Bisnis.com, JAKARTA— Layanan internet tetap nirkabel atau Fixed Wireless Access (FWA) berbasis 5G diproyeksikan menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru industri telekomunikasi global, termasuk di Indonesia. Layanan ini akan masuk ke wilayah yang sulit dijangkau oleh serat optik atau layanan fiber to the home (FTTH).
Di tengah rendahnya penetrasi jaringan serat optik (fiber) ke rumah tangga yang baru mencapai sekitar 21%, teknologi FWA dinilai mampu memperluas akses broadband dengan kualitas yang mendekati layanan fiber sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi operator telekomunikasi.
Head of Network Solutions Ericsson South East Asia Stanislaus Bawono mengatakan tren industri telekomunikasi global saat ini mulai bergerak ke arah layanan broadband rumah berbasis 5G FWA.
“Jadi memang trennya itu adalah menuju ke 5G FWA broadband-nya. Jadi kita lihat ini akan menjadi salah satu bigger tren selain differentiated connectivity, yaitu Fixed Wireless Access,” kata Stanislaus dalam pemaparan Ericsson Mobility Report 2026.
Menurutnya, peluang pengembangan FWA 5G di Indonesia masih sangat besar mengingat penetrasi broadband tetap masih relatif rendah. Kondisi tersebut membuat masih banyak rumah tangga yang belum terjangkau layanan internet berbasis fiber.
“Jadi banyak peluang sebenarnya bahwa dari seluruh populasi kita tuh untuk bisa dicover oleh 5G Fixed Wireless Access juga,” ujarnya.
Dia menjelaskan layanan FWA berbasis 5G mulai berkembang dari model sebelumnya yang banyak memanfaatkan jaringan 4G dan berbasis kuota. Kini, sejumlah operator di berbagai negara menawarkan layanan dengan komitmen kecepatan tertentu sehingga semakin mendekati pengalaman penggunaan internet fiber.
“Jadi sebetulnya banyak operator di seluruh dunia menjual fiber-like connection yang menggunakan teknologi 5G,” katanya.
Permintaan terhadap layanan tersebut juga terus meningkat di berbagai negara. Di Amerika Serikat, layanan FWA menjadi salah satu motor pertumbuhan pelanggan broadband rumah. Tiga operator besar, yakni T-Mobile, Verizon, dan AT&T, secara kolektif telah mengakuisisi lebih dari 14 juta pelanggan FWA hingga awal 2026. Sementara itu, di India jumlah pelanggan FWA telah mencapai hampir 17 juta pada kuartal I/2026.
Stanislaus menilai perkembangan FWA tidak terlepas dari perluasan cakupan jaringan 5G, terutama pada spektrum mid-band seperti 2,6 GHz dan 3,5 GHz yang dinilai paling optimal untuk menghadirkan kemampuan penuh teknologi 5G.
Dia menjelaskan cakupan populasi jaringan 5G mid-band secara global saat ini telah mencapai sekitar 55%-60%. Namun, tingkat adopsinya berbeda-beda di setiap wilayah. China dan India telah mencatat cakupan populasi 5G mendekati 95%, sedangkan kawasan Asia Pasifik di luar kedua negara tersebut masih berada di kisaran 35%.
Menurutnya, kombinasi spektrum mid-band dengan spektrum low-band yang saat ini telah digunakan operator dapat meningkatkan kualitas layanan, memperluas cakupan jaringan, serta memperbaiki pengalaman pengguna saat berpindah lokasi. Selain itu, ketersediaan spektrum mid-band yang memadai juga memungkinkan operator menghadirkan berbagai layanan baru yang lebih bernilai tambah.
“Kalau kita punya mid-band yang cukup luas, kita bisa menggunakan layanan yang berbeda sehingga operator bisa mendapatkan potential revenue yang berbeda,” ujarnya.
Trafik FWA Melonjak
Ericsson Mobility Report Juni 2026 mencatat kontribusi trafik FWA terhadap total trafik data seluler global akan meningkat dari sekitar 27% pada 2025 menjadi lebih dari 36% pada 2031.
Secara keseluruhan, trafik data seluler global diproyeksikan melonjak dari 203 exabyte (EB) per bulan pada 2025 menjadi 515 EB per bulan pada 2031. Dari jumlah tersebut, trafik FWA diperkirakan meningkat dari sekitar 55 EB menjadi 187 EB per bulan atau tumbuh sekitar 240% dalam enam tahun.
Pertumbuhan trafik FWA tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan trafik data seluler non-FWA yang diproyeksikan meningkat dari 146 EB menjadi 328 EB per bulan pada periode yang sama.
Ericsson juga memperkirakan porsi trafik data yang berjalan di jaringan 5G akan meningkat dari 48% pada 2025 menjadi 85% pada 2031. Peningkatan tersebut didorong oleh semakin luasnya penggunaan aplikasi berbasis kecerdasan buatan generatif (generative artificial intelligence/GenAI), perangkat extended reality (XR), layanan video streaming, serta ekspansi FWA di wilayah yang belum terjangkau jaringan broadband tetap berbasis fiber.
Di sisi lain, Pengamat Telekomunikasi sekaligus Direktur ICT Institute Heru Sutadi menilai potensi FWA 5G di Indonesia cukup besar, terutama untuk memperluas akses broadband di wilayah yang belum terjangkau jaringan fiber optik. Menurutnya, dibandingkan membangun jaringan kabel, FWA dapat diimplementasikan lebih cepat dengan investasi yang relatif lebih efisien.
“Ini bisa menjadi salah satu sumber pendapatan baru bagi operator. Namun saya tidak melihat FWA sebagai satu-satunya penopang pengembalian investasi 5G,” kata Heru kepada Bisnis, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, operator juga perlu mengembangkan sumber monetisasi lain dari jaringan 5G, mulai dari layanan enterprise, sektor industri, Internet of Things (IoT), hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dengan demikian, pemanfaatan 5G tidak hanya bergantung pada layanan broadband rumah.
Heru menilai tantangan pengembangan FWA di Indonesia berasal dari kombinasi sejumlah faktor, tetapi yang paling mendasar adalah ketersediaan spektrum dan cakupan jaringan 5G yang masih terbatas. Tanpa spektrum yang memadai, kualitas layanan FWA akan sulit optimal.
Di sisi lain, pada wilayah yang telah dilayani jaringan fiber optik, FWA harus mampu menawarkan keunggulan yang jelas agar dapat bersaing. Sebaliknya, di daerah yang belum terjangkau fiber, FWA justru memiliki peluang pertumbuhan yang besar.
“Jadi keberhasilan FWA sangat bergantung pada strategi operator dalam memilih pasar yang tepat, didukung kebijakan spektrum yang memadai dari pemerintah,” katanya.