut dikerjakan oleh berbagai BUMN, seperti Pertamina, MIND ID, Krakatau Steel, dan sejumlah perusahaan pelat merah lainnya, dengan dukungan pembiayaan dan akselerasi dari Danantara.
“Ini merupakan kolaborasi bersama antar-BUMN, dan kami mendorong percepatan dari proyek-proyek yang sebelumnya sudah direncanakan,” katanya.
Rosan juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan fase ketiga hilirisasi yang diperkirakan mencakup sekitar enam proyek tambahan dengan nilai investasi lebih besar.
“Untuk fase ketiga, nilainya bisa mencapai sekitar 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp170 triliun,” katanya.
Ia mengatakan proyek-proyek pada tahap berikutnya tidak hanya berfokus pada energi dan mineral, tetapi juga mulai merambah sektor lain seperti perkebunan dan akuakultur.
Menurut dia, pengembangan sektor tersebut diharapkan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek.
“Ke depan kita juga akan dorong sektor seperti agrikultur, perikanan, termasuk komoditas seperti tilapia dan rumput laut,” katanya.
Rosan menegaskan seluruh program hilirisasi akan tetap dijalankan dengan prinsip tata kelola yang baik dan perencanaan matang agar memberikan hasil optimal bagi perekonomian nasional.
Dengan berlanjutnya program hingga fase berikutnya, pemerintah optimistis hilirisasi dapat menjadi pilar utama dalam memperkuat ketahanan energi, mengurangi impor, serta meningkatkan daya saing industri nasional.
Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan hilirisasi industri sebagai langkah strategis untuk menguasai dan mengelola sumber daya nasional demi ... [379] url asal
Cilacap (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan hilirisasi industri sebagai langkah strategis untuk menguasai dan mengelola sumber daya nasional demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia.
Presiden mengatakan proyek hilirisasi yang dijalankan mencakup berbagai sektor, antara lain energi, mineral, dan pertanian, sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur ekonomi nasional.
“Kita tidak mau hanya menjual bahan mentah. Kita ingin mengolahnya di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat,” kata Prabowo saat menghadiri Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II di area Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu,
Kepala Negara menegaskan bahwa penguasaan sumber daya alam merupakan syarat utama bagi bangsa yang ingin mandiri dan berdaulat.
Menurut Prabowo, sejarah menunjukkan bahwa kekayaan Indonesia sejak lama menjadi incaran kekuatan asing.
Oleh karena itu, hilirisasi dinilai sebagai bentuk keberanian bangsa untuk mengelola kekayaan sendiri sekaligus menghindari ketergantungan pada pihak luar.
Presiden juga mengaitkan pentingnya hilirisasi dengan semangat nasionalisme, yakni cinta tanah air dan persatuan nasional sebagai fondasi kebangkitan bangsa.
“Satu-satunya jalan menuju kebangkitan suatu bangsa adalah nasionalisme dan keberanian menguasai sumber dayanya sendiri,” kata Presiden.
Dalam konteks global, Prabowo menyebut perkembangan teknologi membuat dunia semakin terhubung, sehingga gejolak internasional dapat berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi domestik, termasuk harga komoditas pangan dan energi.
Terkait dengan hal itu, Indonesia dinilai perlu memperkuat kemandirian melalui pengolahan sumber daya di dalam negeri agar lebih tahan terhadap dinamika global.
Presiden juga mengapresiasi para teknokrat, ilmuwan, dan pelaku industri yang telah merancang proyek hilirisasi tersebut sebagai hasil pemikiran jangka panjang.
Prabowo menekankan bahwa proyek-proyek tersebut bukan muncul secara instan, melainkan melalui proses panjang perencanaan dan visi pembangunan nasional.
Lebih lanjut, Presiden mengingatkan agar kekayaan bangsa tidak lagi dinikmati oleh segelintir pihak atau dibawa ke luar negeri tanpa memberikan manfaat optimal bagi rakyat.
“Kekayaan Indonesia harus berada di tangan bangsa Indonesia dan dinikmati oleh rakyat Indonesia,” kata Prabowo menegaskan.
Presiden juga mengajak para profesional dan pelaku usaha untuk menunjukkan sikap patriotik dalam mengelola sumber daya nasional serta mengabdikan keahlian mereka bagi kepentingan bangsa.
Menurut Prabowo, hilirisasi merupakan perjalanan panjang atau “long march” yang membutuhkan konsistensi dan kerja keras seluruh elemen bangsa.
Dengan semakin banyaknya proyek hilirisasi yang digulirkan, pemerintah optimistis mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
Kepulangan ke kampung halaman kerap dipandang sebagai langkah mundur, namun bagi Novita Hermawan, keputusan pulang ke kampung halaman suami di Desa Selang, ... [936] url asal
Kebumen (ANTARA) - Kepulangan ke kampung halaman kerap dipandang sebagai langkah mundur, namun bagi Novita Hermawan, keputusan pulang ke kampung halaman suami di Desa Selang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, justru menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya.
Sebelum pandemi COVID-19, Novita bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta. Sang suami, Rudi Hermawan, berkarier di salah satu anak perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) di bidang telekomunikasi.
