Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan work from home (WFH) yang kembali diterapkan oleh pemerintah dinilai tidak serta merta menjadi ancaman bagi emiten transportasi. Sebaliknya, perubahan pola mobilitas justru membuka peluang baru bagi emiten taksi milik keluarga Djokosoetono, PT Blue Bird Tbk. (BIRD) untuk menjaga kinerja tetap stabil.
Pemerintah melalui Kementerian PANRB resmi menerapkan pola kerja baru bagi aparatur sipil negara (ASN) dengan skema kombinasi work from office (WFO) dan WFO. Dalam beleid tersebut, pemerintah menetapkan pola kerja ASN selama lima hari kerja dengan komposisi empat hari bekerja dari kantor (Senin–Kamis) dan satu hari bekerja dari rumah pada Jumat.
Kebijakan ini juga dikaitkan dengan upaya penghematan energi dan pengurangan dampak lingkungan melalui pengurangan mobilitas pegawai serta optimalisasi kerja berbasis teknologi.
Direktur Utama BIRD Adrianto Djokosoetono menilai pengurangan mobilitas harian akibat WFH memang berdampak pada perjalanan rutin, terutama di jam sibuk. Namun, kebutuhan transportasi tidak hilang melainkan bergeser dan menjadi lebih tersebar di berbagai waktu.
Kondisi ini dinilai menciptakan pola permintaan yang lebih dinamis. Perjalanan tidak lagi terpusat pada jam berangkat dan pulang kantor, melainkan menyebar ke jam-jam nonsibuk, termasuk untuk kebutuhan rekreasi, bisnis fleksibel, hingga aktivitas harian lainnya.
“Kebijakan ini lebih mendorong perubahan pola mobilitas, bukan menghilangkan kebutuhan perjalanan. Perjalanan kerja mungkin berkurang di hari tertentu, namun kebutuhan mobilitas jadi terdistribusi di luar jam sibuk,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Pemerintah saat ini juga tengah mendorong perubahan perilaku masyarakat, termasuk pejabat dalam penggunaan transportasi publik sebagai respons terhadap ancaman krisis energi global akibat gejolak geopolitik. Berdasarkan data Tradingview pada Senin (13/4/2026), harga minyak mentah jenis Brent melonjak 6,95% ke level US$101,82 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 8,17% ke level US$104,46 per barel.
Dorongan pemerintah terhadap penggunaan transportasi publik menjadi katalis positif bagi BIRD. Dengan portofolio layanan yang beragam, mulai dari taksi, shuttle, hingga rental, perusahaan dinilai cukup tangguh dalam menangkap perubahan tren tersebut.
Dalam merespons dinamika WFH dan ketidakpastian global, BIRD juga mengedepankan strategi adaptif untuk menjaga efisiensi dan keberlanjutan bisnis.
Salah satu langkah kunci adalah diversifikasi sumber energi armada. Perseroan mulai mengembangkan penggunaan bahan bakar alternatif seperti Compressed Natural Gas atau CNG serta memperluas armada kendaraan listrik secara bertahap.
Langkah ini tidak hanya bertujuan menekan biaya operasional, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada satu jenis energi, terutama di tengah fluktuasi harga energi akibat kondisi geopolitik global.
Selain itu, BIRD juga mengoptimalkan pengelolaan armada dengan pendekatan berbasis data. Penyesuaian kapasitas dan distribusi kendaraan dilakukan secara lebih presisi sesuai dengan pola permintaan di masing-masing wilayah.
Didukung sistem monitoring terintegrasi, perusahaan dapat memastikan ketersediaan layanan tetap optimal tanpa mengorbankan efisiensi.
Pengembangan kendaraan listrik menjadi bagian penting dalam strategi jangka panjang BIRD. Namun, implementasinya dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan ekosistem serta kebutuhan di tiap daerah operasional.
Pendekatan ini dinilai penting agar perusahaan tetap mampu menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya, kualitas layanan, dan keberlanjutan bisnis.
Sepanjang 2025, Blue Bird mencatatkan penambahan sedikitnya 1.800 armada baru, yang kini membuat total armada perseroan mencapai lebih dari 26.000 unit termasuk armada kendaraan listrik. Khusus kendaraan listrik, Andre menyebut lebih dari 700 kendaraan listrik telah beroperasi di berbagai lini layanan Bluebird Group, mulai dari taksi reguler, rental mobil, hingga bus listrik.
Ekspansi jaringan operasional juga dilakukan perseroan melalui peningkatan jumlah pool menjadi 58 lokasi dan perluasan pangkalan yang kini mencapai sedikitnya 1.300 titik di berbagai kota di Indonesia.
Berdasarkan laporan keuangannya, BIRD membukukan pendapatan neto sebesar Rp5,7 triliun sepanjang 2025. Pendapatan ini naik 13,20% secara tahunan dari Rp5,03 triliun pada 2024.
