Bisnis.com, JAKARTA — Banyak orang di negara tropis seperti Indonesia terbiasa menghindari pakaian berwarna gelap saat cuaca panas karena dianggap lebih cepat bikin gerah.
Anggapan itu memang tidak sepenuhnya salah karena secara ilmiah warna pakaian memengaruhi penyerapan panas dari sinar matahari.
Pakaian berwarna terang cenderung memantulkan lebih banyak cahaya, sedangkan warna gelap seperti hitam menyerap energi panas lebih besar.
Sejumlah referensi tekstil yang dirangkum Erverte Paris menyebut pakaian hitam bisa menyerap hingga 90 % sinar matahari.
Sementara pakaian putih umumnya hanya menyerap sekitar 10% hingga 20 % panas dari paparan cahaya matahari.
Dalam beberapa pengujian tekstil, suhu permukaan kaus hitam tercatat bisa 5 hingga 10 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan kaus putih di bawah kondisi matahari yang sama.
Eksperimen lapangan yang dilakukan National Weather Service (NWS) Kansas City pada 2023 juga menemukan kaus hitam dan marun memiliki suhu permukaan lebih dari 65 derajat Celsius saat dijemur di bawah sinar matahari langsung.
Namun, permukaan kain yang lebih panas ternyata tidak selalu membuat tubuh otomatis merasa lebih gerah.
Riset Ungkap Baju Hitam Tetap Sejuk
Penelitian dari Program Fisika Universitas Pendidikan Indonesia pada 2024 menunjukkan panas yang diserap kain gelap tidak seluruhnya berpindah langsung ke kulit.
Fenomena itu sebenarnya sudah lama diteliti, termasuk lewat eksperimen klasik yang dimuat jurnal Nature pada 1980.
Penelitian tersebut mencoba menjawab alasan mengapa suku Bedouin di gurun tetap mengenakan jubah hitam di tengah suhu ekstrem.
Dalam eksperimen itu, seorang relawan bergantian memakai jubah hitam, jubah putih, seragam militer, dan pakaian minimal di gurun Negev dengan suhu mencapai 46 derajat Celsius.
Hasilnya menunjukkan jumlah panas yang diterima tubuh ternyata relatif sama, terlepas dari warna pakaian yang digunakan.
Peneliti menjelaskan bahwa panas tambahan pada pakaian hitam tidak sepenuhnya mencapai tubuh karena adanya sirkulasi udara di dalam pakaian longgar.
Pergerakan udara tersebut menciptakan efek pendinginan alami yang membantu mengurangi rasa panas pada tubuh.
Karena itu, banyak peneliti menyebut potongan dan desain pakaian justru punya pengaruh besar terhadap kenyamanan saat cuaca panas.
Pakaian Longgar Lebih Sejuk
Ulasan ilmiah yang dipublikasikan HowStuffWorks menyebut pakaian longgar dengan ventilasi baik lebih efektif membantu tubuh melepas panas dibanding sekadar memilih warna terang.
Studi dalam jurnal Case Studies in Thermal Engineering pada 2023 juga menemukan efek warna pakaian sangat bergantung pada kondisi lingkungan, bahan kain, dan desain pakaian itu sendiri.
Artinya, pakaian gelap yang longgar dan punya sirkulasi udara baik masih bisa terasa nyaman dipakai di cuaca panas.
Sebaliknya, pakaian terang yang terlalu ketat dan sulit menyerap keringat justru bisa membuat tubuh lebih cepat gerah.
Selain warna, faktor seperti bahan kain, ketebalan pakaian, dan kemampuan menyerap keringat juga ikut menentukan seberapa nyaman pakaian digunakan saat suhu udara sedang tinggi.