Ketika pandemi melanda, kontrak kerja Rudi ditahan, aktivitas proyek melambat, dan masa depan terasa tidak menentu.
“Kami akhirnya memutuskan pulang ke Kebumen naik sepeda motor. Tidak ada rencana besar waktu itu, yang penting bisa bertahan,” kata Novita yang asli Betawi.
Di Kebumen, Novita dan suami memulai usaha mina padi, namun tidak bisa berjalan sesuai harapan hingga akhirnya mereka melihat kenyataan yang selama ini luput dari perhatian. Daerah tersebut kaya tanaman pisang, tetapi limbah pelepahnya hanya dibiarkan membusuk atau dibakar.
Padahal, pelepah pisang memiliki serat kuat yang berpotensi diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Berangkat dari rasa penasaran, keduanya mulai melakukan riset mandiri. Mereka mempelajari bagaimana pelepah pisang diolah di berbagai negara, sekaligus mencermati tren global terhadap produk ramah lingkungan.
Saat itu, permintaan pasar internasional terhadap produk berbasis serat alam tengah meningkat seiring menguatnya kesadaran akan keberlanjutan dan Sustainable Development Goals (SDGs).
Mereka pun merintis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berbasis limbah pelepah pisang yang kini menembus pasar ekspor lintas benua.
Pada 2021, Novita dan Rudi mendirikan PT Agromina Fiber Java Indonesia. Sejak awal, Agromina diposisikan sebagai social enterprise, sebuah usaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, juga membawa dampak sosial dan lingkungan.
“Kami ingin punya tanggung jawab terhadap lingkungan, tapi tetap harus bisa menghasilkan nilai ekonomi,” kata Novita yang kini menjabat sebagai Chief Marketing Officer (CMO).
Agromina memulai usaha dari hulu, dengan mengolah limbah pelepah pisang menjadi bahan baku serat. Prosesnya dimulai dari pengumpulan pelepah pisang dari petani, pemilahan, pengeringan, hingga pemintalan menjadi tali serat.
Dari bahan baku itu, Agromina mengembangkan produk seperti keranjang, dekorasi dinding, dan kap lampu.
Konsep zero waste menjadi prinsip utama. Sisa pelepah pisang yang tidak terpakai kembali diolah menjadi bio-leather atau vegan leather. Dengan demikian, hampir tidak ada limbah yang terbuang.
“Banyak yang bicara soal keberlanjutan, tapi berhenti di slogan. Kami mencoba menjalankannya dari awal sampai akhir,” kata Novita.
Dua tahun pertama menjadi fase paling menantang. Agromina harus mengedukasi petani dan perajin tentang cara mengolah pelepah pisang dengan standar kualitas yang konsisten.
Tantangan utama datang dari sumber daya manusia, karena sebagian besar perajin belum terbiasa dengan tuntutan kualitas pasar ekspor.
Namun, pendekatan perlahan membuahkan hasil. Saat ini, Agromina memberdayakan sekitar 170 perajin, dengan sekitar 70 persen di antaranya perempuan. Para perajin tersebar di Kebumen, Purworejo, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.
Sistem klaster diterapkan agar produksi tetap berjalan efisien, karena para perajin bekerja dari rumah masing-masing, sementara Agromina menempatkan koordinator di setiap wilayah. Pola ini dinilai lebih sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.
Bagi Novita dan Rudi, keberlanjutan sosial sama pentingnya dengan lingkungan. Mereka tetap bisa bekerja tanpa meninggalkan keluarga dan aktivitas budaya.
Upaya Agromina mulai membuahkan hasil ketika produk-produknya menarik minat pasar luar negeri. Ekspor perdana dilakukan ke Nigeria, disusul Dubai, Chile, Argentina, Belgia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.
Saat ini, pengiriman ke Amerika dilakukan secara reguler setiap dua bulan, dengan volume dua hingga tiga kontainer.
Produk yang paling diminati pasar ekspor adalah keranjang berbahan serat pelepah pisang, disusul dekorasi dinding dan kap lampu. Harga satu set keranjang untuk pasar ekspor berkisar Rp250.000 hingga Rp350.000, sementara kap lampu dapat mencapai Rp650.000 per unit.
Untuk menjaga kepercayaan pasar global, Agromina serius membenahi aspek legalitas. Perusahaan ini telah mengantongi ISO 14001 terkait manajemen lingkungan dan ISO 9001 terkait manajemen mutu, serta hak kekayaan intelektual (HKI).
Saat ini, Agromina juga tengah menyusun sistem traceability dan geotagging produk sebagai syarat memasuki pasar Eropa.
“Walaupun kami UMKM, pola pikir kami harus sudah menengah ke atas. Banyak orang di bawah kami yang bergantung,” ujar Novita.
Bahan baku pelepah pisang juga terus dijaga keberlanjutannya. Jenis pisang batu dan kepok menjadi pilihan utama karena kualitas seratnya. Pasokan berasal dari Kebumen dan sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.