Pendapatan ini diperoleh dari pendapatan taksi sebesar Rp3,99 triliun, dan pendapatan non taksi sebesar Rp1,71 triliun pada tahun 2025. Setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, laba bersih BIRD pun meningkat 8,65% secara tahunan menjadi Rp635,8 miliar. Sebelumnya, pada 2024, BIRD mencetak laba bersih sebesar Rp585,19 miliar.
Kinerja solid Blue Bird pada 2025 tersebut diklaim tidak lepas dari upaya investasi berkelanjutan yang telah dilakukan perseroan sepanjang tahun lalu. Beberapa strategi seperti penambahan armada hingga optimalisasi aplikasi, dinilai telah menjadi mesin pendorong kinerja solid perseroan tahun lalu.
Dampak Ganda
Head of Online Trading BCA Sekuritas, Achmad Yaki menilai kebijakan kerja fleksibel atau work from home (WFH) yang kembali digaungkan akan membawa dampak beragam bagi emiten transportasi, bagi BIRD. Di tengah dorongan penggunaan transportasi publik seperti MRT, LRT, dan Transjakarta, prospek kinerja perseroan dipandang berada di persimpangan antara tekanan dan peluang baru.
“Pengurangan mobilitas dan dorongan penggunaan transportasi publik [seperti MRT/LRT/Trans Jakarta] berpotensi punya dampak ganda bagi emiten transportasi konvensional seperti BIRD,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa di satu sisi pengurangan mobilitas masyarakat berpotensi menekan permintaan taksi konvensional. Hal ini menjadi perhatian mengingat kontribusi pendapatan dari segmen taksi masih mendominasi BIRD hingga sekitar 70% pada 2025, sementara non taksi menyumbang 30%.
Meski demikian, di balik tekanan tersebut tersimpan peluang. Peralihan masyarakat ke transportasi publik justru membuka ruang bagi BIRD untuk memperkuat peran sebagai penghubung first mile dan last mile. Integrasi layanan taksi dengan moda transportasi massal seperti KRL, MRT, dan busway dinilai dapat menciptakan sumber permintaan baru.
Apalagi, BIRD saat ini telah memperkuat kapasitas armadanya dengan lebih dari 26.000 unit, termasuk penambahan kendaraan listrik (EV). Ekspansi ini juga difokuskan untuk memperluas layanan di luar wilayah Jabodetabek, seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas di kota-kota besar lainnya.
Selain itu, inovasi digital melalui aplikasi My Blue Bird juga menjadi kunci. Kolaborasi dengan layanan transportasi lain, termasuk taksi online maupun pemain sejenis, dinilai berpotensi membuka sumber pendapatan baru di tengah perubahan pola mobilitas masyarakat.
Dengan berbagai dinamika tersebut, BCA Sekuritas merekomendasikan accumulative buy untuk saham BIRD dengan target harga di level Rp1.840 per saham.
Senada, Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji mengatakan di balik penurunan mobilitas, muncul peluang baru bagi transportasi massal seperti Mass Rapid Transit Jakarta (MRT), LRT, dan layanan bus perkotaan. Moda ini dinilai semakin relevan sebagai tulang punggung mobilitas masyarakat yang kini lebih selektif dan efisien dalam bepergian.
Dengan berkurangnya aktivitas harian ke kantor, masyarakat cenderung memilih moda transportasi yang lebih terintegrasi dan hemat biaya.
Di sisi lain, tekanan biaya energi seperti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut mendorong perubahan preferensi masyarakat terhadap kendaraan. Kondisi ini mempercepat peralihan ke kendaraan yang lebih efisien, termasuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Transformasi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pelaku industri transportasi. Operator seperti BIRD didorong untuk melakukan konversi armada secara selektif menuju kendaraan listrik guna menekan biaya operasional dalam jangka panjang sekaligus meningkatkan daya saing layanan.
Selain itu, pengembangan ekosistem pendukung seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi EV di Indonesia. Integrasi antara transportasi publik, kendaraan listrik, dan infrastruktur pendukung diyakini akan membentuk ekosistem transportasi yang lebih berkelanjutan.
Digitalisasi juga menjadi pilar utama. Layanan berbasis aplikasi, pemantauan waktu tempuh hingga integrasi antarmoda menjadi nilai tambah yang semakin dibutuhkan pengguna. Pelaku industri yang mampu mengoptimalkan layanan digital diperkirakan akan memiliki keunggulan kompetitif di tengah perubahan ini.
Namun demikian, dia masih merekomendasikan saham BIRD dengan wait and see.
| Kinerja Bluebird |
|---|
| 2024 | 2025 | Pertumbuhan (Tahunan |
|---|
| Pendapatan | Rp5,03 triliun | Rp5,7 triliun | 13,20% |
| Laba | Rp585,19 miliar | Rp635,8 miliar | 8,65% |
Sumber: Laporan Keuangan BEI per 31 Desember 2025