Bisnis.com, JAKARTA — PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) bersama Indonesia Artificial Intelligence (INA AI) meluncurkan layanan edu gims matematika berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Sacred Octagon, yang ditargetkan menjangkau 600 kota di Indonesia.
General Manager Value Added Service and Music Business Telkomsel Riset Wijoyo, mengatakan saat ini kecerdasan buatan (AI) sedang menjadi tren. Hal tersebut dimanfaatkan Telkomsel untuk membantu pemerataan pendidikan di Indonesia, khususnya dalam bidang matematika melalui gim Sacred Octagon.
“Kita berencana pada tahap satu ini 130 [kota] itu kita gandeng semua. Habis itu baru kita masuk ke space kedua yang sampai 600 kota,” ujar Riset kepada Bisnis dalam acara Telkomsel x Sacred Octagon, Rabu (11/2/2026).
Sacred Octagon merupakan layanan edu gims matematika interaktif yang menggunakan AI dan mengadaptasi metode GASING (Gampang, Asyik, Menyenangkan) yang dikembangkan oleh Prof. Yohanes Surya.
Gim ini dirancang dengan tampilan menarik. Di dalamnya, anak-anak dapat bermain sambil belajar matematika, mulai dari penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian. Tingkat kesulitan soal disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak, dari level paling dasar hingga paling sulit.
Prof. Yohanes Surya menjelaskan bahwa AI berperan dalam membuat proses belajar menjadi lebih personal. Sistem akan menganalisis kemampuan setiap anak untuk mengetahui mereka berada di tahap mana.
Metode pembelajaran dalam gim ini memiliki beberapa tingkatan, dari level paling dasar hingga tertinggi. Dengan memberikan beberapa pertanyaan awal, AI dapat mendeteksi posisi kemampuan anak.
Setelah mengetahui level tersebut, sistem akan memberikan soal yang sesuai, menyusun materi secara personal, dan memastikan setiap anak mendapatkan soal yang berbeda. Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih efektif karena disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
Saat ini, gim yang tersedia masih berupa versi dasar. Prof. Yohanes menyebutkan bahwa dalam tiga hingga empat bulan ke depan, gim ini akan dikembangkan menjadi versi full AI.
“Jadi ini makanya bertahan optimus ini kayak anggap aja 1.0 lah ya. Nanti ada 2.0 terus diperhatikan,” kata Prof. Yohanes.
Prof. Yohanes mendukung penuh program ini, dia menilai anak-anak Indonesia memiliki potensi kecerdasan dalam matematika, namun banyak yang merasa takut terhadap pelajaran tersebut. Selain itu, kurangnya kesempatan belajar membuat sebagian anak belum memahami matematika dengan baik.
Selain itu Prof. Yohanes juga menyoroti masih banyak anak-anak Indonesia, khususnya di daerah pedalaman yang belum mendapatkan akses dan fasilitas pendidikan yang memadai. Kondisi tersebut menyebabkan ketertinggalan dalam pembelajaran.
Melalui metode GASING, anak-anak diajarkan berhitung cepat dengan cara yang menyenangkan. Metode ini mengedepankan kemampuan mencongak dan berbeda dari metode perhitungan konvensional.
Dalam perhitungan GASING, angka dihitung dari depan, bukan dari belakang, serta anak-anak diajak memahami alur soal, bukan sekadar mencari jawaban. Metode ini dilakukan secara bertahap, mulai dari konsep paling sederhana hingga yang paling kompleks.
“Anak gak mau pulang karena asik gitu loh. Nah ke asik kan nih, di pelatihan itu yang kita bawa ke gim ini,” kata Prof. Yohanes.
Dalam acara tersebut turut dihadirkan sejumlah anak yang telah mengikuti pelatihan metode GASING bersama Prof. Yohanes. Mereka berasal dari Indonesia Timur, khususnya Papua Tengah.
Dalam demonstrasi tersebut, anak-anak mampu menghitung cepat berbagai operasi matematika, mulai dari perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, hingga akar kuadrat, semuanya dijawab dalam waktu kurang dari 30 detik.
Salah satu peserta bernama Parnita, siswi sekolah dasar asal Papua Tengah, mengaku sebelumnya tidak bisa berhitung. Namun setelah mengikuti pelatihan metode GASING, ia kini bahkan mampu mempelajari kalkulus di usia yang masih sangat muda.
“Dulu saya tidak tahu apa apa tapi setelah tahu metode gasing saya jadi tahu matematika”
Ayah Parnita yang turut hadir menyampaikan harapannya agar pendidikan di Indonesia semakin merata, khususnya di Papua Tengah. Menurutnya, masih banyak anak di daerah tersebut yang belum memperoleh akses pendidikan dan fasilitas yang memadai.
Saat ini, Parnita tengah dipersiapkan oleh Prof. Yohanes untuk masuk ke University of Science and Technology, China yang menerima siswa berusia 10–16 tahun. Universitas tersebut dikenal memiliki peringkat satu dunia untuk bidang matematika dan komputer.
Cara Mendapatkan Sacred Octagon
Untuk mengakses gim Sacred Octagon, Telkomsel menyediakan beberapa pilihan paket melalui aplikasi MyTelkomsel. Pelanggan dapat mengakses All Zone Pass sesuai durasi berlangganan dengan kuota internet Telkomsel sebagai berikut:
- 3 hari: All Zone Pass + kuota 100 MB (4G/5G) Rp12.500
- 10 hari: All Zone Pass + kuota 300 MB (4G/5G) Rp25.000
- 30 hari: All Zone Pass + kuota 1 GB (4G/5G) Rp50.000
- 365 hari: All Zone Pass + kuota 12 GB (4G/5G) Rp500.000
Cara membeli melalui MyTelkomsel:
1. Buka menu “Beli Paket” di MyTelkomsel, lalu pilih paket “Sacred Octagon” sesuai durasi yang diinginkan.
2. Untuk pembelian satu kali, nonaktifkan tombol “Subscribe”. Untuk berlangganan otomatis, biarkan tombol tetap aktif.
3. Tinjau detail paket dan metode pembayaran, kemudian pilih “Subscribe/Beli”. (Nur Amalina)