Bahkan, Agromina mulai memberdayakan mantan pekerja pabrik bulu mata palsu di Purbalingga yang terdampak penutupan industri.
Komitmen sosial Agromina diperluas dengan membina santri, pemuda tani, serta warga rumah tahanan (rutan) Kebumen. Mereka dibekali keterampilan sebagai bekal hidup setelah kembali ke masyarakat.
Pengakuan nasional datang ketika Novita terpilih masuk 10 besar Pertapreneur Aggregator tingkat nasional, dengan pertumbuhan omzet di atas 100 persen. Penilaian tidak hanya melihat kinerja bisnis, juga dampak sosial dan keberlanjutan usaha.
Ke depan, Agromina terus menyiapkan inovasi. Salah satunya riset pengembangan paper sheet dari serat pelepah pisang yang dapat ditanami kembali setelah digunakan, sebagai alternatif kertas ramah lingkungan.
Pembuatan keranjang anyaman berbahan baku limbah pelepah pisang di Workshop Agrominafiber Java Indonesia, Desa Selang, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Kamis (22/1/2026). ANTARA/Sumarwoto
Perjalanan Agromina juga tidak lepas dari pendampingan PT Pertamina (Persero). Area Manager Communication, Relations and CSR PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU IV Cilacap Cecep Supriyatna mengatakan Agromina merupakan mitra binaan yang memiliki potensi kuat untuk berkembang.
“Agromina memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai dan berdampak bagi masyarakat. Ini sejalan dengan komitmen Pertamina dalam pemberdayaan UMKM dan pelestarian lingkungan,” katanya.
Menurut dia, melalui program UMK Akademi dan pembinaan Pertamina RU IV Cilacap, perusahaan memberikan pendampingan, dukungan permodalan, serta membuka akses pameran dan pasar ekspor. Tujuannya agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh mandiri dan berdaya saing global.
Dari pelepah pisang yang dulu dianggap limbah, Agromina Fiber kini merajut harapan. Kisah Novita Hermawan membuktikan bahwa kepulangan ke desa bukan akhir perjalanan, melainkan awal langkah UMKM lokal menuju pasar dunia.
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Petrochemical Trading (Pertachem), salah satu entitas usaha dalam Group PT Pertamina Patra Niaga, menjalin kerja sama strategis dengan PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terkait jual beli produk Soda Ash di pasar domestik.
Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat rantai pasok industri kimia nasional dan mendukung upaya kemandirian bahan baku dalam negeri, khususnya untuk kebutuhan industri kaca, deterjen, dan pengolahan air. Produk Soda Ash dari Pupuk Kaltim juga akan disalurkan untuk mendukung kebutuhan sektor energi seperti Pertamina Hulu Rokan.
Sebagai bagian dari Subholding Commercial & Trading Pertamina, Pertachem berperan aktif dalam mendukung pemenuhan kebutuhan industri nasional melalui pemasaran produk petrokimia strategis. Reputasi Pertachem pun diakui secara regional dengan pencapaian sebagai Top 10 Asia Pacific Chemical Distributor versi ICIS, yang menegaskan kapasitas perusahaan dalam mengelola rantai pasok kimia secara andal dan berdaya saing.
Pupuk Kaltim sendiri saat ini tengah membangun pabrik Soda Ash pertama di Indonesia dengan kapasitas 300 ribu ton per tahun serta produk samping Ammonium Chloride sebesar 300 ribu ton per tahun yang ditargetkan beroperasi pada Maret 2028. Hadirnya fasilitas ini akan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan pasokan Soda Ash domestik yang berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Petrochemical Trading (Pertachem), Oos Kosasih, dan Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim), Gusrizal.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama Pertachem Oos Kosasih menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat sinergi antar entitas BUMN serta mendukung kemandirian energi dan industri nasional.
"Kolaborasi ini merupakan wujud nyata sinergi antar entitas BUMN untuk memperkuat ekosistem industri petrokimia nasional. Kami optimistis, kerja sama ini tidak hanya memperluas portofolio Pertachem, tetapi juga berkontribusi pada kemandirian bahan baku dalam negeri serta efisiensi rantai pasok nasional," ujar Oos Kosasih dalam siaran persnya, Selasa (18/11/2025).
Sementara itu, Direktur Utama Pupuk Kaltim Gusrizal menuturkan bahwa pengembangan pabrik Soda Ash menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat hilirisasi dan kemandirian industri nasional. Inisiatif ini juga merupakan wujud komitmen Pupuk Kaltim dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam proses produksi Soda Ash.
"Pupuk Kaltim akan terus berinovasi untuk menghadirkan produk bernilai tambah tinggi sebagai bagian dari agenda hilirisasi industri nasional. Pembangunan pabrik Soda Ash pertama di Indonesia menjadi wujud komitmen kami dalam mendukung kemandirian industri nasional, dan melalui sinergi dengan Pertachem, kami yakin produk ini dapat tersalurkan secara optimal," ungkap Gusrizal.
Kerja sama ini mencerminkan semangat kolaborasi BUMN dalam memperkuat kemandirian energi dan industri nasional, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi pelanggan serta pelaku industri di seluruh Indonesia.