Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah ke posisi Rp16.906 pada hari ini, Jumat (20/2/2026). Pada saat bersamaan, greenback terpantau mengalami penguatan.
Mengutip Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah sebesar 12 poin atau 0,07% menuju level Rp16.906 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS mengalami apresiasi sebesar 0,04% menuju posisi 97,96.
Adapun, mayoritas mata uang di Asia dibuka melemah. Yen Jepang melemah 0,06% bersama yuan China sebesar 0,05%. Selanjutnya, ringgit Malaysia dan peso Filipina masing-masing terdepresiasi sebesar 0,03% dan 0,21%.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif tetapi berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp16.890 hingga Rp16.930 per dolar AS pada hari ini.
Sebelumnya, dia menerangkan bahwa kinerja rupiah pada perdagangan hari ini tidak dapat dilepaskan dari sentimen dalam dan luar negeri.
Di dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menolak usulan IMF untuk menaikkan PPh karyawan untuk menjaga defisit APBN berada di bawah level 3%. Pemerintah dinilai tidak akan menaikkan tarif pajak sebelum ekonomi nasional benar-benar kuat.
Ibrahim menilai, alih-alih mengerek pajak lebih tinggi, pemerintah seharusnya fokus untuk perluasan basis pajak dan menutup kebocoran penerimaan pajak.
“Selain itu, pemerintah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar penerimaan pajak meningkat secara alami dan defisit anggaran dapat ditekan,” katanya dalam keterangannya, Kamis (19/2/2026).
Adapun dalam kajian IMF, lembaga moneter internasional itu menyarankan Indonesia untuk meningkatkan pajak karyawan secara bertahap sebagai salah satu sumber pendanaan negara. IMF menilai peningkatan investasi publik berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
“Salah satu opsi yang disimulasikan adalah kenaikan pajak penghasilan tenaga kerja secara bertahap untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan melalui defisit anggaran,” pungkas Ibrahim.
Dari luar negeri, sentimen datang dari ketegangan antara AS dan Iran, setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa Iran gagal memenuhi tuntutan utama AS dalam perundingan.
Selain itu, pasar juga disebut telah menurunkan ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga The Fed tahun ini, meskipun kontrak berjangka dana The Fed masih menunjukkan kemungkinan terjadi pemangkasan pada Juni 2026.
“Investor sekarang menunggu data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi [PCE] AS yang akan dirilis pada hari Jumat, indikator inflasi pilihan Fed, untuk mendapatkan arahan yang lebih jelas tentang kebijakan moneter,” kata Ibrahim.